FATIMAH AZ ZAHRA BINTI MUHAMMAD SAW. PEMIMPIN PARA WANITA SURGA

FATIMAH AZ ZAHRA BINTI MUHAMMAD SAW. PEMIMPIN PARA WANITA SURGA

Oleh ; Nabila Asy Syafii

MUQADIMAH

Suaramubalighah.com, Inspirasi Muslimah – Wanita yang mulia ini bergelar Az Zahra, Cocok dengan parasnya yang cantik, dihiasai dengan akhlak mulia, penyayang, sopan santun, penuh kesabaran, dan kelembutan hati. Jiwa dermawan melekat dalam sanubarinya, kecintaan dan kesetiaan kepada keluarga dan suami membawa kehidupan rumah tangga penuh kebahagiaan dan kedamaian meski hidup dengan sangat sederhana .

Ia seorang wanita cerdas serta sosok yang sangat mencitai Allah dan Rasulullah SAW. Harum perjalanan hidupnya, patut dipetik ibrahnya khususnya oleh para istri dan para remaja putri. Dia adalah Sayyidah Fatimah Az Zahra bin Muhammad SAW.

MENGENAL SEKILAS SOSOK SAYYIDAH FATIMAH AZ ZAHRA

Fatimah adalah putri ke empat baginda Rasulullah Muhammad SAW dengan Khadijah bin Khawailid. Fatimah lahir di Ummul Qura (Makkah), 5 tahun sebelum, baginda Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul atau pada 20 Jumadil Akhir. Kelahiran Fatimah disambut bahagia oleh Rasulullah, keluarga, kerabat juga para sahabat.

Fatimah tumbuh dalam lingkungan yang baik, bersih, penuh kasih sayang dan perhatian keluarga. Ibundanya yakni Khadijah ra, menumpahkan kasih sayangnya, karena itu Fatimah tidak dicarikan ibu susuan seperti kebiasaan bangsa Arab saat itu, tapi disusui oleh ibunya sendiri

Fatimah tumbuh menjadi remaja putri terbaik, dalam asuhan ibu terbaik dan ayahnya adalah manusia terbaik. Keimanan dan ketaqwaan mengelilingi Fatimah, dalam dekapan keimanan inilah Fatimah tumbuh lebih dewasa dan berwibawa, tanpa kehilangan sifat malu, jiwanya tenang dan tegar.

Fatimah termasuk generasi awal yang menyambut sinar kebenaran Islam, bersama ibunda dan saudara-saudara Fatimah memeluk Islam, beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW.

Ketika Islam disambut hangat oleh orang-orang yang beriman, dan dakwah ditengah -tengah umat semakin gencar. Menjadikan kafir Quraish meradang, penyiksaan kepada kaum muslimin semakin keras, hingga akhirnya kaum kafir Quraish memboikot Nabi Muhammad saw dan pengikutnya. Tidak boleh berdagang, tidak boleh berinteraksi pun tidak boleh menikahkan.

Kondisi Nabi Muhammad SAW sekeluarga dan pengikutnya benar-benar memprihatinkan, kekurangan makan, minuman pun kebutuhan pokok lainnya. Selam 3 tahun, kaum muslimin merasakan pemboikotan tersebut. Hingga akhirnya Allah memberikan pertolongan kepada kaum muslimin dan terlepaslah mereka dari pemboikotan ini.

Belum pulih penderitaan akibat pemboikotan, Fatimah harus merasakan kesedihan, kali ini ibunda tercinta Khadijah kembali ke haribaan Allah SWT. Namun semua itu dihadapi dengan sabar seraya menghadap ridho Allah SWT.

Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah dan membangun Negara Islam di Madinah. Fatimah salah seorang muslimah yang turut berhijrah. Pada tahu ke 2 hijriah setelah perang Badar, Rasulullah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib.

Kehidupan rumah tangga Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah, sangat harmonis, penuh kedamaian dan kebahagiaan, sakinah, wa waddah wa rahmah, meski kehidupan mereka sangat sederhana. Kebahagiaan rumah tangga Fatimah dengan Ali semakin lengkap dengan lahirnya putra putri mereka, Hasan , husain, Zainab dan Ummu Kulsum. Sungguh kehidupan rumah tangga yang lengkap, Nabi Muhammad SAW juga sangat menyayangi cucu – cucunya.

Setiap yang berjiwa pasti menemui ajalnya, dan ketika tempo di dunia telah usai, maka Allah memanggil untuk menghadapnya. Pun Sayyidah Fatimah binti Muhammad SAW, beliau wafat, 6 bulan setelah Rasulullah SAW wafat. Pada hari selasa 3 Ramadhan tahun ke 11 Hijriah, Sayyidah Fatimah binti Muhammad SAW berpulang ke Rahmatullah dengan tenang.

Pijar cahaya ke elokan kisah Sayyidah Fatimah, takkan cukup untuk dituliskan pada media yang terbatas ini. Sungguh jejak hidupnya patut diambil ibrah oleh seluruh kaum muslimin khusus para muslimah.

PEMIMPIN PARA WANITA SYURGA

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda, “Wanita penghuni syurga yang paling utama ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Asiah binti Muzahim, isteri Firaun dan Maryam binti Imran”.   [Diriwayatkan Ahmad dan Al-Hakim]

Hadis lain yang berisi kabar gembira untuk Sayyidatina Fatimah sebagai penghuni syurga ialah hadis yang diriwayatkan oleh Hudzaifah, bahawa Rasulullah bersabda :

 “Malaikat turun kepadaku menyampaikan kabar gembira bahwa Fatimah binti Rasulullah adalah pemimpin para wanita penghuni syurga”.

Meski kabar gembira tentang syurga telah dipersiapkan oleh Allah SWT kepada Fatimah, Fatimah tak pernah lengah untuk senantiasa menjadikan dirinya sebagai muslimah yang sholihah, yang senantiasa taat dan patuh kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, juga berbakti kepada suaminya.

Fatimah, sejak hari pertama perkahwinannya dengan Ali, beliau mengerjakan seluruh tugas rumah tangga sendiri, tanpa pembantu, mulai dari menggiling bahan makanan, hingga membuat adunan roti, semua dikerjakan sendiri, hingga rambutnya terkena percikan-percikan tepung atau terkadang terkena debu. Ini terjadi kerana suaminya tidak mampu mengupah pembantu untuk membantu Fatimah dalam menyelesaikan urusan rumahtangganya. Dengan ikhlas Fatimah mengerjakan semuanya. Hingga halus tangannya menjadi kasar, karena seringnya menggiling bahan makanan.

Karena beratnya pekerjaan rumah tangga, pernah suatu hari Ali menyuruh Fatimah mendatangi Rasulullah untuk meminta seorang pembantu dari kalangan tawanan perang. Namun ketika sampai di rumah Rasulullah, Fatimah merasa malu untuk mengungkapkan permintaannya. Ketika Rasulullah menanyakan perihal kedatangan, maka Fatimah menjawab, ” Saya datang untuk mengucapkan salam kapada ayah.” Lalu Fatimah pulang lagi ke rumah.

Fatimah kali ini datang lagi ke rumah Rasulullah ditemani oleh suaminya, Ali bin Abi Thalib. Maka Ali mengungkapkan maksud kedatangan kepada Nabi. Namun permintaan keduanya tidak dikabulkan oleh Rasulullah, kerana Rasulullah lebih mementingkan kemaslahatan kaum muslimin yang lain.

Rasulullah lalu mendatangi rumah putrinya tersebut dan bersabda kepada keduanya:

“Bagaimana jika kuberitahukan kepada kalian berdua tentang sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian pinta kepadaku? Ada beberapa kalimat yang diajarkan Jibril kepadaku, hendaklah kalian bertasbih kepada Allah di hujung setiap solat sebanyak 10 kali, bertahmid 10 kali dan 10 sepuluh kali. Jika kalian hendak tidur, bacalah tasbih 33 kali, bacalah tahmid 33 kali dan bacalah takbir 34 kali.”  [ HR Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan Abu Daud]

Maka pesan Rasulullah ini diamalkan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib sepanjang hudip mereka.

Kehidupan Fatimah Az-Zahra penuh dengan kesederhanaan, namun selalu ditaburi barakah. Zuhud dan wara’ nya memancarkan kecintaanya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, semata-mata untuk meraih keredhaanNya.

Suatu ketika  Rasulullah pernah menegur Fatimah, ketika puteri kesayangan baginda itu mengenakan seuntai kalung dari emas, hadiah pemberian dari suaminya. Hal yang wajar bagi para wanita kebanyakan. Suka pada perhiasan. Rasulullah kemudiannya bersabda: “Wahai Fatimah, apakah engkau suka jika orang-orang berkata, ‘Inilah Fatimah binti Muhammad, yang di lehernya menguntai seuntai kalung dari api neraka?”.  Fatimah lantas membeli seorang hamba sahaya dengan kalung emas tersebut dan memerdekakannya.  Setelah Rasulullah mengetahui hal tersebut beliau bersabda,“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fatimah dari api neraka”.

Fatimah turut serta membantu dalam jihad fi sabillah, diantaranya, peranh Uhud, dalam Perang Khandaq dan Khaibar. Fatimah juga bergabung di dalam Fathul Makkah.

Saat perang Uhud, Fatimah turut serta, dan tercatat di antara tokoh muslimah yang namanya harum di medan jihad. Imam Al-Bukhari mengisahkan peranan Fatimah dengan berkata, “Beberapa orang wanita dari kalangan Muhajirin dan Ansar keluar, sambil mengusung air dan makanan di belakang mereka, termasuklah Fatimah binti Rasulullah.  Ketika beliau menyaksikan darah mengucur di wajah ayahnya, maka beliau segera memeluknya, lalu mengusap darah di wajah baginda.  Pada saat itu, Fatimah berkata, ‘”Amat besar kemarahan Allah terhadap orang-orang yang membuatkan wajah RasulNya berdarah”. 

Sah’l bin Sa’d pula menceritakan peristiwa tersebut dengan  menyebutkan, “ Rasulullah terluka sehingga gigi baginda patah. Fatimah binti Rasulullah mencuci darah yang mengucur di wajah baginda, sedangkan Ali mengalirkan air dengan menggunakan bekas air.  Ketika Fatimah melihat bahawa air tersebut semakin membuatkan darah mengalir deras, maka beliau mengambil potongan tikar dan membakarnya sehingga menjadi abu.  Lalu disapukan di luka baginda, sehingga darah tidak lagi mengalir dari luka tersebut.”

Demikianlah, sungguh terlalu banyak kebaikan dan keutamaan Sayyidah Fatimah, hingga tidak mungkin bisa untuk menuliskannya dengan sempurna. Lembar lembar kehidupan diukir dengan tinta emas. Yang tak lekang oleh arus perubahan jaman.

KHATIMAH

Sungguh sejarah Islam telah menorehkan tinta emas kemuliaan Fatimah . Putri Nabi Muhammad SAW yang cerdas lagi bersahaja. Ya, Fatimah adalah sosok wanita yang bijaksana dalam bersikap, lembut dalam tutur kata, sopan santun dalam beretika, aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Ia pun selalu peduli dengan kondisi orang-orang di sekitarnya. Fatimah juga dikenal sebagai pejuang sejati dalam membela kebenaran.

Fatimah selalu memberikan bimbingan dan ajaran kepada para muslimah, setiap kali bertemu dengan mereka, sebagaimana yang diterima dari ayahandanya Rasulullah SAW.

Dari sosok Sayyidah Fatimah, kita bisa mengambil banyak ibrah, dan pelajaran baik darinya antara lain:
Sayyidah Fatimah adalah wanita sholihah yang mampu menyeimbangkan kehidupan individu, sosial, dan keluarga. Beliau pun tampil sebagai sosok yang bersungguh-sungguh dalam menjalankan kebaikan, rela berkorban, dan pejuang sejati.

Nah, kitapun bisa belajar, agar mampu menjadi wanita sholihah yang meletakkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW diatas segalanya. Tidak silau oleh gebyar dunia yang sifatnya sementara. Berproses untuk mampu menjadi sosok pejuang kebenaran Islam, zuhud, wara’ juga mampu menjadi ibu dan pengatur rumah yang baik. Mendidik anak-anak menjadi generasi Islam yang bertaqwa kepada Allah SWT.

Waallahua’lam


Author Image
Suara Mubalighah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *