SABAR DAN SYUKUR DI TENGAH PANDEMI COVID19

SABAR DAN SYUKUR DI TENGAH PANDEMI COVID19

Oleh : Ustadzah Arini Retnaningsih

Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya” (HR Muslim no. 2999).

Suaramubalighah.com, Hadist – Pandemi covid19 terus meluas hampir ke semua bagian dunia beberapa bulan terakhir ini.  Pandemi ini menjadi musibah yang besar bagi umat manusia.  Sebagian di antara mereka sakit, sebagian meninggal, dan yang tidak terkena wabah, terkena imbasnya.  Menjalani hidup di rumah, kegiatan keluar dibatasi, dan sebagiannya harus rela kehilangan pekerjaan dan pendapatan. 

Kondisi ini, ditambah dengan kebijakan penguasa kapitalis yang tidak berorientasi pada kepentingan rakyat, banyak memunculkan stress dan depresi terutama di kalangan masyarakat bawah.  Bagaimana tidak, mereka dilarang keluar rumah, usaha mereka banyak ditutup, ekonomi mandek, namun bantuan sosial yang diberikan negara jauh dari memadai, bahkan ada yang tak tersentuh bantuan sama sekali.

Seorang muslim, menghadapi ujian dan musibah semacam ini, tidak semestinya stres dan depresi.   Keyakinannya akan qadha Allah, termasuk rizki, kesehatan, dan ajalnya, akan mengantarkannya untuk bersikap sabar dan bersandar pada Allah.  Maka dalam konteks musibah wabah ini, hadis yang diriwayatkan Imam Muslim di atas sangat tepat menjadi pegangan.

Hadis di atas, menuntun kita untuk bersikap saat mendapatkan kesenangan dan kesulitan dalam hidup.  Dengan syukur, kesenangan tidak akan menjerumuskan kita dalam kelalaian dari mengingat Allah, dan dengan sabar, musibah dan ujian tidak akan menjauhkan kita dari Allah.  Inilah yang Rasulullah sebut sebagai kebaikan baginya. 

Bagaimana mungkin dalam musibah ada kebaikan?  Inilah hikmah yang kadang kita tidak mampu menjangkaunya saat terjadi suatu peristiwa, namun saat peristiwa tersebut telah lewat, kita baru menyadarinya. 

Buya Hamka, saat dimasukkan penjara tahun 1964 lalu, mungkin tak menyadari kebaikan yang Allah telah siapkan untuknya, yaitu memiliki waktu yang luang untuk menyusun kitab tafsirnya yang monumental, Tafsir Al Azhar. 

Allah SWT berfirman :

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS. Albaqarah 216)

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ

“Sesungguhnya seorang hamba ketika kedudukannya di sisi Allah telah mendahuluinya, sedangkan  amalannya tidak sampai (pada kedudukan tersebut), maka Allah akan mengujinya di badan atau harta atau anaknya.” HR. Abu Dawud, (3090) dinyatakan shahih Al Albany).

Allah SWT mengujinya adalah agar hamba tersebut bersabar, yang dengan pahala sabar ini akan sampailah mereka pada kedudukan yang Allah tetapkan baginya, karena begitu besarnya pahala sabar sebagaimana firman-Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ 

Sungguh hanya kaum yang bersabar itu dicukupkan pahala mereka tanpa batas (QS az-Zumar [39]: 10).

Lafal innama merupakan perangkat pengkhususan (qashr), yang menguatkan isyarat atas keutamaan sifat sabar hingga diganjar dengan pahala tanpa batas.

Sufyan bin ‘Uyainah r.a. pun menegaskan keutamaan sabar, “Tidaklah para hamba-Nya dianugerahi sesuatu yang lebih utama daripada kesabaran karena dengan sabar  itulah  mereka masuk surga.” (Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (VII/305), Ibn Abi al-Dunya dalam Ash-Shabr (hlm. 50).

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan, sabar memiliki tiga dimensi yang harus diperhatikan oleh orang-orang beriman; Dimensi pertama adalah menghindari larangan. Sabar harus diikutkan ketika hal-hal yang disukai ternyata dilarang dan ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk ditinggalkan.

Dimensi kedua adalah ibadah dan ketaatan. Sabar harus senantiasa digunakan ketika menjalankan ketaatan dalam bentuk ibadah kepada Allah. Dan dimensi ketiga adalah dimensi tabah dalam menghadapi ujian. Artinya tetap taat meski dalam ujian yang berat. Dan tetap menghindari larangan meski banyak kenikmatan yang diberikan Allah.

Termasuk bersabar juga ketika dalam kondisi kesulitan menghadapi wabah, kita senantiasa tetap sabar dalam ketaatan menjalankan perjuangan dakwah Islam.  Melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan menyerukan muhasabah terhadap para penguasa yang banyak berlaku zhalim.

Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) pun dalam Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’ (hlm. 270) menegaskan makna sabar: ats-tsabât (keteguhan) menghadapi berbagai kesulitan (asy-syadâ’id); mencakup kesulitan menegakkan kebenaran dan menampik kebatilan. Kesabaran seperti ini yang menjadi wasilah meraih pertolongan-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sungguh Allah beserta kaum yang sabar (QS al-Baqarah [2]: 153).

 Menjelaskan ayat ini, ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah menjelaskan bahwa kesabaran itu tergambar dalam upaya menyampaikan kebenaran, mengamalkannya, serta mampu menghadapi cobaan di jalan Allah; berhasil menjalani itu semua berdasarkan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, tanpa ada penyimpangan dan sikap lemah menghadapi itu semua (lihat pula: QS al-Baqarah [2]: 249; QS al-Anfal [8]:  46).

Sabar harus senantiasa disertai syukur, karena keduanya adalah kebaikan bagi seorang mukmin.  Rasulullah saw ketika mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Segala puji hanya milik Allah atas setiap keadaan’.” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Imam Ibnu al-Qayyim menyatakan bahwa sikap atas musibah yang menimpa seorang hamba ada empat tingkatan atau maqamPertama, tingkatan lemah. Tingkatan ini berupa keluh-kesah atau marah. Hal demikian tidak dilakukan kecuali oleh orang yang lemah akal, agama dan kehormatan (murû’ah)-nya. Kedua, sabar. Ketiga, ridha atas musibah itu. Ridha ini lebih tinggi daripada tingkatan sabar. Keempat, tingkatan tertinggi, adalah bersyukur. Tidak ada kenikmatan kecuali di dalamnya terdapat musibah. Begitu juga tidak ada musibah kecuali di dalamnya ada kenikmatan. Karena itu ia akan bersabar sekaligus bersyukur.

Syukur tidak hanya amalan hati dan ucapan alhamdulillah, namun syukur juga harus diwujudkan dengan perbuatan, yaitu menggunakan nikmat yang Allah berikan untuk menguatkan amal, mencari keridhaan Allah.  Maka di tengah pandemi ini, kita yang sehat bersyukur dengan memperbanyak amal, apalagi saat ini kita telah masuk di bulan Ramadhan.  Maka perbanyak ibadah, infak di jalan Allah, mencari ilmu, berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar.  Sedangkan yang sehat, selain bersabar juga bersyukur, karena barangkali dengan sakit kita Allah berkenan menggugurkan dosa-dosa kita dan menganugerahkan pahala s

Author Image
Suara Mubalighah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *