SHAFIYYAH BINTI ABDUL MUTHALIB RA ; IBUNDA PENGAWAL SETIA RASULULLAH SAW

SHAFIYYAH BINTI ABDUL MUTHALIB RA ; IBUNDA PENGAWAL SETIA RASULULLAH SAW

Oleh : Nabila Asy Syafi’i


Suaramubalighah.com, Muslimah Inspiratif-Seorang wanita penyabar, kuat iman, tekun beribadah, tangguh dalam menanggung beban perjuangan Islam sepanjang siang dan malam. Dari keluarga terhormat dan agung. Wanita mulia itu adalah Shafiyyah binti Abdul Muththalibra, bibi Rasulullah SAW. Jejak sejarah mengukirnya, dari wanita mulia ini terlahir seorang putra dengan julukan hawari ( pengawal setia) Rasulullah saw, yang memiliki kekuatan setara dengan 1000 pasukan, sang putra adalah Zubair bin alAwwam.

SHAFIYYAH, SOSOK MUSLIMAH YANG TANGGUH

Aisyah ra, meriwayatkan, ” ketika turun ayat, ” Dan berilah peringatan kepada keluarga-keluarga yang paling dekat denganmu, Nabi mengumpulkan segenap keluarganya seraya berkata, ” Wahai Fatimah binti Muhammad, Wahai Shafiyyah binti Abdul Muththalib, Wahai bani Abdul Muththalib, aku tidak bisa membela kalian dihadapan Allah. Adapun mengenai harta, silakan meminta dariku sesuka hatimu,” (HR Muslim).

Shafiyyah pun menyambut seruan Rasulullah untuk masuk Islam. Maka semenjak masuk Islam, Shafiyyahmemgerahkan segenap potensinya dalam agam Islam yang agung ini. Tak heran jika Shafiyyah rajin beribadah, sholat, puasa dan lisan tak henti untuk berdzikir mengagungkan asma Allah.

Tatkala ada seruan untuk berhijrah ke Madinah, bergegas Shafiyyah bersama putranya Zubair bin alAwwam berangkat berhijrah bersama rombongan kaum muslimin meninggalkan kampung halaman dan harta kekayaannya demi meraih pahala dan keridhaan Allah SWT.

Dalam peperangan Uhud, Shafiyyah turut serta dalam medan pertempuran bersama mujahidah lain yang bertugas membawa air untuk diberikan kepada pasukan yang kehausan, selain itu juga menyiapkan anak panah, dan mengobati pasukan yang terluka. Meski saat itu usia Shafiyyah tidak muda lagi yakni sdh menginjak usia 60 tahun, namun usia bukan penghalang untuk memberikan pengorbanan terbaiknya dalam berjuang.

Karena pasukan pemanah menyelisihi perintah Rasul SAW sebagai panglima. Maka kondisi berbalik arah, kaum muslimin yang semula dalam keadaan unggul dan meraih kemenangan, kini terpukul mundur, sehingga banyak pasukan yang berpencar dari Rasulullah SAW. Namun, Shafiyyah tetap berdiri dengan berani, sedangkan di tangannya menggenggam tongkat dan beliau pukul wajah orang-orang yang mundur dari peperangan seraya berkata, “Kalian hendak meninggalkan Rasulullah SAW?”

Dalam perang Uhud ini, saudara lelaki Shafiyyah yakni Hamzah bin Abdul Muththalib gugur sebagai syahid.

Sungguh Shafiyyah binti Abdul Muththalib telah menunjukkan ketangguhan dan kesabarannya kepada kita, juga memberikan teladan tentang, ketabahan, dan ketegaran.

Shafiyyah berkata, “Pada hari terbunuhnya Hamzah, Zubeir menemuiku dan berkata, “Wahai ibunda sesungguhnya Rasulullah SAW menyuruh engkau agar kembali.” Aku menjawab, “Kenapa? Sungguh telah sampai kepadaku tentang dicincangnya saudaraku, namun dia syahid karena Allah. kami sangat ridha dengan apa yang telah terjadi, sungguh aku akan bersabar dan tabah insya Allah. Setelah Zubeir r.a. memberitahukan kepada Rasulullah SAW tentang komentarku, beliau bersabda: “Berilah jalan baginya.!“ Maka, aku mendapatkan Hamzah dan tatkala aku melihatnya aku berkata, “Inna lillahi wainnailaihiroji’un, kemudian aku mohonkan ampun baginya setelah itu Rasulullah SAW memerintahkan untuk menguburkannya.

