Totalitas Hijrah Demi Terwujudnya Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur

  • Opini

Oleh : Kholishoh Dzikri

Suaramubalighah.com, Opini – Pada bulan Agustus tahun 2021 kaum Muslim di seluruh dunia menyambut kedatangan tahun baru Hijrah 1443. Berdekatan dengan peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-76. Wabah Covid 19 tidak menyurutkan semangat masyarakat Indonesia khususnya untuk memperingati hari kemerdekaannya. Di tengah persiapan penyambutan kemerdekaan, ghirah umat Islam untuk menyambut tahun baru hijriyah 1443 tidak surut, meski tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Lantunan doa akhir tahun 1442 H dan awal tahun 1443 H berkumandang di masjid dan mushala. Berbagai kegiatan keagamaan dilaksanakan secara online dan offline secara terbatas mengingat wabah covid 19 belum kunjung berakhir.

Ada harapan besar segenap umat Islam pergantian tahun baru Hijrah ini dapat memberikan kehidupan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Rasa lelah menanggung beban hidup di usia kemerdekaaan yang telah mencapai 76 tahun memompa semangat untuk mengakhiri beban kehidupan yang kian memberat baik dari sisi kesejahteraan yang sulit dirasakan, pendidikan yang semakin tidak jelas arah, generasi muda yang kehilangan jati dirinya, keluarga muslim yang semakin rapuh, belum lagi kezhaliman penguasa yang kian tak terkendali.

Banyak seruan perbaikan sebagai wujud semangat perubahan di tahun baru hijriyah ini. Diantaranya adalah seruan membangun nilai-nilai akhlak mulia, seperti hidup rukun dan damai, toleransi, persahabatan, persatuan, dan kerja sama antar umat beragama. Perbaikan ekonomi umat pun menjadi semangat yang digaungkan dalam menyambut tahun baru hijriyah.  Wamenag, Zainut Tauhid Sa’adi dalam sambutan pada Istighatsah dan Doa Bersama Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1443 Hijriah di Jakarta, Senin (9/8/2021) menyatakan, “Mari aktualisasikan hikmah dan nilai-nilai yang terkandung dalam Hijrah. Mari terus melakukan kolaborasi kebaikan untuk membangun akhlak, kesejahteraan dan peradaban kemanusiaan yang lebih baik dan lebih maju sesuai yang dicita-citakan dalam Islam,”.

Seruan perbaikan senada terus digaungkan dari tahun ke tahun dalam menyambut tahun baru hijriyah, namun realitas kehidupan umat tidak ada perubahan bahkan semakin terpuruk. Seolah harapan tinggal kenangan.

HIJRAH MOMENT PENTING DALAM SEJARAH UMAT ISLAM.

Penanggalan Hijrah sebagai penanggalan Islam mulai digunakan pada masa Khalifah Umar bin al-Khathab ra. Penentuan awal tahun Hijrah berpatokan pada peristiwa hijrah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam  dari Makkah ke Madinah. Peristiwa hijrah Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassallam. dari Makkah ke Madinah adalah momentum penting dalam lintasan sejarah perjuangan Islam dan kaum Muslim. Dengan hijrah itulah masyarakat Islam terbentuk untuk pertama kalinya. Masyarakat yang dibangun berdasarkan akidah Islam sebagai sebuah ideologi, Syariat Islam kaffah sebagai sistem kehidupan  ditegakkan dalam intitusi negara, yakni Daulah Islamiyah di Madinah Al-Munawarah.

Daulah Islamiyah ini tegak berdiri hingga setelah Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassallam wafat. Kemudian para shahabat melanjutkan hingga menjadi negara Khilafah Islamiyah dengan wilayah kekuasaannya meluas seantero dunia hingga mencapai 2/3 belahan dunia. Kesejahteraan dan kemuliaan akhlak masyarakatnya pun juga diakui dunia. Ilmu pengetahuan dan teknolgi berkembang pesat. Militernya diakui kehebatannya oleh kawan maupun lawan. Khilafah Islamiyah menjadi mercusuar dunia. Peninggalan-peninggala sejarah telah menjadi bukti bahkan sejarahwan dunia menuliskannya dalam buku-buku mereka, diantaranya apa yang ditulis Will Durant dalam bukunya The Story of Civilization.

 “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad”.

Hijrah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassallam dari Makah ke Madinah benar-benar telah menjadi tonggak bangunan peradaban agung dengan cahaya Islam menerangi dunia.

MENELADANI HIJRAH NABI DALAM REALITAS HARI INI

Sungguh realitas kehidupan umat Islam saat ini sama dengan realitas umat pada masa jahiliyah dahulu.  Dahulu masyarakat benar-benar jahiliyah dan sekarang dikenal dengan jahiliyah modern. Memang benar bahwa saat ini mayoritas umat beragama Islam, namun realitas kehidupan masih sangat jauh dari ketentuan Islam. Islam tidak diterapkan secara utuh. Hukum-hukum berkaitan dengan aspek ruhiyah semisal shalat, zakat, haji, puasa, dan akhlak sangat dijaga bahkan senantiasa diperbaiki pelaksanaannya. Namun aspek politik yang tidak lain adalah pengaturan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dijauhkan dari aturan Islam bahkan ancaman dan kecaman ketika ada pihak yang menginginkan Islam mengatur aspek ini dengan tuduhan radikal dan intoleran. Penguasa menerapkan hukum-hukum buatan manusia yang diadopsi dari pemikiran Barat untuk mengatur aspek kehidupan dunia ini.

Akibatnya tidak heran jika khamr atas nama investasi dilegalkan, perzinaan difasilitasi sementara pernikahan dini dihalangi, pencurian kelas teri dibabat habis sedangkan koruptor bebas melenggang pergi, rakyat dipalak dengan berbagai pajak sedang pengusaha kapitalis dibebaskan dari pajak, rakyat menganggur dan lowongan pekerjaan diberikan kepada pekerja asing, pendidikan mahal, kesehatan mahal, dan berbagai kesulitan hidup lainnya. Sisi lain penguasa yang seharusnya menjadi pelayan umat kini menjadi pelayan asing dan aseng. Para pemodal menjadi penentu kebijakan dalam pengaturan kehidupan ini.

 Kesamaan kehidupan masa jahiliyah dahulu dengan jahiliyah modern saat ini adalah sama-sama menerapkan aturan kehidupan yang lahir dari hawa nafsu manusia. Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan dunia telah melahirkan demokrasi, dan paham-paham lainnya berupa Kapitalisme, da n berbagai kebebasan.

Jika kondisi yang terjadi saat ini sama dengan masa Nabi Muhammad SAW maka kita harus mengambil solusi yang sama dengan yang diambil oleh Nabi Muhamad Shalallahu Alaihi Wassallam yakni hijrah dari kehidupan jahiliyah menuju kehidupan Islam yakni dengan menegakkan Khilafah Islamiyah.  Dengan Khilafah Islamiyah, Islam akan diambil secara utuh baik dari sisi ruhiyah maupun siyasiyah (politik). Akidah Islam akan menjadi pondasi dalam bernegara. Syariat Islam akan menjadi menjadi satu-satunya hukum untuk mengatur masyarakat, bangsa, dan negara.

Dengan mekanisme seperti ini maka ketakwaan individu dan masyarakat akan terwujud. Semua persoalan yang membelit negeri ini akan terselesaikan. Kebutuhan dan keamanan masyarakat akan terpenuhi, keberkahan pun akan meliputi dunia ini sebagaimana digambarkan oleh Allah Subhanaallahu Wa Ta’ala berikut,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,..” (QS. Al-A’raf : 9)

Dengan demikian jelas bahwa hijrah yang dicontohkan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassallam adalah hijrah totalitas yang mengantarkan pada teraihnya Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

Sudah sepantasnya hijrah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassallam ini dijadikan teladan bagi seluruh umat Muslim agar Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur segera teraih di negeri ini dan di seluruh dunia. Agar harapan dalam setiap momen tahun hijriyah benar-benar kita raih. Insyaallah.