SYARIAT JILBAB DAN HIKMAHNYA

SYARIAT JILBAB DAN HIKMAHNYA

Oleh : Arini Retnaningsih

Allah berfirman dalam QS Al Ahzab: 59

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ

أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا [٣٣:٥٩]

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Suaramubalighah.com, Tafsir –Para penafsir liberal, seperti Ratna Bathara Munti, Sumanto Al Qurtubi, Siti Musdah Mulia atau Gayatri Wedowati, selalu menggunakan ayat ini dengan tafsir yang dipelintir untuk menjadi dalil bagi tidak wajibnya jilbab. Kesimpulan yang mereka ambil selalu berkisar pada jilbab hanyalah pakaian adat Arab, dan jilbab hanya sekedar pembeda wanita merdeka dengan budak yang bertujuan agar aman dari gangguan.  Kesimpulan seperti ini lahir dari kedangkalan pemahaman terhadap ilmu tafsir itu sendiri.

Makna Jilbab

Imam Taqyuddin An Nabhani dalam kitab Nizhamu al- Ijtima’I fii Al Islam menjelaskan, frasa يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ artinya adalah hendaknya mereka mengulurkan jilbab ke tubuh mereka.  Kata min dalam ayat ini bukan li at-tab’idh, yang menunjukkan sebagian, melainkan li al bayaan, yaitu menunjukkan penjelasan, bahwa yang diulurkan adalah jilbabnya, bukan sebagian jilbabnya.  Dengan demikian, artinya adalah yurkhina alayhinna jalaabiibihinna, yaitu mengulurkan jilbab sampai ke bawah menutup tubuh.

Kata jalaabiibihinna dalam ayat tersebut adalah bentuk jamak dari jilbaabun. “Jilbaabun”, dalam kamus Al-Muhith adalah milhaafah wa mulaa’ah, yaitu baju yang serupa dengan mantel sedangkan dalam tafsir Ibnu Abbas, “jilbaabun” adalah kain penutup, atau baju luar seperti mantel (Tafsir Ibnu Abbas, hal 426). Jilbab juga berarti “baju panjang (mulaa’ah) yang meliputi seluruh tubuh wanita” (Tafsir Jalalain hal 248). Sedangkan dalam Shofwatut Tafaasir, Imam ash-Shobuni, Jilbab diartikan sebagai baju yang luas (wasi’) yang menutupi tempat perhiasan wanita (auratnya). 

Dalam kitab Al Mu’jam Al Wasith karya Dr. Ibrahim Anis (Kairo :  Darul Maarif) halaman 128, jilbab diartikan sebagai “Ats tsaubul musytamil ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal milhafah” (pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian rumah, seperti milhafah (baju terusan), atau “Al Mula`ah tasytamilu biha al mar’ah” (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi tubuh wanita).

Berdasarkan pendefinisian ini, jelaslah bahwa makna jilbab adalah pakaian luar yang luas yang wajib digunakan oleh muslimah diluar pakaian rumahnya (mihnah), yang berbentuk seperti mantel (milhaafah atau mulaa’ah).  Pengertian ini diperkuat oleh hadits yang datang dari Ummu ‘Athiyah ra, ia berkata:

“Rasulullah Saw memerintahkan kami untuk keluar pada Idul Fitri maupun Idul Adha, baik para gadis, wanita yang sedang haidl, dan yang lainnya. Adapun wanita yang sedang haidl, maka diperintahkan untuk meninggalkan shalat dan menyaksikan dakwah dan syiar kaum muslimin. Lalu aku bertanya : “Ya Rasulullah, bagaimana jika diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab?” Rasulullah kemudian menjawab : “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya” (HR. Muslim).

Ini berarti Rasulullah tidak memberikan keringanan bagi perempuan yang tidak mempunyai jilbab untuk keluar rumah tanpa jilbab. Beliau memerintahkan agar saudara muslimahnya meminjamkan jilbab. 

Yang memperkuat juga makna jilbab sebagai pakaian luar adalah firman Allah SWT :

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ 

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah berhenti dari haidl (menopause) yang tiada ingin menikah lagi, maka tiada dosa atas mereka meninggalkan tsiyaab (pakaian luar) mereka, dengan tanpa bermaksud menampakkan perhiasannya” (TQS. An-Nuur : 60)

Lafadz tsiyaab  yang boleh ditanggalkan oleh muslimah yang tua dalam ayat tersebut adalah pakaian luar (Tafsir Al-Azhar XVIII/hal 228). Hal senada juga dikemukakan didalam tafsir Jalalain, bahwa tsiyaab maknanya adalah pakaian luar (Tafsir Jalalain hal 209).

Dari ayat tersebut jelaslah bahwa jilbab adalah pakaian luar yang dikenakan diatas pakaian sehari-hari. Wanita muslimah yang sudah tua, menurut syara, boleh meninggalkan pakaian luarnya (tsiyab/jilbabnya) dengan tetap menutup auratnya kecuali muka dan telapak tangannya.

Hikmah Berbeda dengan Illat

Adapun terkait dengan lanjutan ayat Al Ahzab :59 yaitu :

ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ 

Yang demikian itu supayamereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.”

Sebagian orang menjadikan adanya kalimat ini sebagai illat untuk menghilangkan hukum wajibnya jilbab.  Mereka berpendapat, saat ini perempuan aman tidak ada yang mengganggu.  Karena illat jilbab yakni “agar tidak diganggu” sudah tidak ada lagi maka kewajiban jilbab juga menjadi tidak ada lagi.

Padahal, bila kita mencermati ayat ini, kemudian memahami syarat-syarat illat seperti yang telah ditetapkan oleh para ulama ushul fiqh, sama sekali tidak kita dapati adanya illat dalam ayat ini.  Frasa “Agar tidak diganggu” di sini bukan illat, melainkan hikmah.

Ada perbedaan besar antara hikmah dengan ‘illat.   Illat merupakan pendorong disyariatkannya suatu hukum, sehingga ada sebelum adanya hukum.  Hukum selalu beredar bersama illat, bila ada illat maka akan ada hukum, dan bila tidak ada maka tidak ada hukum.  Sedang hikmah adalah perkara yang menjelaskan hasil dan tujuan yang diperoleh dari pelaksanaan hukum. Hikmah kadangkala terwujud pada kondisi tertentu dan kadang tidak terwujud dalam kondisi yang lain (‘Atha bin Khalil, 2014, Ushul Fiqih, PTI, Bogor).

Pada faktanya, ketika mengenakan jilbab, kadang masih ada juga laki-laki yang melewati batas, masih mengganggu, sekalipun lebih banyak yang segan tidak  mengganggu perempuan berjilbab.  Maka ini memenuhi kriteria sebagai hikmah dan bukan illat. 

Lagipula, bukan hanya ayat ini yang menunjukkan wajibnya muslimah berjilbab.  Ada banyak dalil yang mendukung dari hadis-hadis Nabi saw yang menceritakan kehidupan muslimah saat itu.  Di antaranya adalah hadis Ummu ‘Athiyah yang sudah disebutkan di atas, bagaimana Rasulullah saw tidak mengizinkan seorang perempuan keluar rumah ketika tidak memiliki jilbab, dan menyuruh muslimah lain meminjamkan jilbabnya. 

Setiap Allah menurunkan sebuah hukum syara’, Allah pasti menyertakan maslahat dan hikmah di dalamnya.  Tidaklah Allah menurunkan hukum untuk memudharatkan atau menyusahkan manusia.  Bila ada yang merasa susah dengan hukum yang diturunkan Allah, maka berarti ia perlu mengevaluasi kadar keimanannya.

Dan sungguh bila kita mau merenung dengan hati jujur, pensyari’atan jilbab membawa banyak sekali hikmah. Tidak hanya menjaga kehormatan perempuan, tetapi juga membantu laki-laki untuk menahan pandangan.  Dengan demikian bila aturan jilbab diterapkan beserta seluruh hukum-hukum pergaulan lainnya, dijamin pertemuan laki-laki dan perempuan di masyarakat akan menjadi pertemuan yang produktif dalam ta’awun (kerjasama) membangun masyarakat. WaAllahu A’lam

Author Image
Suara Mubalighah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *