UMMU DARDA’ ASH SHUGHRA, MUSLIMAH TABI’IN YANG ILMUNYA SELUAS LAUTAN

UMMU DARDA’ ASH SHUGHRA, MUSLIMAH TABI’IN YANG ILMUNYA SELUAS LAUTAN

Oleh : Nabila Asy Syafi’i

” Sihir dunia bagi seorang hamba lebih kuat daripada sihir Harut dan Marut. Tidaklah seseorang mengutamakan dunia melainkan ia akan dihinakan.”

Suaramubalighah.com, Muslimah Inspiratif-Ini diantara ungkapan yang penuh hikmah, terkait dengan peringatan akan tipu daya dunia yang disampaikan oleh seorang muslimah dari kalang tabi’in. Dia adalah Ummu Darda’ ashShughra.

Banyak dari kalangan ulama memberi apresiasi tinggi dan memujinya, karena jasa yang amat mulia dalam ilmu pengetahuan, ibadah, hikmah dan akhlak mulia. Antara lain :

Imam Ibnu Asakir berkata : ” Ummu Darda’ adalah wanita yang zuhud dan ahli fiqh. “
Imam Nawawi berkata : ” Ummu Darda seorang wanita ahli fiqh dan banyak hikmah.”

Imam Ad Dzahabi menjelaskan sifat-sifat Ummu Darda’ ,” Wanita mulia yang berilmu luas dan ahli fiqh. Ummu Darda’ terkenal dengan ilmu, amal sholih dan kezuhudan.”

Kini, sejenak kita akan menyelami semerbak mewangi perjalan hidup seorang wanita tabi’in bernama Ummu Darda’ ashAshghra.

SEKILAS TENTANG SOSOK UMMU DARDA’

Nama Ummu Darda ash-Shugra adalah Hujaimah binti Huyayal-Awshabiyah, berasal dari Washshab, sebuah kabilah di Himyar. Syam.

Hujaimah adalah anak yatim yang diasuh oleh Abu Darda, dengan dasar ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Abu Darda yakin akan pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT bagi orang yang memelihara dan mengasuh anak yatim, oleh karena itu Abu Darda’ memberikan pendidikan yang terbaik buat Hujaimah.

Hujaimah kecil selalu diajak dalam majelis-majelis ilmu dan shalat berjamaah bersama kaum laki-laki. Hujaimah kecil belajar al Quran langsung dari para sahabat dan ahli qurra’. Ia anak yang kuat hafalan, keakuratan bacaan al Quran nya juga luar biasa.

Saat Hujaimah menginjak usia akil baligh, Abu Darda memisahkan dari majelis ilmu laki-laki. Ia bergabung dengan majelis ilmu kaum perempuan. Hujaimah pun tumbuh menjadi gadis cantik yang mencintai ilmu, rajin beribadah. Akhlak mulia dan zuhud. Ia juga dianugerahi Allah kecerdasan berfikir, juga pemahaman yang baik terhadap ayat-ayat Alquran.

Setelah Hujaimah dewasa, dan Ummu Darda’ kubra (shahabiyah) meninggalkan dunia. Maka Abu Darda’ Uwaimir bin Zaid ra menikahinya. ( Abu Darda’ memiliki dua orang istri, semuanya dikenal dengan julukan Ummu Darda’, yang pertama adalah shahabiyah dan yang kedua adalah tabiiyah ( yang sedang dikisahkan ini).

Ummu Darda’ semakin banyak mengambil ilmu dari Abu Darda’ suaminya, selain itu, Ummu Darda’ Ash-Shughra juga mengambil riwayat dari Fadhalah bin ‘Ubaid Al-Anshari, Salman Al-Farisi, Ka’b bin ‘Ashim Al-Asy’ari, Abu Hurairah, Ummul Mukminin Aisyah serta para sahabat yang lain. Ummu Darda’ termasuk salah satu murid kesayangan Ummul Mukminin Aisyah ra.

Ummu Darda’ juga bersemangat menyebarkan ilmu yang telahdipelajarinya dalam majelis ilmu maupun orang-orang yang mendatanginya. hingga namanya melambung ke papan nama para ulama dan ahli fiqh masa tabi’in. Ibnu Suma’i menyebutkan dalam kitab Thabaqatnya bahwa Ummu Darda’ berada dalam periode kedua tabi’in dari Syam.

KETIKA SUAMINYA PERGI UNTUK SELAMANYA

Suatu saat Ummu Darda’ berdoa kepada Allah SWT agar kelak di akhirat dikumpulkan lagi dengan suaminya di surga , dengan doanya, “Ya Allah, Abu Darda’ telah meminangku dan menikahiku di dunia ini. Oleh karena itu Ya Allah, saat ini aku meminangya, dan aku memohon kepada-Mu, agar kelak ia menjadi suamiku ketika di surga.”

Abu Darda, mendengar doa Ummu Darda’, dan berkata, ” Jika engkau menginginkan hal itu, dan saya meninggal dunia sebelum kamu, maka janganlah engkau menikah lagi sepeninggalku.”

Perkataan Abu Darda ini pun dipegang teguh oleh Ummu Dardaash-Shugra sepanjang hidupnya. Ia tidak pernah menikah lagi, meskipun sempat datang lamaran dari Muawiyah, namun ditolaknya denga tegas.

DIANTARA HADITS YANG DIRIWAYATKAN OLEH UMMU DARDA

Diriwayatkan dari Ummu Darda’ dari Abu Darda’, Rasulullah SAW bersabda, ” Barangsiapa yang badannya sehat, hati dan jiwanya tentang, memiliki makanan untuk harinya, seolah-olah ia telah mendapatkan dunia. Wahai Ibnu Ju’syam, cukup bagimu apa yang bisa mengganjal rasa laparmu, dan apa yang menutupi auratmu. Jika hanya satu baju itu sudah mencukup, jika ada hewan yang bisa kamu tunggangi itu sudah luar biasa, kulit roti, air dibejana, dan lebih dari itu akan dihisab kelak.”

Imam Muslim juga meriwayatkan dari sanad Ummu Darda’ , ia berkata, ” Tuanku, Abu Darda’ , meriwayatkan kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, ” Barangsiapa berdoa untuk saudaranya dari tempat yang jauh, malaikat yang bertugas untuk menyertainya berkata, Amin, semoga bagimu hal yang serupa. “

UMMU DARDA’ DAN MAJELIS TA’LIMNYA

Aun bin Abdillah berkata tentang perhatian Ummu Darda’ terhadap majelis ilmu. ” Kami duduk dalam majelis Ummu Darda’. Kami bertanya kepadanya, Apakah kami membuatmu bosan? ”
Ummu Darda’ menjawab, ” membosankanku ?” Aku mencari peluang beribadah dalam segala hal. Tidak ada sesuatu yang menyegarkan jiwaku selain duduk bersama ulama.”

Aktivitas harian Ummu Darda’ adalah mengajari manusia dan mengingatkan mereka tentang keutamaan beramal baik. Utsman bin Hayyan menceritakan, ” Kami sedang makan makanan bersama Ummu Darda’ , kemudian kami lupa untuk membaca tahmid. Ummu Darda’ langsung memberi pesan kepada kami, ” Wahai anak-anakku, jangan lupa untuk memberi lauk makananmu dengan dzikir kepada Allah SWT. Makanan bersama ucapan tahmid lebih baik daripada makanan yang hanya dibarengi diam.”

Demikianlah, tanpa bosan Ummu Darda’ mengisi hari -harinya untuk kebaikan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Menebarkan kebaikan di tengah-tengah umat. Hingga tahu 81 H, tatkala ajal menjemput untuk menghadap Rabbnya di Negeri Syam tanah kelahirannya. Imam Nawawi berkata, ” Makam Abu Darda’ dan istrinya Ummu Darda’ ashShughra berada di Bab Ash Shaghir Damaskus dan sangat terkenal. “

KHATIMAH

Kebaikan yang telah ditebarkan ditengah umat, sikap teguh untuk senantiasa memegang hukum -hukum Allah mengantarkannya menjadi sosok yang mulia, disegani dan dihormati bukan hanya dimasanya saja, namun terukir sepanjang masa. Dari kisah Ummu Darda’ ashShughra kita bisa belajar banyak hikmah, antara lain:
1. Mengajarkan, membiasakan, membimbing anak-anak untuk senantiasa mencintai ilmu -ilmu Islam, dan melaksanakan hukum-hukum Islam, sesuai dengan tingkat usia anak, sebagaimana Ummu Darda’ dalam pengasuhan orang tua angkatnya.
2. Jangan ada kata bosan ketika mengajarkan Islam. Karena dengan mengajar kita menjadi ingat, bertambah ilmu dan kebaikan akan semakin banyak tersebar.
3. Memberi nasehat, memotivasi diri sendiri dan orang lain untuk terus belajar Islam dan mengamalkan. Selain itu juga berani mengingatkan orang lain jika berbuat salah, untuk mencegah kemungkaran agar tidak meluas. Sekecil apapun kesalahan, atau kelalain itu.
Sebagaimana Ummu Darda’ mengingatkan orang yang tidak berdoa saat makan.

Dan masih banyak lagi ibrah yang bisa dipetik dari kisah ini, bagi siapa saja yang mau membaca dan memikirkan hikmahnya.

Waallahua’lam.

Author Image
Suara Mubalighah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *