Perempuan Muslimah Membutuhkan Khilafah Bukan Kesetaraan Gender

Perempuan Muslimah Membutuhkan Khilafah Bukan Kesetaraan Gender

Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam telah menggariskan posisi laki – laki dan perempuan sebagai sahabat dalam meraih ketaqwaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Tak ada perdebatan tentang peran dan kewajiban laki -laki dan perempuan disepanjang sejarah ketika peradaban dunia dibawah kendali Islam dan kaum muslimin ( dalam sistem khilafah) -+ 14 abad lamanya. Allah SWT dengan tegas memposisikan laki-laki dan perempuan sama dalam ketaatan dan berlomba dalam kebaikan. Sebagaimana firman Allah SWT : “Orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran” (QS. At-Taubah[9]: 71).

Ayat ini memuat spesifikasi Mukmin, baik laki-laki maupun perempuan dimana keduanya memiliki hubungan “kerjasama” dan juga mempertegas “kesamaan” status mereka sebagai bagian dari masyarakat, yaitu sama-sama berkewajiban melakukan amar makruf nahi munkar, yang termasuk dalam aktivitas politik yang mulia. Bahkan Kiprah politis perempuan dalam Islam sama dengan laki-laki kecuali dalam wilayah kekuasaan/pemerintahan yang mengatur urusan umat secara langsung, seperti menjadi penguasa atau kepala negara. Sebagaimana hadis Rasulullah ﷺ:

Tidak akan pernah menang suatu kaum yang menyerahkan urusan (kekuasaannya) kepada perempuan“. (HR. Bukhari).

Begitupun ketika Allah SWT bedakan peran laki-laki (kewajibanya sebagai kepala keluarga dan pemberi nafkah) dan perempuan(kewajibanya sebagai ummu wa rabbatul bait) , maka kaum muslimin menjalankannya dengan sukarela(ridlo). Keridloaan dan ketaatannya ini membawa keberkahan dalam kehidupan dirinya, keluarga dan negaranya. Terlahir generasi yang gemilang tersohor seantero dunia.

Namun sejak Kaum feminisme (terutama sejak dicanangkan BPFA +25 tahun lalu) tak kenal lelah menjajakan ide kesetaraan gender yang merupakan Racun berbalut Madu atas nama kebebasan dan kesetraan perempuan demi “ mengangkat derajat dan martabat perempuan “,justru kondisi kaum muslimin khususnya perempuan dan generasi di dunia Islam mengalami persoalan yang sangat komplek (kemiskinan, ketertindasan, penghinaan dan penganiayaan).

Masifnya program kesetaraan gender dan program unggulannya adalah pemberdayaan ekonomi perempuan harus dibayar mahal dengan kehancuran keluarga dan generasi muslim. Seorang perempuan muslimah sangat sulit untuk mendapatkan semuanya (karier, keluarga dan kebahagiaan dirinya sekaligus). Perempuan menjadi “tumbal” perekonomian kapitalisme global. Slogan bahwa “Perempuan Bisa Mendapatkan semuanya” yang di gencarkan oleh para feminis hanyalah Mitos, hal ini sudah dikritik oleh mereka sendiri sejak Juni 2014 oleh Seorang ahli strategi karier dan penulis “Megan Dalla-Camina” dalam bukunya Getting Real Abaout Having it All yang mengkisahkan tentang mimpi feminis perempuan yang memiliki karier bergengsi tinggi serta kehidupan rumah yang stabil dan sukses. Studi ini mensurvei 1.000 profesional perempuan AS tentang kesejahteraan mereka dan menemukan bahwa sebagian besar kurang puas dengan kehidupan mereka. Sebanyak 70% percaya bahwa konsep sukses di rumah dan di tempat kerja adalah MITOS. Sebanyak 40% menyatakan mereka berada diujung tanduk, dan hanya 16% yang merasa sangat puas dengan kehidupan mereka.

Jadi, ide kesetaraan gender adalah salah satu alat penyebaran kapitalisme di berbagai bidang ,sebagaimana telah dijelaskan kitab Mafahim Siyasiyah lil Hizbit Tahrir (Juni 2006 M) bahwa negara negara penjajah (dibawah pimpinan AS) di Dunia Islam, di Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Tengah, dan Asia Tenggara (termasuk Indoesia) disamping memaksakan dominasi politik, militer, dan ekonomi untuk mengeksploitasi manfaat-manfaat materialnya, juga berupaya untuk menyebarkan kapitalisme pada banyak bidang. Misalnya perhatian negara negara penjajah pada konferensi-konferensi seperti “konferensi emansipasi” dan “kesetaraan gender”.

Dan fakta dunia membuktikan bahwa hari ini manusia tak terkecuali perempuan masih bergelut dengan yang namanya kemiskinan. Hampir ½ dari penduduk dunia (3,4 miliar jiwa) berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar. Terdapat 821 juta orang yang kekurangan makan secara kronis di dunia. Satu dari sembilan orang di dunia menghadapi kelaparan – sebagian besar di Afrika. 40 juta orang Amerika, termasuk lebih dari 15 juta anak-anak, mengalami rawan pangan. 14 juta atau 20% dari penduduk Inggris, termasuk 4,5 juta anak-anak, hidup di bawah garis kemiskinan. Kekayaan 1% orang terkaya di dunia setara dengan total kekayaan 99% penduduk dunia sisanya. Sebanyak 26 orang terkaya memiliki aset sejumlah yang dimiliki oleh 3,8 juta penduduk dunia.

Dan inti persoalannya bukan karena “kesetaraan gender” bukan karena belum terwujudnya planet 50:50, namun akar penyebab kemiskinan dan kesenjangan kekayaan adalah SISTEM KAPITALISME yang dikendalikan oleh para kapitalis (pemilik modal)!

Maka, Satu-satunya sistem politik dan pemerintahan yang mampu menggantikan posisi kapitalisme di dunia ini adalah sistem Khilafah Islam. Khilafah bukan sistem baru yang masih coba-coba. Namun khilafah adalah sistem warisan Rasulullah SAW yang dilanjutkan oleh para khulafa’ur Rasyidin , para tabi’in berlanjut hingga masa kekhilafahan Utsmaniyah dan baru diruntuhkan tanggal 24 maret 1924  telah membuktikan kedigdayaan dan kejayaanya. Dan sistem khilafah telah terbukti sepanjang sejarah yang panjang (+_14 abad) secara gemilang mampu membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi dunia tanpa membedakan gender, ras, agama dan budaya. Dan perempuan sejahtera dan mulia tanpa beban menanggung perekonomian keluarga dan negara.

Kejayaan Islam dibawah Khilafah diakui oleh siapapun yang membaca sejarah dengan jujur. Diantaranya, Will Durant, dalam The Story of Civilization, vol. XIII, ia menulis: “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas, hingga berbagai ilmu, sastera, filsafat dan seni mengalami kemajuan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad”.

Khilafah adalah satu-satunya sistem Ilahi yang tercantum dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW yang pasti membawa keberkahan dunia dan akherat. Khilafah adalah syariah Allah SWT dan Rasulullah SAW yang mengatur seluruh aspek kehidupan ; hamluminnallah (hubungan manusia dengan al-Khaliq : aqidah, ibadah), hamlum-minnannas (Hubungan manusia dengan manusia lainnya : mu’amalah -(ipoleksosbudhankam) dan uqubat (sistem sanksi dan peradilan) dan hamlum minnanafsi (hubungan manusia dengan dirinya sendiri : makanan, minuman, pakaian dan akhlaq). Syariah Islam akan membawa rahmat bagi seluruh alam jika diterapkan secara kaffah. Sebagaimana firman Allah SWT :

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-anbiya : 107)

Khilafah adalah panggilan kewajiban dari Allah SWT dan Rasulullah SAW untuk diperjuangkan demi mewujudkan kesejahteraan manusia dan keberhakan hidup di dunia dan di akherat. Sebagaimana termaktum dalam Surat An Nur : 55 dan Hadits Rasulullah SAW : …kemudian akan tegak kembali khilafah ‘ala minhajji nubuwwah.. (HR. Imam Ahmad). siapapun baik laki-laki maupun perempuan yang memperjuangkanya berpahala dihadapan Allah SWT , sebagaimana firman Allah SWT , artinya : Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS. An Nahl : 97).

Secara tegas , perempuan muslimah bukan inginkan kesetaraan gender yang utopia, namun  inginkan khilafah sebagai bentuk ketaatan nya sebagai hamba Allah SWT dan keyakinannya akan janji Allah SWT dan Bisyaroh (kabar gembira) Rasulullah SAW yang akan membawa kebahagiaan hakiki bagi seorang muslim dan demi menggapai cita cita tertinggi seorang mukmin sejati yakni ridha Allah SWT untuk dapatkan surga-Nya. Sebagimana Firman Allah SWT, artinya :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” (QS. An Nisa : 124)

Wallahu’alam

Author Image
Suara Mubalighah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *