Zubaidah Istri Khalifah yang Cerdas

Oleh: Nabila Asy Syafii

MUQADIMAH

Dalam sistem kapitalisme saat ini jarang kita jumpai istri pejabat yang mau mencurahkan tenaga pikiran untuk kebaikan umat Islam. Banyak diantara mereka yang bermanis muka dan seakan berpihak pada rakyat saat akan merayu rakyat agar memilih suaminya saat pemilu. Namun usai pemilu, dan dia berhasil menjadi ratu,  hati rakyat dibuat pilu, karena tak jarang kebijakan suaminya hanya berpihak pada kelompok dan kroninya, bagi -bagi jabatan dan kekayaan rakyat melalui proyek-proyek strategis adalah hal yang kasat mata di depan rakyat. Sementara rakyat tetap hidup dalam kesusahan yang tak berkesudahan. Sementara para istri pejabat hidup dalam glamour dan seakan terpisah dari umatnya.

Dalam tulisan kali ini, akan dikisahkan istri khalifah yang memiliki kepedulian tinggi dan kecerdasansosial terhadap urusan umat Islam. Dia adalah Zubaidah istri khalifah Harun AlAlrasyid .

MENGENAL SOSOK ZUBAIDAH

Nama lengkapnya adalah Zubaidah binti Ja’faral-Akbar bin Abi Ja’faral-Manshur, ia permaisuri dari Khalifah Dinasti Abbasiyah, Harun al-Rasyid.  Pernikahan Zubaidah dilangsungkan setelah Harun al-Rasyid  baru kembali bersama ayahnya, khalifah al-Mahdi dari medan perang setelah berhasil menaklukkan pasukan Romawi. Sehinga dua kegembiraan dan kebahagiaan dirasakan oleh mereka dan segenap rakyatnya , yakni kemenangan  menaklukkan Romawi dan pernikahan Harun al-Rasyid  dengan Zubaidah.

Dalam istana, atas inisiatif Zubaidah, para dayang istana melantunkan bacaan Al Quran dengan tartil, sehingga terdengar dari luar istana bak lebah mendengung, yang menjadikan  suasana istana dibuat untuk selalu mengingat Allah SWT.

Dari pernikahannya  terlahir putra yang diberi nama Muhammad Al Amin, yang kelak  menjadi  khalifah. Namun ketika terjadi suatu sengketa dan Al Amin terbunuh maka kekhilafahan beralih kepada Al Ma’munanak tiri Zubaidah.  Saat Zubaidah menemui Al Ma’mun maka ia mengatakan, “Aku ucapkan selamat atas jabatan khalifah ini di mana hati saya telah lebih dulu memberikan selamat atasnya sebelum aku melihatmu. Sekalipun aku telah kehilangan khalifah untuk selamanya (atas kematian putranya, red.), namun aku telah diberi ganti dengan anak yang bukan aku lahirkan sebagai khalifah. Tidak akan merugi orang yang memiliki orang sepertimu, dan tidak akan berat bagi seorang ibu yang mengulurkan tangannya kepadamu. Aku memohon kepada Allah pahala atas apa yang telah diambil-Nya, dan pelipur lara dengan apa yang digantikannya untukku.” Maka berkatalah al-Ma`mun, “Sungguh, kaum wanita tidak akan pernah lagi melahirkan wanita seperti ini. Dengan perkataannya ini, apa lagi yang masih tersisa bagi para ahli balaghah dari kalangan laki-laki?”

SUMBANGSIH ZUBAIDAH PADA RAKYATNYA

Sebagai istri khalifah, Zubaidah turut memikirkan kebutuhan yang diperlukan oleh rakyat, ia ikut andil dalam menyebarkan kebaikan dan memakmurkan negeri Islam. Ketika berangkat menunaikan ibadah haji ke Baitullah tahun 186 H dan mendapati betapa kesulitan dan kesukaran yang dialami penduduk Mekkah untuk mendapatkan air minum, ia memanggil bendaharanya dan memerintahkannya agar mengumpulkan para insinyur dan pekerja dari seluruh negeri. Zubaidah  menuturkan kepada bendahara , “Tolong dikejarkan, sekalipun satu pukulan kampak dihargai satu dinar!”

Mega proyek untuk  mempermudah para jemaah haji di abad-abad mendatang segera dilaksanakan. Penggalian seratus sumur di sepanjang jalur al-Kufahdi Irak selatan sampai ke Mina di Mekah.  Sungguh air adalah kebutuhan mendasar bagi para jemaah haji dan penduduk sekitar di daerah yang gersang itu. Dengan diwujudkannya  sumur – sumur ini, maka penduduk Mekkah dan jemaah haji yang melewati jalur dari Irak ke Mina  dapat memanfaatkan air sumur ini secara gratis. Setelah itu, sumur ini dikenal  dengan sumur Zabidah. Hingga kini sumur-sumur itu masih ada.

Huzaemah T. dalam bukunya “Konsep Wanita Menurut Quran, Sunnah, dan Fiqh,” mengatakan bahwa Pembuatan Mata Air Zubaidah dan sumur-sumur tersebut menelan biaya sebesar 1.500.000 dinar ( 1 dinar Syar’i setara dengan 4,25 gram emas murni). Oleh karena itu, Zubaidah merupakan sosiawan yang jarang ada tandingannya.” (Sumber. kabarmakkah.com).

Zabidah tak  hanya menginisiasi pembuatan mega proyek sumur ini. Ia juga  banyak membangun  masjid dan bangunan yang berguna bagi umat Islam yakni membangun rumah singgah di sepanjang jalan menuju Baghdad. Hal itu agar dapat membuat para musafir nyaman beristirahatgratis dan pelayanan yang baik dan tentunya sesuai dengan  syariat.Sungguh seorang ibu negara yang berfikir untuk kebaikan rakyatnya.

Zubaidah perempuan berparascantik, dikenal sebagai istri sholehah, juga memiliki kecerdasan yang tinggi. Ia sangat menggemari ilmu pengetahuan dan seni. Zubaidah adalah istri khalifah dengan banyak kelebihan, berwawasan luas, sikap bijaksana, dan berjiwa pemberani. Bakat seni juga dimiliki. Dia menulis banyak puisi yang diikutkan dalam pagelaran seni. Keunikan isi puisinya menahbiskannya sebagai salah satu patron seni di Irak. Selain itu Zubaidah juga melakukan regenerasi sangat besar pada bidang ilmu pengetahuan dan seni, tak tanggung-tanggung Zubaidah menawarkan hadiah sejumlah uang bagi para sastrawan, seniman dan ilmuwan dunia yang mau mengembangkan karyanya di Kota Baghdad

Sejarah mencatat sang khalifah terkadang berkonsultasi dengan sang istri dalam mengambil keputusan terkait pemerintahan. Sang istri yang cerdas dan bijaksana akan memberikan pertimbangan dengan cermat, hati-hati, agar setiap keputusan yang diambil benar dan tepat. tak heran beberapa keputusan sang Khalifah selalu ada andil sang Istri. Diketahui bahwa pertimbangkeputusan Zubaidah ini dinilai bijaksana dan tepat menurut Khalifah Harun Ar-Rasyid .Bahkan Sejarawan Ibnu Al-Jawzi mencatat, saat sang sultan berkutat dengan urusan ketentaraan, dia menyerahkan kekuasaan untuk membuat kebijakan pada Zubaidah secara penuh. (Sumber. samicherkaoui.blogspot.com)

KHATIMAH

Demikian sosok nyata seorang ibu negara, istri khalifah terlibat dalam pemeliharaan urusan umat. Zubaidah selalu berfikir untuk kebaikan umat, bukan hanya intuk dimasanya namun juga untuk generasi mendatanbnya, berapapun biaya yang ditanggung negara tidak menjadi soal jika memang pengeluaran itu untuk kemaslahatan  umat Islam dalam jangka waktu panjang.

Karena tugas penguasa muslim adalah mengurusi dan menjaga umat Islam dengan menerapkan Islam kaffah. Rakyat dilayani, kebutuhan mendasarnya , termasuk kebutuhan mendasar secara kolektif seperti, kesehatan, pendidikan, sarana-sarana umum lainnya akan dipenuhi secara gratis. Karena penguasa muslim dalam sistem kekhilafahanIslam adalah pelayan umat, bukan pedagang yang mengejar laba.

Khalifah akan mengelola kepemilikan umum kaum muslimin seperti pertambangan minyak, emas, nikel, tembaga, itanium, gas bumi,dsb, yang hasilnya dikembalikan kepada umat dalam bentuk pemenuhan kebutuhan umat secara gratis atau sangat murah. Karena khalifah saat dibaiat pada hakikatnya untuk menegakkan hukum-hukum Allah secara di muka bumi ini. Semoga  janji Allah SWT akan tegaknya khilafah Rasyidah yang membawa rahmat bagi seluruh alam segera terealisasi. Waallu’alambishawab. ( NAS)