Keutamaan Menyebarkan Salam Tidak Bisa Digantikan

Keutamaan Menyebarkan Salam Tidak Bisa Digantikan

Oleh: Arini Retnaningsih

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “لاَ تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلا تُؤْمِنُوا حَتىَّ تحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَئٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحاَبَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَم بَيْنَكُم” رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak disebut beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang apabila kalian melakukannya, kalian pasti saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” [HR. Muslim, no. 54]

Wacana untuk menggantikan salam “assalaamu’alaykum warahmatullahi wa barakaatuhu” dengan salam Pancasila beberapa waktu terakhir ini ramai diperbincangkan masyarakat.  Sekalipun kemudian diklarifikasi, bahwa yang diusulkan ketua BPIP bukan mengganti salam, namun menggunakan salam yang sesuai kesepakatan nasional, misalnya salam Pancasila di ruang publik, tak urung perdebatan seputar salam ini telanjur mengemuka.

Bagi umat Islam, salam adalah bagian penting dalam kehidupan beragama. Saat bertemu, bertamu, mengawali pembicaraan dan mengakhirinya, kita selalu mengucapkan salam.  Bahkan salam adalah bagian dari ibadah shalat, yaitu rukun terakhir sebelum tertib. Wajar jika usulan menggantikan salam mendapat penentangan keras dari umat.

Hadis riwayat Muslim di atas, menggambarkan kedudukan salam bagi kaum muslimin.  Salam di antara sesama muslim, dikatakan oleh Rasulullah saw akan menumbuhkan rasa cinta di antara mereka.  Betapa tidak, karena salam yang tulus berisi doa :”Semoga keselamatan tercurah atasmu, begitu juga rahmat dan keberkahan dari Allah”.  Orang yang diberi salam lantas menjawab juga dengan doa yang sama.  Saling mendoakan kebaikan.  Hal inilah yang menumbuhkan cinta. 

Dan cinta kepada sesama muslim, adalah yang menyempurnakan iman.  Tidak lengkap keimanan seorang muslim ketika dia membiarkan saudaranya berada dalam kesulitan, penderitaan, atau kondisi yang dia inginkan tidak menimpanya.

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan iman, adalah yang akan menghantarkan seseorang ke surga Allah.  Puncak kenikmatan yang kekal abadi.  Yang didambakan oleh setiap orang yang beriman.

Dengan demikian salam dalam Islam tidak akan bisa digantikan dengan ucapan yang lain.  Apalagi dengan salam Pancasila.  Tidak ada pahala dari mengucapkan salam Pancasila.  Tidak ada doa di dalamnya, karena salam Pancasila artinya selamat Pancasila.  Tidak pula akan menimbulkan rasa saling mencintai di antara sesama muslim, yang nantinya akan membentuk ukhuwwah Islamiyah sejati.

Karena itulah Rasulullah saw menjadikan salam sebagai salah satu ukuran baiknya keislaman seseorang. 

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَيُّ الإْسلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ “تُطْعم الطَّعَامَ، وَتَقْرأُ السَّلام عَلَىَ مَنْ عَرِفَتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ”. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ada seorang lelaki kepadanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam apakah yang paling baik itu?” Beliau menjawab, “Engkau memberikan makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang sudah dan belum engkau kenal.” (Muttafaqun ‘alaih).

Seorang muslim akan senantiasa berpegang pada aturan Allah.  Dia tidak akan meninggalkan ucapan salam yang disyariatkan hanya sekedar untuk dikatakan sebagai seorang yang toleran.  Toleran bukanlah meninggalkan ajaran agamanya untuk menghormati agama lain.  Toleran adalah ia menjalankan ajaran agamanya dan membiarkan orang lain menjalankan ajaran agamanya sendiri tanpa harus mencampuradukkannya. 

Orang-orang yang mengklaim diri sebagai yang paling toleran, lantas mencampakkan ajaran agamanya, bahkan menjadikan agamanya sebagai musuh, menempatkan ayat-ayat suci di bawah konstitusi, tidak lain adalah orang-orang yang terpedaya dunia.  Mereka telah tershibghah oleh pemikiran sekuler yang berusaha menyingkirkan agama dari kehidupan publik. Tidak rela diatur dengan aturan haq, yang ditetapkan oleh Sang Maha Kuasa menciptakan manusia.

Islam diturunkan Allah dengan aturan yang lengkap mengatur seluruh aspek kehidupan, privat ataupun publik, individual ataupun komunal, rumahtangga maupun negara. 

Firman Allah SWT :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan padamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam jadi agama bagimu.(QS. Al Maidah : 3)

Sudah selayaknya kita kembali pada ketentuan Allah, dan mencampakkan sekulerisme yang hanya akan menjauhkan kita dari rahmat Allah.

Author Image
Suara Mubalighah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *