Kapitalisme Mematikan Rasa Keibuan

Kapitalisme Mematikan Rasa Keibuan

Oleh : Sri Rahayu

Suaramubalighah.com, Opini – Innalillahi, lagi dan lagi fakta ngeri terjadi lagi. Di tengah berbagai upaya keras untuk melindungi nyawa dari serangan Covid-19 yang terus mengepung, seorang anak justru meninggal di tangan ibunya sendiri. Tragis dan miris, pembunuhan itu dilakukan hanya karena anaknya susah diajari  belajar online, astagfirullahaladzim…

Penemuan jenazah umur 8 tahun yang  dikubur dengan pakaian lengkap, menggemparkan. Kuburan di kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak, Banten itu menjadi saksi bisu matinya rasa seorang ibu. Sebuah potret hitam legam bukti kegagalan ideologi sekulerisme kapitalisme menata hidup manusia.

Covid-19 telah merontokkan semua sendi kehidupan yang dibangun atas landasan ideologi sekulerisme. Mendampingi anak belajar di tengah pandemi ternyata tidak mudah. Himpitan beratnya beban hidup terlebih lagi di masa pandemi, memicu stres berkepanjangan. Mendampingi buah hati belajar online sungguh menjadi persoalan tersendiri di samping persoalan hidup lainnya. Beginilah corak kehidupan sekulerisme kapitalisme produk akal manusia.

Gelap mata, hilang rasa keibuan hingga LH (26) seorang ibu mengaku menganiaya buah hatinya hingga tewas. Rasa kesal, anaknya susah diajarkan, susah dikasih tahu, sehingga kesal dan gelap mata,” demikian kata David kepada Kompas.com di Polres Lebak, Rangkasbitung, Senin (14/9/2020).Sang suami yang mengetahui penganiayaan walau awalnya sempat marah kepada LH, namun akhirnya membantu istrinya. (Kompas.com, 14/9/2020).

Mencermati tragedi yang menyayat hati ini dapat kita kembalikan pada beberapa poin sebagai berikut :

Pertama, sistem sekulerisme kapitalisme telah terbukti gagal memanusiakan manusia. Manusia sebagai makhluk mulia, karena dikaruniai akal nyatanya lebih hina daripada hewan, ketika dalam penerapan sekulerisme, kapitalisme. Hewan tak berakal saja sangat melindungi keturunannya. Bahkan mempertaruhkan nyawa demi menjaga nyawa anak-anaknya.

Memang benar sistem rusak memproduksi kerusakan. Manusia telah dirusak oleh sistem hidup yang melingkupinya. Ideologi sekuler kapitalisme terbukti mematikan rasa dan naluri seorang ibu.

Bagaimana bisa seorang ibu tega menganiaya darah dagingnya sendiri? Bukankah tiap ibu memiliki naluri melindungi buah hati? Bahkan tak lebih aneh, suaminya membantu menuntaskan tindakan kriminal sang istri. Lengkaplah sudah, keduanya telah bersekongkol dalam sebuah pembunuhan mengerikan, tak kenal batas kemanusiaan.

Kedua, sungguh peran utama dan mulia ibu tergerus arus kapitalisme liberal. Alangkah banyak persoalan hidup dipicu oleh persoalan ekonomi yang memang diciptakan oleh sistem bathil ini. Himpitan persoalan ekonomi begitu dalam hingga memicu stres berkepanjangan. Manusiapun berperilaku tak lazim. Sedikit masalah saja bisa menimbulkan pertengkaran bahkan pembunuhan. Alangkah banyak persolan manusia berujung pada pembunuhan. Sungguh krisis multidimensi berbuah krisis identitas. Manusia tak lagi berfikir normal, tindakan kriminal bermunculan akibat hilang kendali. Hawa nafsu akhirnya sebagai pemutus semua persoalan. Memang sistem sekuler kapitalisme telah merusak manusia. Karena solusi setiap perkara kembali pada hawa nafsu manusia. Padahal Allah telah memberikan panduan hidup Al Quran dan Sunnah untuk diterapkan sebagai pemecah persoalan hidup.  Sungguh kesempitan hidup terjadi ketika manusia berpaling dari peringatanNya.

 

وَمَنْأَعْرَضَعَنْذِكْرِيفَإِنَّلَهُمَعِيشَةًضَنْكًاوَنَحْشُرُهُيَوْمَالْقِيَامَةِأَعْمَىٰ

 

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha : 124)

Ketiga, sungguh Islamlah satu-satunya ideologi yang mampu mengeluarkan dari berbagai kerusakan. Ideologi yang shahih berasal dari pencipta, pasti mampu menyelesaikan semua persoalan manusia. Pondasi yang kokoh keimanan kepada Al Khaliq menjadi landasan hidup manusia. Sehingga manusia memiliki karakter mulia. Hidup tenang, bahagia menjalankan perannya yang sesuaidengan fitrahnya.

Keempat, Islam menempatkan ibu dengan posisi mulia dan bergengsi. Sebagai istri, ibu, dan pengemban dakwah.Sungguh Islam agama yang sempurna. Penerapan dalam satu aspek akan menguatkan semua sisi kehidupan lainnya. Seorang ibu memiliki amanah mulia. Sebagai istri, pengatur rumah tangga, pendidik bagi buah hati dan generasi. Juga peranan istimewa sebagai bagian masyarakat yang menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hingga Allah sangat menjaga para ibu dengan sekumpulan hukum-hukumNya. Perempuan dalam bingkai penerapan Islam kaffah dalam khilafah secara fokus dapat menunaikan peran-perannya yang mulia. Perempuanpun hidup tenang bahagia sesuai fitrahnya.

Para ibu di dalam rumahnya saja sangat dilindungi oleh suaminya. Selain itu masyarakat dan negara berperan sangat menjaga dari segala marabahaya. Sehingga para ibu senantiasa terpelihara naluri keibuannya. Mereka sangat fokus menunaikan amanahnya yang mulia sebagai istri, ibu generasi, pengemban dakwah. Wallahua’lam bishawab.[]

Author Image
Suara Mubalighah Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *