KEUTAMAAN PENGHAFAL ALQURAN

KEUTAMAAN PENGHAFAL ALQURAN

Oleh : Arini Retnaningsih

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال : بأخذ ولدكما القرآن

Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756)

Suaramubalighah.com, Hadis-Seorang anak muda dengan penampilan yang rapi, santun, berakhlak mulia dan hafal Alquran.  Ia menjadikan Alquran sebagai panduan hidupnya.  Tutur katanya, tingkah lakunya, kepribadiannya, semua merupakan cerminan dari pengamalannya terhadap Alquran.  Anak muda seperti ini, mestilah merupakan dambaan bagi seluruh orangtua muslim.

Maka satu hal yang ironis, ketika anak muda good looking, hafal Alquran, dituding sebagai penyebar radikalisme.  Tudingan ini, apalagi dilakukan oleh seorang pejabat tinggi, boleh jadi akan membuat para orangtua dilanda kekhawatiran jika anaknya memilih untuk masuk pesantren tahfizh Quran alih-alih masuk sekolah favorit.

Padahal, kekhawatiran seperti ini sungguh tak beralasan.  Siapa yang mempelajari Alquran, akan mendapati ajaran yang jauh dari radikalisme dan terorisme.  Tidak ada ajaran dalam Alquran yang memerintahkan untuk memusuhi orang-orang non muslim tanpa alasan.  Bahkan akan kita dapati ajaran yang mulia untuk tidak memaksakan agama (QS. Albaqarah: 256) dan jaminan kebebasan menjalankan ajaran agama bagi pemeluk agama lain (QS.Al Kafirun: 6).

Begitupun tidak ada ajaran untuk melakukan jihad terhadap kaum muslimin.  Tidak ada pula perintah jihad melawan orang-orang yang bersedia memeluk Islam, atau menolak masuk Islam namun tidak menghalangi dakwah dan penerapan hukum Islam.

Bahkan, orang yang mempelajari Alquran akan mendapati, bagaimana Alquran mengatur seluruh aspek kehidupan dengan begitu indah.  Hubungan antara manusia dengan alam, dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain, semua diatur secara harmonis.  Kewajiban manusia untuk beriman kepada Allah, beribadah kepadan-Nya, menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dan terikat dengan hukum-hukum Allah.

Dalam kehidupan bermasyarakat, Alquran menggariskan untuk bersaudara sesama muslim, toleransi kepada non muslim, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, bermuamalah secara benar, dan sebagainya.  Bahkan Alquran juga mengatur kehidupan bernegara.  Kewajiban untuk taat pada ulil amri, hukum-hukum pidana yang harus diterapkan negara, pengembanan dakwah dan jihad, kewajiban penguasa berlaku adil, dan sebagainya.  Semua merupakan aturan yang bersumber dari Sang Pencipta manusia, sumber kebenaran dan kebaikan.

Apakah ajaran seperti ini yang disebut radikal?  Menuding mempelajari Alquran dan mengamalkannya adalah perbuatan radikal, sama halnya dengan menuding Allah radikal, menurunkan kitab yang radikal.  Bagaimana mereka nanti akan mempertanggungjawabkan tudingannya di hadapan Allah pada hari kiamat kelak?

Para orang tua semestinya bergembira jika anaknya hafizh Alquran.  Dalam hadis riwayat Al Hakim di atas, yang dinyatakan sanadnya hasan, orang tua para hafizh Quran akan Allah berikan penghargaan yang besar kelak di akhirat, yaitu mahkota dari cahaya yang terangnya seperti matahari, dan pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia, jika hafizh Quran ini juga mengkaji dan mengamalkannya.

Lantas jika untuk orang tuanya diberikan balasan begitu besar, apa yang Allah akan berikan kepada hafizh Quran? Balasan yang jauh lebih besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَجِىءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً

Alquran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz Alquran mahkota kemuliaan. Alquran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allahpun meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafidz Quran, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca. (HR. Turmudzi 3164 dan beliau menilai hasan shahih).

Hanya saja, yang penting untuk digarisbawahi adalah janji Allah ini tidak berlaku untuk orang yang hanya sekedar hafal, melainkan juga yang ta’allama wa ‘amila bihi, mempelajari dan mengamalkan Alquran.

Dengan besarnya pahala yang Allah janjikan, sudah seharusnya setiap orang tua berusaha memotivasi dan mendidik anak-anaknya untuk bisa hafal dan mempelajari Alquran. Jadikan anak-anak kita good looking, shalih, hafal Quran, dan memperjuangkan Alquran bisa diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan secara kaffah.  Boleh jadi di tangan merekalah nanti, umat Islam bisa meraih kebangkitan dan kemenangan, menegakkan khilafah rasyidah ala minhajin-nubuwwah.

Author Image
Suara Mubalighah Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *