Mewaspadai Narasi Radikalisme Sebagai Bentuk Islamophobia

Mewaspadai Narasi Radikalisme Sebagai Bentuk Islamophobia

Oleh : Maemanah, S. Pd.Aud,

Mubalighah kota Pekalongan

Suaramubalighah.com, Opini-Ketidakadilan dan kezaliman pada umat Islam senantiasa dipertontonkan di negeri ini. Setiap memasuki bulan desember , isu terorisme dan radikalisme memanas. Dan yang selalu menjadi sorotan adalah umat Islam. Sebagaimana peristiwa  aksi teror yang terjadi di Desa Lembantongoa, Sigi, Sulawesi Tengah, empat orang dalam satu keluarga tewas setelah mengalami penganiayaan oleh orang tak dikenal pada 27 November 2020. Para pelaku juga membakar enam rumah warga dan satu rumah tempat pelayanan umat. Dan dengan sangat cepat dan sigap aparat menemukan pelakunya   yang diduga kuat dilakukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Sementara di hari rabu, 2 /12/20 , Benny Wenda dikabarkan secara terbuka mengumumkan diri sebagai Presiden Sementara Republik Papua Barat yang Terbentuk Safutra Rantona pada 2 Desember 2020 bersamaan dengan Ulang Tahun Organisasi Papua Merdeka (OPM). Namun sikap pemerintah dan aparat nampak lebih santai dan lunak.

Kesan pemerintah sangat serius menanggulangi terorisme dan radikalisme nampak dari keikutsertaan Menko Polhukam Mahfud MD pada pertemuan The 3rd Sub-Regional Meeting on Counter Terrorism and Transnational Security (SRM on CTTS ke-3) yang berlangsung secara daring di Jakarta, Selasa (1/12/2020) yang menghasilkan joint statement yang memuat antara lain pembentukan Sub-Regional Senior Official Counter Terrorism Policy Forum untuk dapat bekerjasama dan saling bertukar best practices dalam penanggulangan terorisme. Namun hal ini berbanding terbalik dengan sikap pemerintah terhadap gerakan sparatisme yang nyata nyata mengancam kedaulatan negara yang disikapi dengan lunak dan tidak tegas. Artinya sikap pemerintah ini menunjukan ketidakadilan dan kedzaliman pada umat Islam.

Narasi radikalisme dan terorisme senantiasa disematkan kepada umat Islam, ajaran Islam dan ulama . Kenapa Umat Islam selalu menjadi pihak tertuduh? Karena posisi umat Islam yang lemah, tidak ada junnah /pelindung yang mampu menjaganya, yakni Khilafah. Saat ini umat Islam benar-benar dalam  cengkraman pejajah kafir. Sebagaimana yang sudah dikabarkan oleh Rasulullah SAW dengan sabda-nya, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud)

Umat Islam kini ibarat buih. Banyak tapi tak ada arti apa-apa. Keberadaanya seperti tak ada wujudnya (wujuduhu ka’adamihi). Parahnya lagi, umat Islam tak lebih seperti hidangan yang diserbu oleh musuh dari arah manapun tanpa perlawanan, bahkan mengikuti dengan sukarela arahan penjajah.

Penjajah pun melalui kaki tangnya (anteknya) melanggengkan kekuasaannya dengan senantiasa menyebarkan ideologi sekulerisme nya. Barat pun melakukan monsterisasi ajaran Islam dengan memberikan stigma radikal kepada muslim yang ingin menerapkan Islam kaffah. Sebab Islam kaffah yang diterapkan dalam naungan Khilafah Islam adalah ancaman bagi penjajah dan antek-anteknya. Maka Barat pun berusaha sekuat tenaga membendung kebangkitan Islam. Sebaliknya, Baratmemasarkan Islam toleran atau moderat. Barat memuji Muslim yang pro ideologi kapitalis sekuler sebagai bentuk moderasi Islam. Dan disisi lain Barat sangat memusuhi Umat Islam yang menginginkan formalisasi syariah Islam dalam naungan Khilafah.

Strategi barat untuk menyerang umat Islam ini merupakan strategi busuk yang wajib diwaspadai oleh umat Islam khususnya umat Islam. Sebab formalisasi Syariah Islam yang kaffah adalah tuntutan dari Allah SWT berfirman, yang artinya :

Hai orang-orang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara Kaffah keseluruhan, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.(QS al-Baqarah [2]: 208).

Narasi radikalisme dan terorisme yang diarahkan kepada umat Islam dan ajarannya khususnya tentang Jihad dan Khilafah membuktikan  bahwa telah terjadi Islamophobia (kebencian terhadap Islam) di negeri ini sebagaimana yang terjadi di negara Barat. Islamophobia merupakan kejahatan sistemik yang sengaja diciptakan untuk menghalangi kebangkitan Islam. Disamping itu ada upaya adu domba antar umat Islam dengan menciptakan adanya istilah Islam radikal ,Islam moderat,  Islam Fundamental dan Islam nusantara. Ini adalah Prinsip Devide et impera atau farriq tasud (pecah belah, lalu kuasai) yang merupakan prinsip penjajahan. Bila sesama umat Islam atau sesama ormas Islam saling gonthok – gonthokan, pasti yang dirugikan umat Islam. Kaum penjajah pembenci Islam akan tepuk tangan karena berhasil memecah belah umat. Untuk itu, Umat Islam harus tetap menjaga Ukhuwah antar sesama umat Islam jangan mudah diprovokasi, jangan mudah diadu domba. Musuh Kita satu yaitu kafir penjajah barat dengan ideologi kapitalis sekulernya.sementara sesama muslim adalah bersaudara. Sebagaimana firman Allah SWT, artinya :“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Alloh, supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al Hujurot: 10)

Umat Islam pun harus paham bahwa Islam bukanlah agama ritual dan moral saja. Melainkan Islam kaffah yaitu agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat, baik Ibadah, akhlak, ekonomi, pemerintahan ,politik, pendidikan, sosial budaya, dll. Tak ada satu aspek kehidupanpun yang tidak diatur dalam ajaran Islam. Dan semuanya akan tegak dengan kekuasaan negara Khilafah. Dan Islam rahmatan lil’alamiin akan benar benar dirasakan. Keadilan dan kesejahteraan manusia benar benar akan terwujud  dengan diterapkannya syariat Islam kaffah dalam naungan Khilafah. InsyaAllah.

Allah SWT berfirman, artinya :“Kalau seandainya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, niscaya Kami bukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi. AKan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami adzab mereka dengan sebab apa yangtelah mereka lakukan “ [Surah Al-A’raaf, 7: 96]

Wallahu’alam

 

Author Image
Suara Mubalighah Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *