Kehidupan yang Sempit Mengapa Terjadi ?

Kehidupan yang Sempit Mengapa Terjadi ?

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126)


” Dan barang siapa berpaling dari per ingatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. ( 124)
” Berkatalah ia, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? ( 125)
” Allah berfirman, “Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” ( 126)

MUQADIMAH

Dalam kehidupan yang diatur dengan sistem demokrasi kapitalisme saat ini. Rasanya kehidupan terasa sempit dan sulit. Kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, keamanan adalah sesuatu yang mahal, tak semua rakyat bisa menikmatinya dengan mudah.

Disisi lain, untuk melaksanakan dan mengajak pada kebenaran pun bukan perkara mudah. Tuduhan dan fitnah keji tak segan – segan di alamatkan padanya. Teroris, radikalis, fundamenlis dan sebutan lain menyakitkan hati. Hanya orang-orang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT saja yang kuat menahan hembusan panas fitnah -fitnah tersebut.

Juga kita saksikan saat ini, betapa banyak orang-orang yang secara kasat mata kehidupan materinya tercukupi bahkan dalam kemewahan, nama terkenal, kedudukan dan jabatannya terpandang di tengah-tengah masyarakat. Namun Tidak merasakan kebahagian, hidupnya penuh dengan kegelisahan dan kegalauan.

Kita perlu membaca, memahami, mentadaburi ayat – ayat Al Quran. Mungkin banyak yang salah dalam kehidupan manusia hari ini sehingga kehidupan ini serasa sempit dan sulit. Sehingga kita mau melakukan introspeksi diri, dan berusaha untuk berubah menjadi hamba Allah SWT yang selalu beriman dan bertaqwa.

PELAJARAN DARI TAFSIR ALQURAN SURAT AT THAHA AYAT 124 – 126.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا
وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126)

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan

{وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي}

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku. (QS.Thaha: 124)
Yaitu menentang perintah-Ku dan menentang apa yang Kuturunkan kepada rasul-rasul-Ku, lalu ia berpaling darinya dan melupakannya serta mengambil petunjuk dari selainnya.

{فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا}

maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (QS.Thaha: 124).
Yakni kehidupan yang sempit di dunia. Maka tiada ketenangan baginya dan dadanya tidak lapang, bahkan selalu sempit dan sesak karena kesesatannya; walaupun pada lahiriahnya ia hidup mewah dan memakai pakaian apa saja yang disukainya, memakan makanan apa saja yang disukainya, dan bertempat tinggal di rumah yang disukainya. Sekalipun hidup dengan semua kemewahan itu, pada hakikatnya hatinya tidak mempunyai keyakinan yang mantap dan tidak mempunyai pegangan petunjuk, bahkan hatinya selalu khawatir, bingung, dan ragu. Dia terus-menerus tenggelam di dalam keragu-raguannya. Hal inilah yang dimaksudkan dengan penghidupan yang sempit.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa sesungguhnya bila ada suatu kaum yang sesat, mereka berpaling dari kebenaran, padahal kehidupan mereka makmur dan mudah lagi bersikap sombong; maka itulah yang dinamakan kehidupan yang sempit. Dikatakan demikian karena mereka memandang bahwa tidaklah Allah menentang prinsip kehidupan mereka yang berburuk sangka kepada Allah dan mendustakan-Nya. Apabila seorang hamba mendustakan Allah dan berburuk sangka terhadap-Nya serta tidak percaya kepada-Nya, maka kehidupannya menjadi keras, dan kehidupan yang keras inilah yang dimaksud dengan kehidupan yang sempit dalam ayat ini.

Firman Allah Swt.:

{وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى}

dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS.Thaha: 124)

Menurut Mujahid, Abu Saleh, dan As-Saddi, makna yang dimaksud ialah bahwa orang yang bersangkutan tidak mempunyai alasan kelak di hari kiamat untuk membela dirinya. Ikrimah mengatakan bahwa orang kafir dibutakan matanya dari segala sesuatu, kecuali neraka Jahanam. Dapat pula ditakwilkan bahwa makna yang dimaksud ialah orang kafir dibangkitkan atau digiring ke neraka dalam keadaan buta penglihatan, juga buta hatinya. Seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

{وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى وُجُوهِهِمْ عُمْيًا وَبُكْمًا وَصُمًّا مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَاهُمْ سَعِيرًا}

Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. (QS.Al-Isra: 97), hingga akhir ayat.

Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

{رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا}

Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? (QS.Thaha: 125)

Yakni ketika di dunia ia melihat. Maka Allah menjawab melalui firman-Nya:

{قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى}

Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan. (QS.Thaha: 126)

Maksudnya, karena engkau berpaling dari ayat-ayat Allah dan kamu memperlakukannya seakan-akan kamu tidak mengingatnya, padahal sudah disampaikan kepadamu. Kamu pura-pura melupakannya, berpaling darinya, serta melalaikannya. Maka begitu pula pada hari ini, Kami memperlakukan kamu sebagaimana perlakuan orang yang melupakanmu.

Hal yang sama telah disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya yang mengatakan:

{فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا}

Maka pada hari (kiamat) ini Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini. (QS.Al-A’raf: 51)

Maka sesungguhnya pembalasan itu disesuaikan dengan jenis perbuatannya sebagai tindakan yang adil.

KESIMPULAN


Menurut Ibnu Katsir, QS At Thaha 124 masih ada kaitannya dengan ayat sebelumnya, QS At Thaha 123.

{قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى (123)

“Allah berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”

Allah SWT berfirman kepada Adam, Hawa dan Iblis : ” turunlah kamu semua dari syurga dalam keadaan sebagian menjadi musuh dari sebagian yang lain. Adam dan keturunannya menjadi musuh bagi Iblis dan keturunannya. Maka jika kelak di dunia datang kepada Kamu petunjuk yang dibawa oleh para Rasulullah dan Nabiyullah, hendaklah kamu ikuti petunjuk itu agar tidak sesat dan mendapatkan celaka.

Barang siapa yang berpaling dari petunjuk Allah SWT, mendurhakai perintah Nya, mengingkari dan menentang apa yang Allah SWT turunkan kepada Rasulullah, maka ia akan ditimpa yang sempit di dunia, jauh dari rasa tenang, dadanya sesak dan selalu gelisah, meski lahirnya nampak serba cukup bahkan mewah.

Kelak di akhirat ia akan dibangkitkan kembali dan dikumpulkan di Mahsar dalam keadaan buta.

Jika ia mengadu: ” Ya Tuhanku, mengapa Engkau membangkitkan aku dalam keadaan buta? Padahal dahulu aku bisa melihat. ” Tuhan akan menjawab: ” karena engkau telah berpaling dari petunjuk Ku, melanggar perintah Ku dan mengabaikan ayat- ayat Ku, serta lupa atau pura – pura lupa akan adanya hari kiamat ini. Maka engkau sekarang dilupakan sebagai pembalasan terhadap sikapmu itu.

KHATIMAH


Allah SWT telah memberikan petunjuk dan peringatan kepada umat manusia. Jikalau manusia mematuhi Allah SWT dengan beriman dan bertaqwa kepada Nya. Sungguh hidupnya akan dipenuhi keberkahan. Namun sebaliknya jika umat manusia menentang Allah, sombong dihadapan Allah SWT dengan mengingkari hukum-hukum Allah swt, sembari membuat hukum sendiri. Maka pasti kehidupan di dunia akan sempit dan sulit sebagaimana yang dirasakan umat saat ini akibat penguasa menerapkan hukum kufur buatan manusia. Sedang di akhirat akan mendapatkan balasan neraka.

Na’udzubillah min dzalika..




Author Image
Suara Mubalighah

1 thought on “Kehidupan yang Sempit Mengapa Terjadi ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *