AL QURAN TURUN DALAM BAHASA ARAB

AL QURAN TURUN DALAM BAHASA ARAB

Oleh : Dedeh Wahidah Achmad

Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.” (QS. Yusuf [12]:2)

Suaramubalighah.com, Tafsir-Allah SWT menegaskan dalam ayat tersebut bahwa Bahasa Arab merupakan bahasa yang dipergunakan dalam al-Quran.  Demikian juga dalam firman Nya yang lain:“sesungguhnya kami telah menjadikan al-Qur’an dalam bahasa arab, supaya kalian bisa memahaminya(QS. Az Zukhruf:3).

Terkait dengan dipilihnya Bahasa Arab sebagai Bahasa al-Quran, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: ”Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas, dan paling banyak pengungkapan makna yang dapat menenangkan jiwa. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia ini (yaitu Al-Qur’an, pen.) diturunkan dengan bahasa yang paling mulia (yaitu bahasa Arab).”

Hal senada juga disampaikan oleh Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah ketika beliau menjelaskan al-Quran Surat Asy-Syu’ara [26]: 192-195: ”Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Bahasa Rasul yang diutus kepada mereka dan menyampaikan dakwahnya dalam bahasa itu pula. Bahasa yang jelas dan gamblang. Dan renungkanlah bagaimana berkumpulnya keutamaan-keutamaan yang baik ini. Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan melalui malaikat yang paling utama, diturunkan kepada manusia yang paling utama pula, dimasukkan ke dalam bagian tubuh yang paling utama, yaitu hati, untuk disampaikan kepada umat yang paling utama, dengan bahasa yang paling utama dan paling fasih yaitu bahasa Arab yang jelas.” [TaisiirKarimir Rahman, hal 598).

 

Penguasaan Bahasa Arab, Kunci Untuk Membuka Pemahaman Islam

Sumber rujukan ajaran Islam, yakni al-Qur’an dan as-Sunnah memakai Bahasa Arab.  Demikian juga kitab-kitab yang memuat hasil karya para Ulama terdahulu yang telah mengerahkan segenap upayanya dalam menggali hukum-hukum Islam banyak yang belum diterjemahkan, masih tersimpan dalam Bahasa Arab.  Kekayaan khasanah ilmu Islam tersebut belum dimanfaatkan umat, sehingga belum bisa menjadi cahaya penerang dalam kehidupan.  Umat masih jauh dari petunjuk Nya dan terus bergelimang dalam kejahilan.  Karenanya, untuk memahami semua sumber ilmu tersebut dibutuhkan kemampuan yang mumpuni dalam Bahasa Arab.  Kedudukan Bahasa Arab dalam ajaran Islam ibarat kunci, mustahil bisa memasuki sebuah rumah tanpa memiliki kunci pintunya.  Sebagaimana dikemukakan oleh Abu Ishaq asy-Syathibi dalam kitabnya, al-Muwafaqat, hlm. 2/101:

إن هذه الشريعة المباركة عربية، لا مدخل فيها للألسن العجمية

“Sesungguhnya syariat yang berkah ini adalah “Arabiyyah” (dengan lisan Arab), (itu sebabnya) tidak ada pintu masuk (untuk memahaminya) dengan lisan ‘ajam (selain Arab).”

Menurut Imam As-Suyuthi: “Bahasa Arab adalah termasuk bagian dari agama, karena ia termasuk masalah yang hukumnya ‘fardhu kifayah’, dan dengannya akan diketahui makna lafadz-lafadz al-Qur’an dan Sunnah.”(Al Muzhir fii Uluumil Lughoh, Jilid 2, hal.302).  Beliau sangat mengakui urgensi Bahasa Arab dalam Islam, bahkan dalam kitabnya yang lain beliau mengatakan bahwa penguasaaan beberapa cabang Bahasa Arab berupa Nahwu, Tashrif, Isytiqoq, al-Bayan, al-Ma’ani, dan al-Badi’ merupakan diantara syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menafsirkan al-Quran (Al-Itqoon fii ‘Uluumil Qur’an, as-Suyuthi,II/510).

Terkait pentingnya Bahasa Arab ini, jauh sebelum para Imam ahli tafsir telah  dikemukakan juga oleh Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu sebagaimana pesannya:

تعلَّموا العربيةَ؛ فإنها من دينِكم

Pelajarilah bahasa arab, karena bahasa ini bagian dari agama kalian.(Idhah al-Waqf, Ibnul Anbari, 1/31).

Urgensi Bahasa Arab dalam memahami Islam juga disampaikan oleh para Imam Madzhab, seperti Imam Syafiiy dalam pernyataan beliau:

فعلى كل مسلم أن يتعلم من لسان العرب ما بلغه جهده حتى يشهد به أن لا إله إلا الله وأن محمد عبده ورسوله ويتلوا به كتاب الله …

“Maka wajib atas setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab sekuat kemampuannya. Sehingga dia bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan dengannya dia bisa membaca kitabullah … “ [Ar-Risalah, 1/48.]

Tidak sedikit pendapat para ulama yang saling menguatkan tentang kedudukan penting Bahasa Arab.  Bahkan Syaikhul Islam menyebutkan bahwa mempelajari Bahasa Arab merupakan jalan paling dekat untuk menegakkan syiar agama:

إنَّ الله لما أنزل كتابَه باللسان العربي، وجعل رسولَه مبلغًا عنه الكتاب والحكمة بلسانه العربي، وجعل السَّابقين إلى هذا الدين متكلِّمين به، ولم يكن سبيل إلى ضبط الدِّينِ ومعرفته إلا بضبط هذا اللسان، صارت معرفته من الدِّين، وأقرب إلى إقامةِ شعائر الدين…

“Allah Ta’ala menurunkan kitabnya berbahasa arab. Allah menunjuk Rasul-Nya untuk menyampaikan al-Quran dan sunah juga berbahasa Arab. Allah juga menunjuk para sahabat yang pertama masuk Islam, mereka berbicara dengan Bahasa Arab. Sementara tidak ada cara untuk memahami agama ini dengan benar, selain dengan memahami Bahasa Arab. Untuk itu, mempelajari bahasa arab, bagian dari mengamalkan ajaran agama, dan jalan paling dekat untuk menegakkan syiar agama…(al-Iqtidha, 1/450).

Berikutnya, beliau Ibnu Taimiyah rahimahullah menyampaikan,  “Sudah semestinya untuk Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dipahami lafazhnya dengan yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana kalam Allah bisa dipahami? Tentu dengan mempelajari bahasa Arab di mana bahasa inilah yang dijadikan bahasa dialog dengan kita. Dari pemahaman pada bahasa itulah kita bisa tahu kehendak Allah dan Rasul-Nya.”(Majmu’ah Al-Fatawa, 7: 116)

Sungguh jelas bahwa Al-Quran memiliki hubungan erat dengan Bahasa Arab, keduanya tidak boleh dipisahkan sampai kapan pun, termasuk dalam membacanya juga harus dengan Bahasa Arab seperti keadaannya ketika disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Baginda Nabi saw.  Terkait hal ini Imam An-Nawawi mengatakan dengan tegas :

لا تجوز قراءة القرآن بالعجمية سواء أحسن العربية أو لم يحسنها سواء كان في الصلاة أم في غيرها فإن قرأ بها في الصلاة لم تصح صلاتة هذا مذهبنا ومذهب مالك وأحمد وداود وأبو بكر بن المنذر

“Tidak boleh membaca al-Quran dengan bahasa ‘ajam (selain bahasa arab). Baik dia bisa bahasa arab atau tidak. Baik dibaca ketika shalat maupun membacanya di luar shalat. Dan jika membaca al-Quran dengan cara semacam ini di dalam shalat maka shalatnya tidak sah. Ini merupakan pendapat madzhab kami (Syafiiyah), madzhab Imam Malik, Imam Ahmad, Daud, dan Abu Bakr bin al-Mundzir”.(at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Quran, hlm. 96).

Dari kutipan sejumlah pernyataan para ulama tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada beda pendapat di kalangan ulama tentang peran penting Bahasa Arab.   Karenanya wajar muncul sejumlah reaksi penolakan menyusul berita Keputusan Menteri Agama (KMA)  baru-baru ini terkait pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah.  Di balik respon-respon tersebut menyiratkan kekhawatiran masyarakat bahwa KMA yang baru akan berdampak buruk pada pemahaman Islam anak didik.  Sekalipun kemudian disampai klarifikasi dari pihak terkait seperti disampaikan Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah A Umar: “Mulai tahun pelajaran 2020/2021, pembelajaran di MI, MTs, dan MA akan menggunakan kurikulum baru untuk Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab,” kata Umar dalam keterangan di Jakarta, sebagaimana  rilis di laman resmi Kemenag, Jumat (10/07/2020).
Penegasan Umar itu menepis kabar yang beredar di media sosial yang menyebut Bahasa Arab dalam kurikulum baru tersebut akan dihapus. Mata pelajaran dalam Pembelajaran PAI dan Bahasa tetap sama. “Jadi beda KMA 183 dan 165 lebih pada adanya perbaikan substansi materi pelajaran karena disesuaikan dengan perkembangan kehidupan Abad 21,” jelas Umar.https://www.suaramerdeka.com/news/nasional/234363-tahun-ajaran-20202021-madrasah-ganti-kurikulum-pai-dan-bahasa-arab

Namun, sekalipun sudah disebutkan bahwa pelajaran Bahasa Arab tidak dihapuskan dari materi ajar, tetap harus diwaspadai jangan sampai kedudukannya sebagai kunci untuk memahami Islam dengan benar dan utuh menjadi melenceng.  Tidak boleh dibiarkan jika ada upaya menempatkan Bahasa Arab hanya sebagai ilmu belaka sebagaimana posisi ilmu lainnya.

Pemahaman umat harus dijaga bahwa mempelajari Bahasa Arab adalah untuk semakin dekat pada sumber ajaran Islam, yakni al-Quran dan as-Sunnah.  Juga dengan dorongan untuk mendapatkan pemahaman Islam yang benar dan dalam rangka syiar Islam, sehingga ajaran Islam sampai ke seluruh penjuru dunia dan Islam akan ditegakkan secara nyata untuk mengatur kehidupan manusia dalam seluruh aspek. Wallahu a’lam[]

 

 

Author Image
Suara Mubalighah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *