Istiqomah dalam Mengemban Dakwah

Istiqomah dalam Mengemban Dakwah

Assalamu’alaikum wr wb.

Pasca pelantikn kabinet yg  baru, isu radikalisme sangat gencar diopinikan kembali dan tudingan radikalisme selalu diarahkan kepada umat Islam yang menginginkan penerapan syariah kaffah. Hal ini memunculkan kekhawatiran pada umat islam khususnya bagi para mubaligh/mubalighah dalam menyampaikan ceramahnya karena dituding menyebarkan paham radikal padahal syariah islam kaffah harus disampaikan di tengah-tengah umat agar paham terhadap agamanya yang sempurna dan menjadikan Islam sebagai solusi terhadap berbagai persoalan kehidupan baik pribadi, keluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bagaimana sikap yang seharusnya diambil oleh para mubaligh/mubalighah dalam berceramah dalam situasi seperti saat ini ?

Dari ibu Ida di Jakarta

Waalaikum salam wr wb.

Terimakasih kepada ibu Ida di Jakarta yang telah mengirimkan pertanyaan kepada kami, semoga ibu Ida dan seluruh pembaca senantiasa diberi kesehatan, keberkahan, dan keteguhan Iman dan Islam. Aamiin.

Benar bahwa opini radikalisme terus digaungkan oleh pemerintah hari ini hingga pada tataran menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan pada sebagian umat Islam. Hal ini karena pernyataan tendensius yang melekatkan radikalisme pada islam dan kaum muslimin.

Radikalisme adalah narasi pesanan negara adi daya Amerika yang dikembangkan khususnya di negeri-negeri muslim untuk menghadang tegaknya Syariah Kaffah dalam institusi khilafah Islamiyah. Berbagai rekomendasi deradikalisasi telah diadopsi oleh hampir seluruh penguasa (pemerintah) negeri-negeri muslim termasuk Indonesia, hal ini bisa kita buktikan dengan adanya pelarangan mengajarkan Khilafah dan membubarkan organisasi yang menyerukan penegakan khilafah. Juga mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang secara tegas membodohi umat dengan mengatakan khilafah tidak ada dalam Al-Qur’an, khilafah membawa mudharat, dsb. Belum lagi ulama-ulama yang menyuarakan syariah Kaffah dan khilafah dipersekusi dan dipernjarakan. Ini semakin memperjelas bahwa isu radikalisme sejatinya hanya  satu tujuan yakni menghadang kebangkitan Islam dengan tegaknya syariah kaffah dalam bingkai khilafah islamiyah.

Oleh karena itu kaum muslimin terlebih lagi para mubaligh/mubalighah tidak boleh ciut nyalinya kemudian mundur teratur hanya karena ancaman radikalisme. Justru para mubaligh/mubalighah harus terus istiqomah dan semakin giat lagi mendakwahkan syariah kaffah dan khilafah ajaran Islam karena pada hakekatnya kita sedang melawan perang pemikiran (ghozwul fikri) yang dikobarkan oleh musuh-musuh Islam.

Para mubaligh/mubalighah adalah garda terdepan dalam perang pemikiran ini. Mereka adalah pelita-pelita umat yang harus menerangi umat dengan pemikiran Islam secara benar

Bu Ida rahimakumullah,

Rasulullah Muhammad SAW teladan kita telah mencontohkan bagaimana sikap teguh Beliau dalam menyampaikan risalah Islam di tengah ancaman rezim Quraisy pada saat itu.

Perjuangan Rasulullah dalam menyampaikan Islam adalah perjuangan yang berat dan luar biasa.  Lebih berat dari apa yang kita alami hari ini.  Pada waktu itu Rasulullah dihadapkan pada banyak tekanan dan ancaman ketika menyampaikan Risalah dari Allah SWT namun Beliau tidak membalasnya bahkan Beliau tetap istiqomah menjalani dakwah dan berhusnudzon bahwa mereka memusuhi karena belum paham terhadap risalah Islam yang dibawanya.

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari, ketika beliau ditawari oleh malaikat gunung ketika mendapatkan siksaan dari orang-orang Thaif “Jika engkau mau, aku akan menimpakan Akhsyabain (dua gunung di Makkah yang berhadapan) atas mereka”, Nabi SAWmenjawab, “Justru aku berharap Allah berkenan mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah Ta’ala semata dan tidak mempersekutukannya dengan sesuatu apapun.”  (Ar Rahiq Al Makhtum, hal. 134-136)

Nabi SAW tidak hanya mendapat celaan dan tudingan sebagai tukang sihir namun juga mendapat siksaan secara fisik bahkan ancaman pembunuhan namun Beliau tetap teguh dan istiqomah menjalani aktivitas dakwah menyampaikan risalah Islam.

Selain menimpakan siksaan fisik untuk membungkam dakwah Nabi SAW, kafir Quraisy juga menawarkan berbagai kenikmatan dunia berupa harta, tahta, dan wanita, namun semua tawaran itu ditolaknya dengan tegas.

Wallahi, Demi Allah. Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku menghentikan dakwah ini, niscaya aku tidak akan menghentikan dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa.”

Ibu Ida Rahimakumullah,

Dengan kondisi seperti ini, sesungguhnya kita tidak perlu takut atau khawatir untuk tetap istiomah dalam mendakwahkan syariah Islam kaffah karena apa yang kita hadapai hari ini belum seberapa dengan apa yang dihadapi Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Cukuplah Allah SWT menjadi penolong kita dan pasti kedudukan kita akan dinaikkan sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Muhammad ayat 7,

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُركُم وَيُثَبِّت أَقدَامَكُم

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Terakhir, ada salah satu pesan Rasulullah SAW yang harus selalu kita ingat :

‘Teruskanlah olehmu untuk selalu melakukan amar makruf nahi munkar hingga engkau akan menyaksikan kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, kehidupan dunia yang diutamakan, serta orang-orang yang terpesona terhadap berbagai pendapat yang dikeluarkannya. Hendaknya kamu hanya bergaul dengan orang-orang yang searah denganmu dan jauhilah orang-orang yang awam. Sebab setelah zamanmu itu akan datang suatu zaman penuh cobaan di mana orang yang memegang teguh agamanya ibarat menggenggam bara api. Ketahuilah, saat itu orang yang terus berusaha untuk memegangi agamanya maka pahalanya sama dengan 50 orang yang juga melakukan hal yang sama dari kalian’.” (Kemudian, Abdullah bin Mubarak berkata, “Orang selain Utbah menambahkan riwayat ini dengan redaksi: ‘Apakah yang 50 kali itu dari generasi kami kami atau generasi mereka?’ Rasulullah saw, ‘Untuk mereka’.”) [HR. Abu Dawud, Al-Malâhim, hadits no. 4319].

Author Image
Suara Mubalighah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *