Oleh: Novita Aryani M. Noer (Direktur Ideology Battle Forum)
Gelombang kesadaran dan persetujuan umat terhadap syariah dan khilafah terus meningkat. Namun,anehnya ini malah menjadi masalah besar bahkan ancaman bagi rezim sekuler di negeri ini. Hal ini bisa muncul akibat ketidakpahaman, salah paham, atau berpaham salah terhadap Islam dan umatnya. Lebih dari itu adalah karena terseret propaganda jahat kafir Barat yang tak henti untuk membendung tegaknya khilafah.
Maka menjadi suatu hal yang penting bagi Barat–menggunakan tangan-tangan rezim berkuasa– untuk menjauhkan umat dari Islam yang sebenarnya (Islam kaffah). Barat menginginkan agar umat memahami Islam dengan metode berpikir Barat dan menjadikan tolak ukur, pemahaman, dan pemikiran kaum Muslim menyimpang, rancu, dan rusak. Karenanya, tak aneh jika perang melawan radikalisme yang menjadi agenda utama rezim Jokowi Jilid II, merupakan proyek sekularisasi serta liberalisasi ajaran Islam serta kian menguatkan bahwa rezim Islampbhobic radikal sekuler (anti Islam).
Proyek Barat
Barat dan rezim-rezim bonekanya di negeri-negeri Muslim -termasuk rezim negeri ini- berada dalam ketakutan luar biasa terhadap kembalinya Islam sebagai negara adidaya untuk kedua kalinya. Sebab, pasca runtuhnya Komunisme, satu-satunya ideologi yang menjadi ancaman paling menakutkan bagi Dunia Barat adalah Islam.
Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, pernah menyatakan ideologi Islam sebagai ‘ideologi setan’ (evil ideology). Dalam pidatonya pada Konferensi Kebijakan Nasional Partai Buruh Inggris, Blair menjelaskan ciri ideologi setan, yaitu menolak legitimasi Israel, memiliki pemikiran bahwa syariah adalah dasar hukum Islam, dan kaum Muslim harus menjadi satu kesatuan dalam naungan Khilafah serta tidak mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat.
Barat menciptakan berbagai pemikiran palsu dan memanipulasi wajah Islam dan pengemban dakwahnya sedemikian rupa sehingga terlihat hitam, kotor, dan jahat.
Dengan menggunakan corong penguasa dan lidah ulama-ulama ”penjilat”, lantas dimunculkanlah narasi tumpul radikalisme dan Islam “radikal”. Kemudian menunjuk berbagai gerakan Islam yang menuntut kembalinya sistem Islam-khilafah, yang memiliki landasan yang sahih dan terbukti mampu menyelesaikan berbagai macam masalah manusia berabad lamanya, difitnah sebagai kaum “radikal”, takfiri, sesat, dan pengadu domba. Meski rezim mengelak, di belakang narasi perang terhadap radikalisme tidak bisa dibantah bahwa yang dituju adalah Islam dan umatnya.
Liberalisasi Islam
Tidak hanya liberalisasi di sektor ekonomi, Barat pun melakukan liberalisasi agama. Islam hendak diliberalkan dalam seluruh aspek kehidupan. Baik dalam kepemilikan, keyakinan, berperilaku, dan pemikirannya. Liberalisasi terhadap agama (Islam) menjadi derivat dari proyek liberalisasi secara umum. Agama diprivatisasi dan aturannya direduksi sebatas nasihat dan ritual an sich.
Maka tidaklah mengherankan, bagaimana Menko Polhukam Mahfud MD menuding rumah Allah sebagai tempat adu domba. Sehingga meminta masjid-masjid milik pemerintah untuk menyiarkan pesan-pesan damai. Bukan ceramah-ceramah adu domba dan permusuhan. Tidak boleh bersifat takfiri, menganggap orang lain yang tidak sepakat sebagai musuh, adalah kafir.
Menurutnya pesan agama paling pokok itu adalah membangun kedamaian di hati, membangun persaudaraan sesama umat manusia. Ditambah pula apa yang dilontarkan oleh Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi yang menyebut ajaran Islam radikal sebagai Islam sesat.
Jika kita mau kritis melihat, sebenarnya apa yang dituduhkan rezim tersebut kepada Islam dan umat ini hanyalah upaya “lempar batu sembunyi tangan”. Artinya, tuduhan-tuduhan yang dilontarkan tersebut sejatinya lebih menggambarkan sifat rezim itu sendiri. Menunjuk hidungnya sendiri. Lisan mereka jauh dari menyejukkan umat di tengah kegalauan kebijakan yang gagal membuat rakyat dan negeri ini sejahtera.
Ini memperlihatkan sikap paranoid penguasa terhadap gerakan dakwah Islam dan para ulamanya yang lurus. Tujuannya adalah pengerdilan Islam, menghalangi dakwah Islam dan amar makruf nahi mungkar serta menghambat sikap kritis ulama terhadap rezim dengan segala kebijakannya yang telah menyengsarakan rakyat.
Lebih dari itu, keinginan untuk melenyapkan ‘klaim kebenaran’ yang dituding dapat memicu sikap radikal dan konflik horisontal. Karena konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama akan tersingkirkan jika tiap-tiap agama -yaitu Islam- tidak lagi menganggap bahwa agamanya yang paling benar. Penerapan syariat Islam akan dianggap intoleren dan mengekang kebebasan individu masyarakat dan akan merusak persaudaraan antar umat beragama.
Padahal faktanya, bukan Islam yang akan memecah belah bangsa ini. Namun, sistem hidup sekuler liberal yang diadopsi oleh negara inilah yang telah menjadi segala biang keruwetan yang tak berujung dan tengah membawa kehancuran bagi bangsa ini.
Sementara jargon-jargon ‘Islam agama damai dan sejuk’ sejatinya adalah pemikiran-pemikiran liberal berkedok Islam yang ditujukan untuk mematikan ruh jihad serta mengeliminasi istilah sakral kafir menjadi non-Muslim atau muwathinun (warga negara).
Begitu pula istilah Islam rahmatan lil ‘alamin yang ditafsirkan dengan makna menerima kebenaran segala keragaman agama, budaya, dan politik. Hasil dari liberalisasi Islam ini tumbuhnya paham pluralisme dan multikulturalisme. Padahal, keragaman agama bukan sebuah masalah bagi Islam. Namun, mencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran agama lain dengan dalih toleransi adalah sebuah kemungkaran.
Belum lagi apa yang dilontarkan oleh Menko Polhukam Mahfud MD di acara ILC tvOne (29/10/2019) yang berbicara tentang radikalisme. Namun, anehnya salah satu yang disasar dan dipersoalkan malah ajaran Islam tentang mendidik anak sejak dini agar paham batasan-batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Kemudian ditudinglah bahwa kelompok radikal telah menyebarkan virus-virus jahat kepada anak-anak sekolah sehingga perlu dilakukan deradikalisasi. Bagaimana bisa ajaran Islam yang mulia dikatakan virus-virus jahat?
Inilah yang diinginkan Barat. Umat Islam diasingkan dari agamanya. Dan memgambil cara hidup Barat yang liberal sebagai “kemajuan”, “modern”, dan “kekinian”. Sebaliknya, perilaku dan didikan islami yang merupakan bagian dari ajaran Islam seperti dalam berpakaian dan pergaulan justru dianggap kolot.
Liberalisme telah menjadikan Islam tidak lagi sakral sebagai agama. Kebenaran Islam menjadi relatif. Bahkan ayat-ayat al-Quran perlu digugat dan direvisi agar sejalan dengan keinginan hawa nafsu mereka. Hukum bisa berubah-ubah sesuai waktu dan tempat. Seolah-olah hukum Allah SWT yang diturunkan untuk manusia dapat ditinjau dengan dalih perubahan waktu dan tempat.
Hal ini sangat kontradiktif dengan karakter kesempurnaan syariat Islam. Sebab, al-Quran dan ajaran Islam itu Allah turunkan untuk mengatur kehidupan umat manusia sepanjang zaman, bersifat tetap dan final. Dalam arti tetap aktual dan relevan untuk setiap waktu dan tempat. Inilah yang diinginkan Barat. Agar umat Islam melikuidasi ajaran agamanya sendiri atau mengkompromikannya dengan ajaran dan pemikiran di luar Islam.
Islam Ideologi Istimewa
Liberalisme sampai kapanpun tidak akan dapat menyatu dan berkesesuaian dengan Islam. Islam adalah agama yang berbeda dengan agama-agama lainnya. Islam adalah agama terakhir dan penghapus agama samawi sebelumnya. Allah SWT. telah menjamin pemeliharaan Islam sebagaimana ia diturunkan sampai Hari Kiamat nanti.
Allah SWT. berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya”. (QS al- Hijr [15]: 9)
Keunikan lainnya, Islam adalah suatu ideologi yang menyeluruh dan sempurna. Ideologi Islam didasarkan pada akidah yang dibangun atas dasar akal yang kemudian melahirkan peraturan hidup yang menyeluruh untuk mengatasi segala problem kehidupan manusia sampai Hari Kiamat. Tidak ada kesan bahwa Islam itu lemah dalam memberikan penjelasan hukum syariat untuk problem apa pun yang akan dihadapi manusia.
Allah SWT. telah berfirman:
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
“Kami telah menurunkan kepadamu Al- Kitab (al-Quran) sebagai penjelas segala sesuatu”. (QS an-Nahl 16: 89)
Jelas, narasi radikalisme yang dilekatkan pada Islam dan gerakan-gerakan Islam, nyata adalah permusuhan terhadap Islam, yang atas izin Allah akan segera menuai kegagalannya.
Allah SWT. berfirman:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الإسْلامِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (٧) يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (٨)
“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedangkan dia diajak pada agama Islam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya”. (QS ash-Shaff [61]: 7-8). []