Kisah lain dari Shafiyyah sang mujahidah adalah ketika terjadi perang Khandaq. Pasukan Yahudi Bani Qoraidzah bersekutu dengan orang-orang kafir Quraish, mencoba menyerang dari dalam kota Madinah. Saat itu para wanita dan anak-anak di tempatkan pada sebuah benteng yang dikenal dengan nama benteng Fari’. Benteng ini milik Hassan bin Tsabit r.a..

Ketika ada seorang Yahudi menendap-endap, menyelidiki kondisi benteng tersebut. Sedang pasukan kaum muslimin sedang menghadapi musuh. Maka berdirilah Shafiyahr.a. dan berkata kepada Hassan, “Sesungguhnya laki-laki Yahudi itu menjadikan kita tidak aman karena mereka akan mengetahui kekurangan kita, maka berdirilah dan bunuhlah ia. Maka berkatalah Hassan, “Semoga Allah mengampuni Anda, sungguh Anda mengetahui bahwa seperti itu bukanlah keahlian saya.”

Mendengar jawaban Hassan, Shafiyyah berangkat sendiri, mengambil tongkat, kemudian turun dari benteng. Beliau menunggu kesempatan lengahnya orang Yahudi tersebut lalu memukulnya, hingga orang Yahudi tersebut meninggal. Shafiyyah kembali ke benteng dan mampu menyelamatkan dan menjaga rahasia persembunyian para wanita dan anak-anak, dari musuh mereka dan musuh Allah.

Hingga Akhirnya, Allah memberi kemenangan kepada kaum muslimin dan cerai berailah pasukan ahzab kembali ke wilayahnya dan tak pernah kuat menghadapi daulah Islam lagi.

Shaflyyahr.a. sangat mencintai kemenakannya yakni Rasulullah SAW,
menyertai dalam peperangan Rasulullah. Sehingga merasa sangat sedih dan berduka, ketika Rasulullah SAW wafat. Shafiyyahra mengungkapkan dalam syairnya:

Wahai mata, tumpahkanlah air mata dan janganlah tidur…
Tangisilah sebaik-baik manusia yang telah tiada…
Tangisilah aI-Musthofa dengan tangisan yang sangat…
Yang merasuk ke dalam hati laksana terkena pukulan…
Nyaris aku tinggalkan hidup tatkala takdir datang padanya…
Yang telah digariskan dalam Kitab yang mulia…
Sungguh beliau pengasih kepada sesama hamba…
Rahmat bagi mereka dan sebaik-baik pemberi petunjuk…
Semoga Alah meridhainya tatkala beliau hidup dan mati…
Dan membalasnya dengan surga pada hari yang kekal…

Sepeninggal Rasulullah SAW, Shafiyyahra hidup penuh kemuliaan dan penghormatan. Shafiyyah wafat di usia 70 tahun, di masa Khalifah Umar bin Khathab. Semoga Allah merahmati Shafiyyahra.

KHATIMAH
Dari kisah hidup Shafiyyah binti Abdul Muththalibra, kita bisa mengambil banyak pelajaran darinya.

Shafiyyah binti Abdul Muththalibra, adalah muslimah bukan hanya tegar namun juga tangguh làgisabar. Ia seorang muslimah yang berhasil mendidik anaknya, Zubair bin Awwam menjadi orang yang bertaqwa, menjadi pengawal setia Rasulullah SAW. Ia seorang muslimah yang sabar dalam mengahadapi setiap cobaan, seberat apapun cobaan tersebut ditanggungnya dengan terus berharap rahmat Allah. Tatkala saudara kandungnya gugur di medan jihad, dengan tegar dan sabar diterimanya ujian tersebut.

Shafiyyah binti Abdul Muththalibra, adalah sosok muslimah yang penyabar, tegar, pandai juga pemberani, dan hal ini bisa menjadi cermin bagi kaum muslimah yang lain, teemasuk kaum muslimah kini.

Author Image
Suara Mubalighah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *