Khilafah ; Ancaman atau Solusi Persoalan?

Khilafah ; Ancaman atau Solusi Persoalan?

Oleh : Wardah Abeedah

Narasi “Khilafah Ancaman” makin massif dipenetrasikan di tengah-tengah umat. Di negeri-negeri muslim termasuk Indonesia, berbagai seminar dan diskusi ilmiah membahas bahaya khilafah massif digelar. Bahkan peristiwa politik di negeriini sering dikaitkan dengan narasi“Khilafah Ancaman”. Respon umat beragam. Sebagian mengamini narasi ini, namun mayoritas mereka tak sepakat dengan opini tersebut.

Sebagai muslim, merupakan bagian dari kewajiban untuk menilai berbagai fakta termasuk berbagai narasi dengan kacamata Islam. Pun menjadi wajib melakukan tabayun terhadap informasi yang disampaikan kaum fasik sebagaimana perintah Allah dalam surat Al Hujurat ayat 6 .Imam ath-Thabari memaknai kata tabayyun dengan menyatakan, “Endapkanlah dulu sampai kalian mengetahui kebenarannya. Jangan terburu-buru menerimanya.” (Ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabarî, 22/268)Dalam mentabayyuni apa yang ada dibalik narasi politik dibutuhkan berfikir politis. Yakni dengan mengkaitkan fakta yang ada dengan informasi-informasi poltiik. Kewajiban berikutnya, adalah menjelaskan ke tengah-tengah umat hakikat narasi tersebut dan mengapa iadimunculkan di tengah umat. Maka narasi”Khilafah Ancaman” menarik untuk kita teliti dan bedah, benarkah khilafah ancaman yang berbahaya bagi Indonesia?

  1. Jika meneliti nash dengan hati yang lurus, pasti akan kita temui bahwa khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Ketika kita mentadaburi Alquran melalui tafsir, akan kita temui banyak nash yang menyebutkan soal kepemimpinan Islam, serta kebutuhan eksistensinya demi menerapkan hukum Allah. Meski tak ada kata “khilafah”dalam Alquran, kata yang seakar dan membahas ajaran khilafah begitu banyak disebutkan dalam Alquran.Bisa kita cek dalam tafsir surah An-Nur ayat 55, Al baqarah ayat 30, dan lainnya.

Ketika mempelajari As-Sunnah ataupun sirah nabawiyah, bentangan af’al dan aqwal Rasulullah menunjukkan aktivitas kenegaraan. Kemudian penerus tampuk kekuasaan Islam disebut oleh Rasul sebagai khalifah. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Ahmad,beliau SAW juga menyebut kepemimpinan Islam dengan khilafah. Dalam khazanah fiqh akan kita temui fiqh yang membahas kenegaraan sebagaimana kitab Al Ahkam As- Sulthanyah-nya Imam Mawardi. Meski ulama terkadang menyebut kepemimpinan Islam ini dengan imamah, imarah, dan as-sulthaniyah, ini justru menegaskan bahwa konsepkhilafah memang berasal dari Islam.

Sementara aqidah Islam menuntut kita meyakini dan membenarkan kesempurnaan Islam yang Allah terangkan dalam Al Maidah ayat 3. Islam adalah satu-satunya dien yang benar, dan selainnya tertolak (Ali Imran 85) . Islam dengan syariat dan ajarannya yang sempurna akan mendatangkan keselamatan dan rahmat bagi seluruh alam. Maka, adalah mustahil jika ada ajaran Islam yang akan membahayakan dan membawa mafsadat bagi manusia. Mustahil khilafah yang merupakan bagian dari ajaran Islam menjadi ancaman yang berbahaya di Indonesia atau di negara manapun di bumi Allah ini.

  • Berbagai nash baik itu Alquran ataupun As-Sunnah menunjukkan bahwa khilafah adalah janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah Saw. Allah Swt berfirman,


وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (النور: 55)

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Al Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsirnya [8]menyatakan:

هذا وعد من الله لرسوله صلى الله عليه وسلم . بأنه سيجعل أمته خلفاء الأرض، أي: أئمةَ الناس والولاةَ عليهم، وبهم تصلح البلاد، وتخضع لهم العباد،…

“Ini adalah janji dari Allah swt kepada Rasulullah saw, bahwasanya Dia akan menjadikan umatnya (umat nabi Muhammad saw) sebagai khulafa` al-ardl, yakni: pemimpin-pemimpin manusia dan penguasa atas mereka; dan dengan mereka negeri-negeri diperbaiki dan seluruh manusia tunduk kepada mereka, …

Dalam beberapa hadits,Rasulullah memberikan kabar tentang kemunculan khilafah sepeninggal beliau. Beliau Saw bersabda,

تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ ا للهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ اَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَّرِيًّا ، فَتَكُوْنَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ

“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).

Dari nash-nash yang mengabarkan kemunculan khilafah di atas, Allah dan rasulNya menjanjikan keberadaan khilafah sebagai pembawa kebaikan, keamanan, dan peneguhan terhadap dien Islam yang mulia. Sebaliknya, Rasulullah menyebutkan fase selain khilafah dengan kekuasaan yang bururk ; menggigit dan diktator. Ini menunjukkan kebaikan khilafah dan keburukan kepemimpinan selainnya.

  • Denganbersandar pada nash, para ulama mu’tabar berpendapat bahwa khilafah atau imamah wajib ditegakkan. Syeikh Abdurrahman al-Jaziri (w. 1360 H) menuturkan,

“Para imam mazhab (yang empat) telah bersepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah wajib…” [Lihat, Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala al-Madzâhib al-Arba’ah, Juz V/416].

Ketetapan Allah adalah yang terbaik. Jika Allah menetapkan suatu kewajiban, memeritahkan pelaksananya dengan tegas, pasti ada kebaikan didalamnya. Tak layak bagi mukmin berpaling darinya, apalagi meragukan kebaikan di dalamnya. Sebaliknya, jika Allah mengaharamkan sesuatu,maka pasti ada keburukan dan mafsadat didalamnya.

  • Dengan mengkaitkan narasi “Khilafah Ancaman” dengan fakta dan informasi politik, bisa kita temukan Indonesia memang sedang diliputi krisis mudlti dimensi. Hutang luar negeri yang mencapai lima ribuan triliun, karut marut pesta demokrasi mulai indikasi kuat kecurangan hingga tewasnya ratusan petugas KPPS, ancaman disintegrasi Papua, hingga persoalaan degradasi ahlak seperti maraknya LGBTQ, tewasnya 50 rakyat Indoensia setiap hari akbat narkoba, dll.

Pertanyaan besarnya, apakah semua problem tersebut terjadi akibat kita menerapkan syariat Islam di Indonesia? Apakah semua ini terjadi karena negara kita menerapkan sistem pemerintahan khilafah? Jawabannya jelas tidak. Saat ini, negeri kita ,menerapkan sistem pemerintahan demokrasi dan sistem hidup kapitalisme sekuler. Maka narasi khilafah berbahaya jelas tertolak karena fakta khilafah saat ini belumlah ada.

  • Secara hitoris, berderet catatan sejarah menuliskan kegemilangan masa khilafah yang pertama. Dimana selama kurang lebih 13 abad eksis dengan kekuasaan yang membentang dari Maroko hingga Merauke, seluas dua pertiga dunia.Di bidang politik, kehebatan khilafah berkontribusi bagi nusantara. Kesultanan Aceh yang sedang berperang melawan Portugis, misalnya, dibantu oleh Khilafah Islam dengan bantuan pasukan. Pasukan Khilafah Turki Utsmani tiba di Aceh (1566-1577) –termasuk para ahli senjata api, penembak, dan para teknisi- untuk mengamankan wilayah Syamatiirah (Sumatra) dari Portugis. Dengan bantuan ini Aceh menyerang Portugis di Malaka.

Di bidang sosial sejarah menuliskan pada masa Khalifah Umar Ibn Al Khattab, beliau membangun Dar Ad Daqiq (gudang tepung) di  berbagai kota dan rute perjalanan yang biasa ditempuh musafir, penuntut ilmu dan para saudagar. Siapa saja diantara mereka yang kehabisan bekal dalam perjalanannya, boleh mengambil bagiannya dari lumbung tersebut tanpa dipungut biaya.

Islam adalah agama yang sangat memuliakan ilmu. Maka dalam sejarah khilafah, disebutkan bahwa para khalifah  memberikan penghargaan sangat besar  terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya. Bahkan pada masa itu, universitas besar dibangun dan digratiskan bagi semua rakyat. Sebagian bahkan masih mencetak para ulama hingga kini. Perhatian khalifah terhadap pendidikan berefek pada majunya sains dan teknologi pada masa itu. Alkhawarizmi,Ibnu Sina, Aljazari adalah berderet nama ilmuwan yang penemuannya berkontribusi bagi kemajuan dunia hingga kini.

Jikapun ada beberapa problem yang terjadi di masa khilafah, porsinya terlalu kecil dibanding fakta kehebatannya untuk disebut negara gagal dan berbahaya. Terlebih keburukan yang terjadi tak disebabkan buruknya syariat Islam ataupun sistem politik khilafah. Hal itu terjadi akibat cacatnya penerapan syariah oleh oknum pemerintah kekhilafahan. Karena manusianya, bukan buruknya sistem buatan Allah.

Apakah sejarah mulianya peradaban Islam yang dicatat muslim maupun non muslim mengindikasikan bahaya khilafah?  JIka kita komparasikan dengan paradaban kapitalis hari ini, tentu perbandingannya bagaikan langit dan bumi. Kemajuan dan kesejahteraan negeri kapitalis, tak lepas dari sebab penjajahan ekonomi dan politik di negara-negara berkembang termasuk negeri-negeri muslim seperti Indonesia. Kekacauan di sebagian besar negara berkembang dan keterpurukan serta pembantaian neger-neeri muslim  justru muncul akibat penerapan Ideologi kapitalisme.  Sebuah system hidup impor dari Barat yang dipaksakan berkuasa demi mengeruk sumber daya alam dan semua potensi kita. Sistem hidup yang jauh dari wahyu inilah biang berbagai mafsadat dan krisis multidimensidi dunia. Benarlah firman Allah dalam surat Thaha ayat 124,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”

Mentadabburi wahyu, mendetili fakta, dan membaca sejarah membuka akal dan hati kita untuk menolak narasi “Khilafah Ancaman yang Berbahaya”. Khilafah adalah jalan bagi Islam berkuasa dan tegak dengan sempurna. Khilafah adalah kewajiban, janji Allah, dan kebutuhan manusia. Sebaliknya, demokrasi adalah jalanbagi sistem hidup kapitalisme penjajah berkuasa.

Sebagai muslim, Sang pembuat syariat memerintahkan kita takbungkam terhadap fitnah yang menciderai kemuliaan Islam. Allah juga memerintahkan setiap muslim untuk menyeru (berdakwah) manusia kepada Islam agar rahmat Allah menyebar di muka bumi. Maka narasi “Khilafah Anacaman” harus kita lawan, sekaligus wajib bagikita menjelaskan kemuliaan Islam dan ajarannya termasuk khilafah, serta memperjuangkan tegaknya khilafah kedua yang dijanjikan Allah dan RasulNya. Allahu a’lam

Author Image
Suara Mubalighah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *