ULAMA PEWARIS PARA NABI ; PENENTU KEBAIKAN UMAT

ULAMA PEWARIS PARA NABI ; PENENTU KEBAIKAN UMAT

Oleh : Sri Rahayu

“Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama”. (HR. Ad -Darimi)

Suaramubalighah.com, Takbir Afkar- Hadist diatas mengingatkan kita tentang kebaikan dan keburukan. Kebaikan terpancar ketika rakyat dipimpin oleh imam atau penguasa yang menerapkan Islam kaffah dalam sistem khilafah. Sebaliknya keburukan akan meluas ketika penguasa tidak menerapkan syariat Islam. Pada dua kondisi tersebut terdapat peran penting ulama. Ketika ulama terus membimbing umat,  menyampaikan kebenaran Islam, menasehati dan mengontrol penguasa dalam meriayah rakyat sesuai syariat, maka masyarakat akan baik. Jika ulama tenggelam maka jalan akan kabur dan masyarakatpun tertimpa keburukan. Demikianlah ulama yang berdiam diri dari amar ma’rufnahyi munkar atau bahkan mendukung penguasa dzalim, maka masyarakat akan terjerumus pada kubang kehancuran. 

Ulama bagaikan lentera yang menyinari dan membimbing umat ke jalan yang benar. Sehingga mengantarkan kepada baiknya masyarakat.  “Ulama adalah lambang harapan dan cita-cita umat”. (HR Imam Ahmad).

Siapakah ulama itu?

Ulama adalah orang yang menekuni dan mendalami agama kemudian mendakwahkannya kepada umat. Ibn Abi Hatim menuturkan dari jalan Sufyan ats Tsauri, dari Abu Hayanat- Taymi, ulama itu ada tiga :

Pertama, orang yang takut kepada Allah dan mengetahui hukum-hukum-Nya. Inilah yang dimaksud dalam HR At -Tirmidzi dari Abu Ad-Darda, “Ulama adalah pewaris para nabi”. Ulama ini memiliki  يَخْشَىاللَّهَ (rasa takut yang sangat dalam kepada Allah) sebagaimana firmankan dalam QS 35 : 28-29

وَمِنَالنَّاسِوَالدَّوَابِّوَالْأَنْعَامِمُخْتَلِفٌأَلْوَانُهُكَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَايَخْشَىاللَّهَمِنْعِبَادِهِالْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّاللَّهَعَزِيزٌغَفُورٌ

“Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (28)

إِنَّالَّذِينَيَتْلُونَكِتَابَاللَّهِوَأَقَامُواالصَّلَاةَوَأَنْفَقُوامِمَّارَزَقْنَاهُمْسِرًّاوَعَلَانِيَةًيَرْجُونَتِجَارَةًلَنْتَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.” (29)

Kedua, orang yang takut kepada Allah tetapi tidak mengetahui hukum-hukum-Nya.

Ketiga, ulama su’ / fajir. Ilmu yang dimilikinya tidak dijadikan penuntun. Asy Syatibi mengatakan ulama su’ tidak beramal sesuai dengan ilmu yang dia ketahui. Imam Al Ghazali mengingatkan untuk berhati-hati terhadap ulama su’. Mereka lebih buruk daripada syetan. Jika syetan hanya bisa menggoda manusia orang perorang, melalui tipu dayanya. Tidak demikian dengan ulama su’. Mereka mampu menyesatkan banyak orang ketika berpendapat dan berfatwa yang melenceng dari syariat-Nya. Maka kerusakan besar akan terjadi secara menyeluruh ketika umat mengikuti ulama su’. Sebuah kesesatan menyeluruh terjadi melalui tangan ulama. Rasulullah shalallahualaiwasalam, ketika ditanya sejahat-jahatnya makhluk, Beliau menjawab “Ya Allah berilah ampunan,” Beliau mengatakan tiga kali kemudian melanjutkan, “mereka adalah ulama su’ ‘”.

Termasuk ulama su’ adalah ulama salatin yaitu ulama sebagai stempel penguasa. Anas bin Malik berkata, ” Kebinasaan bagi umatku datang dari ulama su’. Mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa. Mereka mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu”. (HR Al-Hakim)

Ulama Su’ : Tumbal Demokrasi

Innalillahi.  Sungguh sistem demokrasi yang lahir dari ideologi sekulerisme akan memanfaatkan seluruh komponen masyarakat demi kelanggengan penjajahan.  Termasuk ulama tak lolos dari incaran dan eksploitasi sistem kufur ini. Mereka memanfaatkan menjadi tumbal demokrasi. Musuh-musuh Islam memahami betul hadis diatas. Jika ingin umat Islam buruk maka mereka memanfaatkan ulamanya. Karena ulama memiliki maqam (posisi) istimewa di hati umat.

Kita saksikan dalam setiap pesta demokrasi para kontestan kerap menyambangi ulama. Meminta do’a restu, nasehat hingga dukungan suara. Menyadari seruan ulama sangat didengar dan diikuti umat. Bahkan mereka tak segan menggandeng ulama sebagai wakilnya untuk daya pikat semata. Selepas pemilu pemenang yang menduduki kursi panas kekuasaan lebih dalam mencengkeram ulama. Mereka jadikan ulama sebagai stempel setiap kebijakannya. Bahkan alat cuci tangan setiap kebijakan dzalimnya. Alangkah malangnya ulama yang terbeli dengan dunia yang hina.

Menurut adz-Dzahabi, ulama su’ adalah ulama yang mempercantik kedzaliman dan ketidakadilanpengusa. Mereka berani memutarbalikkan kebathilannampak sebagai kebenaran dengan polesan lisan dan qalamnya demi penguasa. Termasuk didalamnya ulama yang berdiam diri dihadapan penguasa dzalim, sementara dia mampu menyampaikan kebenaran Islam. Ulama seperti ini disebut oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sebagai syetan bisu.

AS sebagai pengendali dunia dengan sistem demokrasinya telah menyusun strategi untuk menghadang kebangkitan Islam. Mereka canangkan program deradikalisasi, Islam moderat, Islam Nusantara untuk menjaga agar muslim tetap sekuler. Program-program mereka melibatkan ulamasu’ sebagai pelaksana.

Barat memecah belah umat dengan menyebut sebagai kelompok Islam radikal, Islam tradisional, Islam Moderat dan Islam liberal. Sebutan dengan istilah asing  yang tak ada dalam Islam sengaja mereka munculkan untuk saling diadu dan dibentur-benturkan sebagai bentuk perang pemikiran. Mereka memanfaatkan ulama yang bisa dibeli untuk memecah belah umat. Tak heran muncullah pernyataan nyeleneh ulama su’.  Di antaranya : pernyataan haram mencontoh sistem pemerintahan nabi. Tidak ada khilafah sebagai sistem pemerintahan. Khilafah bukan saja ditolak di Indonesia, tetapi tertolak. Khilafah dikriminalisasidan lain-lain. Ulama su’ yang segaris dengan penguasa jahat terus menghembus-hembuskan perpecahan dan menyerang khilafah sebagai ajaran Islam.

Mantan Menteri Luar Negeri AS, Henry Kissinger mengingatkan umat Islam itu ibarat kayu yang mudah terbakar. Maka harus dijauhkan dari ulama yang lurus. Karena umat Islam bisa terbakar oleh ideologi Islam yang dibawa oleh ulama yang lurus.

Ulama su’ lah yang di jadikan tumbal menghadapi perang pemikiran. Genderang perang pemikiran yang ditabuh Barat mereka nilai sangat efektif dengan memanfaatkan ulama su’. Inilah yang disebut dengan proxywar, memukul dengan meminjam tangan. Jadilah umat Islam terlibat dalam medan perang menghadapi saudaranya sendiri. Demikianlah keburukan terjadi kareba ulama su’ menjadi tumbal demokrasi.

Anas meriwayatkan, “Ulama adalah kepercayaan para rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik dengan dunia maka mereka telah mengkhianati para rasul. Karena itu jauhilah mereka. (HR Al-Hakim).

Ulama yang sering mendatangi dan bergaul dengan penguasa tentu bukanlah untuk  menasehatinya, amar ma’rufnahyi munkar dan mengoreksi penguasa. Kerusak pada ulama diantaranya karena tamak terhadap dunia. Sebagaimana dituturkan Ad-Darimi, Umar bertanya kepada Kaab, ” Apa yang mengeluarkan ilmu dari hati ulama?” Ka’ab menjawab, “ketamakan.” Artinya ulama telah menjual ilmu atau agama dengan sekerat tulang dunia yang hina. Hingga sirnalah keutamaan ulama. Ulama su’ seperti ini lebih layak menghuni neraka. Sebagaimana Abu Hurairah menuturkan hadits : ” Siapa yang makan dengan memperalat ilmu. Maka Allah membutakan kedua matanya (atau wajahnya dalam riwayat ad-Dailami) dan neraka lebih layak untuknya. (HR Abu Nu’aim dan ad-Dailami).

Sistem demokrasi telah menempatkan manusia sebagai pembuat hukum sementara Islam telah menetapkan “Innilhukmuilla lillah” yang artinya, membuat hukum hanyalah hak Allah. (QS Yusuf : 40). Ulama dalam demokrasi hanyalah dijadikan pengokoh demokrasi. Sungguh sistem demokrasi telah menempatkan ulama sebagai stempel penguasa dan mereka hanya mendapatkan kehinaan dan seburuk- buruk tempat kembali.

Umat Islam yang hari ini hidup dalam demokrasi harus memahami. Ulama seperti apakah yang harus diikuti. Supaya tidak salah dalam melangkah. Mari kenali ulama sejati, yaitu ulama sebagai pewaris para nabi.

Ulama, Pewaris Para Nabi

Fakhruddin al-Razi dalam tafsir MafatihalGhaibvol 26 Hsl 21 menjelaskan al ‘alim : predikat bagi orang yang mengetahui sifat Allah, sehingga pemilik sifat tumbuh pada dirinya sikap takut kepada Allah.

Ibn Katsir dalam tafsir QS al-Adzim jilid 6 hal 482-483 menjelaskan : ulama adalah orang yang mengetahui Allah SWT (takut pada Allah) dan mengetahui perintah-perintahnya.

Imam al-Qurtubi dalam aljami’ li Ahkam alQur’an dengan mengutip pendapat Rabi’ bin Annas, beliau berkata : “orang yang tidak takut kepada Allah berarti bukan orang ‘alim (ulama)

Ulama memiliki peran penting bagi umat. Umat akan terus hidup sebagaimana aliran darah dalam tubuh terus mengalir manakala aktifitas mulia diemban ulama, yaitu : 1. Menyebar risalah Islam. 2. Melakukan amar ma’rufnahyi munkar bersama umat. Umat dan ulama adalah satu kesatuan penting yang menjadi pilar pengokoh negara. 3. Penasehat / pengontrol penguasa agar pemerintahan sesuai dengan Al Quran dan sunah.  4. Penerang umat dalam urusan dunia dan akhirat.

Ulama pada masa khulafaurrasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib) adalah sebagai ulama dan umara. Demikian juga masa setelahnya.

Iman Al Ghazali menuturkan Ulama dan kekuasaan itu seperti saudara kembar. Tak dapat dipisahkan. Addinuassunwaimmamunharisun. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Segala sesuatu tanpa pondasi akan hancur. Dan segala sesuatu tanpa penjaga akan hilang. Maka keduanya agama dan kekuasaan tak dapat dipisahkan dalam sistem Islam, yaitu khilafah. Pantaslah khilafah mampu memimpin dunia selama 13 abad lebih lamanya. Sebuah sistem yang mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Khalifah sebagai junnah (perisai/pelindung) dan sebagai raa’in ( pengatur urusan rakyat) berjalan dengan sangat baik karena bersandar pada Al Quran dan Sunnah. Sebuah sistem hidup dari Allah subhanahu wata’ala yang pasti mampu menyelesaikan semua problema, sesuai fitrah, menenteramkan batin dan memuaskan akal manusia.

Membangun Arus Perubahan oleh Ulama

Saat ini dunia sedang tak berdaya menghadapi pandemi Covid-19. Penguasa demokrasi kapitalisme di seluruh dunia lumpuh menghadapinya. Sebagaimana analisis mantan Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger, wabah ini akan berdampak lama dan mengantarkan perubahan dunia.

Salah satu hasil NIC (sebuah lembaga tink tank AS) menyebutkan perubahan dunia yang terjadi adalah tegaknya khilafah. Ini adalah angin segar yang sejalan dengan janji Allah dan Rasul-Nya bahwa Allah subhanahu wata’ala akan menyerahkan kekuasaan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, QS. An Nuur (24) : 55.

Pandemi Covid-19 telah mengantarkan krisisekonomi juga kepemimpinan demokrasi kapitalis global. Sementara roda dunia terus berputar. Estafet peradaban dunia terus bergulir. Inilah masa menuju perubahan dari peradaban gelap menuju peradaban cemerlang, Islam.

Perubahan masyarakat telah dicontohkan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam melalui dakwah. Karakter dakwah politik, pemikiran dan tanpa kekerasan telah tergambar jelas dalam benak ulama warasatulanbiya dan umat Islam yang teguh dalam perjuangan.Berikut adalah langkah yang harus ditempuh ulama menuju peradaban cemerlang :

1. Mengokohkan peran ulama sebagai pewaris nabi. Kedudukan ulama bagai bintang di langit yang memberi penerangan. Ulama terus membina umat dan memahamkan umat, menumbuhkan kesadaran politik umat. Dengan kata lain ulama melakukan konsolidasi pemikiran pada umat. Hingga umat rindu dan berjuang bersama ulama  menegakkan Islam kaffah.

2. Ulama menolak berbagai politisasi yang memanfaatkannya.

3. Ulama tidak berdiam diri ketika syariah kaffah dihadang.

4. Tidak melegitimasi kemaksiatan meski mendapatkan tawaran kenikmatan dunia

5. Tegas terhadap kekufuran, kedzaliman dan ketidakadilan.Menasehatipengusa, mengungkap kebobrokan penguasa danpersekongkolannya dengan kafir penjajah.

6. Peduli terhadap urusan umat Islam, istiqomah mencontoh dakwah rasul.

Dengan segenap keterbatasan dalam masa pandemi menuntut ulama terus kreatif melakukan konsolidasi umat. Membina, membentengi dan melangkah bersama, dalam satu pemikiran (Islam), satu langkah menuju satu tujuan. Yaitu keberlangsungan Islam. Keberlangsungan Islam hanya terwujud dalam sistem khilafahIslamiyyah. Sungguh waktu subuh sangat dekat.

Wallahua’lam bi ash-shawwab.

Author Image
Suara Mubalighah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *