Sayyidah Zainab Binti Muhammad Saw, Istri Sholihah Mencintai Suami Karena Allah Swt

Sayyidah Zainab Binti Muhammad Saw, Istri Sholihah Mencintai Suami Karena Allah Swt


Oleh : Nabila Asy Syafii


MUQADIMAH
Dalam asuhan seorang ayah terbaik, manusia sempurna Nabi Muhammad SAW dan ibu yang sholihah lembut , penuh kasih sayang. Maka putri ini ditempa menjadi perempuan yang berbudi pekerti luhur, kuat iman dan ketaqwaan yang tinggi. Bak taman bunga yang menebar harum semerbak dan keindahan yang tiada habis -habisnya. Tak hilang kesannya setiap kali membaca ulang kisah hidupnya, yang penuh inspirasi kebaikan bagi siapa saja yang mau menggalinya. Dialah Zainab binti Muhammad SAW.


MENGENAL SOSOK SAYYIDAH ZAINAB BINTI MUHAMMAD SAW
Zainab adalah putri pertama Rasulullah SAW, beliau dilahirkan saat Rasulullah SAW berusia sekitar 30an tahun dari Ibunda Khadijah binti Khawailid, Rasulullah SAW sangat mencintai dan menyayangi putrinya ini. Seorang putri yang cantik dalam didikan manusia terbaik, maka tumbuh menjadi gadis remaja yang baik, luhur budi, lemah lembut, dan selalu menjaga kehormatannya.

Sebelum Rasulullah diutus menjadi Rasul, Zainab menikah dengan sepupunya yang bernama Abu Al Ash bin Rabi’ bin ‘Abdul ‘Uzza bin Abdus Syam bin Abdul Manaf bin Quraisyi, ia seorang pemuda kaya, tampan-rupawan, pun status sosial yang tinggi sebagai bangsawan.

Abu al Ash mewarisi dari Quraisy kemahiran berdagang pada dua musim, yaitu musim dingin dan musim panas. Ekspidisi perdagangannya tidak pernah berhenti pulang dan pergi antara Mekah dan Syam. Kafilahnya berjumlah seratus ekor unta dan dua ratus personel. Masyarakat Mekkah bersyirkah kepada Abu Al Ash untuk mengelola harta mereka. Abu Al Ash telah membuktikan kepiawiannya dalam berbisnis perdagangan, dia selalu benar dan dapat dipercaya. Beginilah sosok suami Zainab binti Muhammad SAW.

Ketika Rasulullah Muhammad SAW diutus sebagai Nabi, dan menyeru kepada seluruh umat manusia untuk masuk kedalam Islam. Mulailah Rasulullah berdakwah kepada keluarganya, maka, wanita yang pertama-tama beriman, ialah istrinya, Khadijah binti Khuwailid, dan putri-putrinya: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah, sekalipun ketika itu Fathimah masih kecil.

Namun , menantunya, Abul Ash masih berpegang dengan agama nenek moyangnya dan enggan menganut agama istrinya, Zainab. Meski demikian, Abul Ash tetap mencintai istrinya. Cintanya kepada Zainab tetap tulus dan murni.

Rasulullah SAW tidak menceraikan mereka berdua di Makkah, sebab larangan muslimah menikah dengan kafir baru turun setelah hijrah ke Madinah. Dan setelah ayat larangan menikah dengan kafir. Maka Zainab menyusul ayahandanya ke Madinah dan berpisah dengan suaminya .

Zainab wafat pada tahun ke 8 hijriah. Rasulullah SAW sendiri yang turun ke liang kuburnya. Rasulullah SAW sangat sedih dan berduka dengan wafat putri sulungnya tersebut. Tak berapa lama suami Zainab, Abu Al Ash pun wafat, menyusul istri tercinta.

KECINTAAN KEPADA SUAMI TAK MENGALAHKAN CINTANYA PADA ALLAH

Ketika pertentangan antara Rasulullah dengan kaum kafir Quraisy semakin meningkat. Diantara orang-orang kafir itu saling menyalahkan, “Celaka kalian ..! sesungguhnya kalianlah yang membawa kesusahan. Kalian nikahkan putra-putri kalian dengan putri-putri Muhammad. Seandainya kalian kembalikan putri-putri Muhammad itu kepadanya, kita tidak akan memikirkannya lagi.

Jawab yang lain, “Itu suatu pemikiran yang bagus!” Lalu, mereka pergi menemui Abul Ash!

Kata mereka, “Hai Abul Ash, ceraikan isterimu! Kembalikan dia ke rumah bapaknya! Kami sanggup dan bersedia mengawinkanmu dengan siapa yang engkau sukai dari segudang wanita Quraisy yang cantik-cantik.”

Jawab Abul Ash, “Tidak! aku tidak akan menceraikannya. Aku tidak hendak menggantikannya dengan wanita mana pun di seluruh dunia ini.”

Dua orang putri Rasulullah, Ruqayah dan Ummu Kaltsum telah dicerai oleh suaminya dan diantar kembali ke rumah bapaknya. Rasulullah gembira menerima kedua putrinya itu. Namun Abu Al Ash bin Rabi’ tdk menceraikan Zainab. Rasulullah SAW pun tdk menceraikan karena, ketika itu hukum Islam belum mengharamkan perkawinan wanita mukminah dengan pria musyrik.

Ketika Perang Badar kaum Muslimin berhasil menundukkan kesombongan kemusyrikan, keangkuhan, keganasan, dan kekejaman kafir Quraish . Sungguh kaum Muslimin beroleh kemenangan besar. Dan
Mengantarkan kekalahan yang memalukan bagi kaum Quraisy. Di antara mereka ada yang terbunuh, ada yang tertawan, dan ada pula yang melarikan diri. Salah seorang yang menjadi tawanan adalah Abul Ash, suami Zainab binti Muhammad.

Rasulullah menetapkan, jika para tawanan perang ingin membebaskan dirinya , maka harus membayar tebusan, antara 1000 sampai dengan 4000 dirham, sesuai dengan kedudukan dan kekayaan tawanan itu dalam kaumnya. Maka, berdatanganlah para utusan Mekah ke Madinah membawa harta tebusan untuk membebaskan orang-orang yang ditawan.

Zainab binti Muhammad mengutus utusan yang membawa harta tebusan ke Madinah untuk membebaskan suaminya, Abu Al Ash. Dalam uang tebusan tersebut disertakan sebuah kalung milik Zainab, hadiah dari ibundanya, Khadijah binti Khuwailid, saat hari perkawinan Zainab dengan Abu Al Ash.

Ketika Rasulullah melihat kalung tersebut, sungguh Rasulullah sangat mengenalinya. Beliau nampak sedih, dengan kesedihan yang sangat mendalam, menyimpan rindu kepada putri yang disayanginya, Zainab, atau mungkin teringat dengan almarhumah istrinya, Khadijah binti Khuwailid yang sangat dicintainya.

Rasulullah SAW menoleh kepada para sahabat yang ada disekitarnya dan bersabda: ” jika kalian merasa harus melepaskan tahanan itu untuk Zainab dan mengembalikan harta tebusannya, maka lakukanlah !” Orang-orang menjawab : ” Baik Ya Rasulullah. “

Rasulullah SAW membebaskan Abu Al Ash dengan syarat agar mengirim Zainab ke Madinah. Setiba Abu Al Ash di Makkah, maka Abu Al Ash segera memenuhi janjinya mengirim Zainab kepada ayahandanya tercinta Rasulullah SAW.
Karenanya Rasulullah bersabda tentang Abu Al Ash ini , ” Dia berkata jujur kepadaku, dia berjanji dan dia menepati.

Meski Zainab juga sangat mencintai dan menyayangi suaminya, namun kecintaanya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW melebihi segalanya. Maka Zainab pun berangkat ke Madinah dan berpisah dengan suaminya yang masih dalam keadaan kafir.

Beberapa waktu sebelum menaklukan Makkah, ekspedisi dagang Abu Al Ash dan beberapa orang Quraish kembali dari Syam menuju Makkah dengan membawa harta perniagaan yang banyak, mereka bertemu dengan bala tentara Rasulullah SAW yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah dan mampu mengalahkan ekspedisi Abu Al Ash, merampas semua harta perniagaan dan menawan beberapa orang .Namun Abu Al Ash berhasil melarikan diri dan pergi menuju Madinah untuk menemui Zainab agar memberi perlindungan kepadanya.

Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. keluar hendak salat subuh, beliau berdiri di mihrab, dan takbir ihram. Jamaah pun takbir mengikuti beliau. Zainab berteriak dari shuffah (tempat para wanita). Katanya, “Hai, manusia! saya Zainab binti Muhammad! Abu Al ‘Ash minta perlindungan kepada saya. Karena itu, saya melindunginya!”

Setelah selesai salat, Rasulullah berkata kepada jamaah, “Adakah kalian mendengar apa yang aku dengar ?”

Jawab mereka, “Kami mendengarnya, ya Rasulullah!”

Kata Rasulullah, “Demi Allah yang jiwaku dalam genggaman-Nya! Saya tidak tahu apa-apa tentang hal ini, kecuali setelah mendengar teriakan Zainab.”

Kemudian Rasulullah pergi menemui Zainab. Katanya, “Hormatilah Abul Ash! Muliakanlah dia! Tetapi, ketahuilah, engkau tidak halal lagi baginya.”
Zainab berkata : ” Dia datang untuk mencari hartanya bendanya.”

Lalu, Rasulullah SAW memangil pasukan Zaid bin Haritsah yang menangkap unta-unta serta menahan orang-orang dari kafilah Abu Al Ash.

Rasulullah SAW bersabda: “ Lelaki ini ( Abu Al Ash) termasuk bagian dari kelompok kita, sebagaimana yang kalian tahu, kalian telah mengambil harta bendanya dan itu adalah anugerah Allah untuk kalian. Aku ingin kalian berbaik hati dengan mengembalikan harta tersebut kepadanya, namun jika kalian tidak bersedia maka itu adalah hak kalian.

mereka menjawab : “Kami kembalikan, ya Rasulullah!” . Kemudian pasukan Rasulullah tersebut mengembalikan harta benda Abu Al Ash.

Abu Al Ash kembali ke Makkah dan membagikan harta perniagaan kepada para pemiliknya. Setelah itu Abu Al Ash pergi ke Madinah dan masuk Islam, menemui Rasulullah. Maka Rasulullah mengembalikan Zainab kepadanya dengan mahar baru.

Dari pernikahan Zainab dengan Abu Al Ash terlahir ‘Ali bin Abu Al Ash dan Umamah bin Abu Al Ash. Bangunan rumah tangga yang kokoh berdasar keimanan, ketaqwaan dan cinta. Sungguh Allah SWT telah menganugerahi kebaikan kepada keluarga ini.

KHATIMAH

Cinta kepada suami atau istri bagian dari gharizah Nau’ (Naluri mempertahankan jenis) yang Allah anugerahkan kepada manusia. Dengan Allah hendak menjaga keberlangsungan manusia. Oleh karena itu Islam, agama yang diturunkan Allah kepada manusia mengatur pemenuhan naluri tersebut dengan benar, yakni dengan pernikahan. Namun ketika àda aturan Allah yang lain yang mengikat seorang muslim maupun muslimah maka wajib kira ornag yang beriman terikat dengannya.

Oleh karena itu, tatkala ada pengharaman seorang muslimah menikah dengan seorang kafir, maka wajib atas muslimah tunduk dan patuh dengan ikhlas akan hukum Allah tersebut. Karena Allah Yang Maha Mengetahui kebaikan untuk hambaNya.

Cinta, bukan alasan untuk melanggar hukum Allah SWT. Oleh karena itu sudah seharusnya seorang yang beriman selalu sami’na wa atha’na terhadap hukum -hukum Allah. Dengan begitu maka keselamatan, kebahagiaan dunia akhirat InsyaAllah akan diperolehnya.

Waallu’alam bishawab.

Author Image
Suara Mubalighah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *