Penguatan Moderasi Islam Pasca Pencanangan Hari Anti Islamofobia

  • Opini

Oleh: Dra. Rivanti Muslimawaty, M. Ag.

Suaramubalighah.com, Opini — Maraknya Islamofobia di negara Barat, membuat Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (MU-PBB) bersuara dengan menetapkan 15 Maret sebagai Hari Anti-Islamofobia. Hal ini sesuai dengan konsensus resolusi yang disampaikan oleh Pakistan atas nama Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang menyatakan bahwa 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia. (viva.co.id, 17/3/22).

Pencanangan ini disambut baik dan didukung oleh Menag, Yaqut Cholil Qoumas, yang menyatakan bahwa segala bentuk Islamofobia memang harus diperangi. Menurut Yaqut tidak ada ajaran agama manapun yang membenarkan tindakan kekerasan, sehingga ikhtiar mewujudkan perdamaian dunia harus terus diupayakan. (detiknews.com, 18/3/22).

Akankah Islamofobia bisa diakhiri , jika pada realitas nya Islam dan umat Islam menjadi objek utama war on terorisme atau proyek radikalisme dan ekstrimisme? Untuk menghadang kebangkitan Islam, Umat Islam dipaksa dengan pemahaman  moderasi beragama. Sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Penyuluhan Arab Saudi, Syaikh Dr. Abdullatif bin Abdulaziz Al-Syaikh, berulang kali menyampaikan pesan tentang pentingnya penguatan Islam wasathiyah dan moderasi beragama ketika bertemu sejumlah tokoh, pimpinan ormas Muhammadiyah, dan alumni mahasiswa dari Arab Saudi. (kemenag.go.id, 26/3/22).

Atas nama moderasi beragama dengan slogan toleransi dan keberagaman untuk kerukunan, pemahaman Islam yang Kaffah direduksi dan ruang gerak umat Islam dibatasi. Seperti kebijakan SE No 5/ 2022 tentang Pengaturan Pengeras Suara Masjid-Musala,persekusi ulama dan aktivis Islam yang menyampaikan kebenaran Islam, SKB tiga menteri tentang pakaian muslimah di sekolah dan lain sebagainya.

Barat melihat Islam sebagai sebuah ideologi yang mengancam eksistensinya. Barat memusuhi Islam politik itu sangat nyata. Fakta bahwa gerakan perjuangan untuk menegakkan Islam kaffah semakin menggelora di tengah umat, membuat Barat merasa terancam dengan Islam politik   dengan sistem khilafah dan jihadnya. Maka,  Barat pun semakin menggencarkan upaya penjegalan kembalinya Islam politik ideologis dengan mengkriminalisasi ajaran Islam tentang khilafah dan jihad.

Barat pun memunculkan  istilah Islam moderat sebagai upaya jalan tengah, yang merevisi pemahaman umat Islam, bahwa Islam  tidak radikal, toleran, penuh kasih sayang, menghormati keragaman, tidak memaksakan agama, tidak anti Barat, serta terbuka dengan perubahan jaman. Pemahaman ini justru menjauhkan umat dari Islam karena telah terkooptasi oleh ide radikalisme. Barat yang mengemban ideologi Kapitalis menciptakan permusuhan terhadap Islam dan merekayasa berbagai peristiwa serta melakukan provokasi-provokasi sebagai pintu masuk permusuhan terhadap Islam ideologis sehingga memunculkan  Islamofobia. Islam ideologis memang ancaman nyata terhadap hegemoni Barat di dunia, oleh karena itu Barat bernafsu mengarahkan umat pada Islam moderat.

Sejatinya,  ide Islam moderat ini pada dasarnya adalah bagian dari rangkaian proses sekularisasi pemikiran Islam ke tengah-tengah umat, yang diberi warna baru. Ide ini menyerukan semua agama sama dan menyerukan untuk membangun Islam inklusif yang bersifat terbuka, toleran terhadap ajaran agama lain, menyusupkan paham pluralisme yang memandang semua agama benar. Padahal sudah sangat jelas bahwa Allah SWT berfirman,

اِنَّ الدِّيۡنَ عِنۡدَ اللّٰهِ الۡاِسۡلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali ‘Imran: 19)

 وَمَنۡ يَّبۡتَغِ غَيۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِيۡنًا فَلَنۡ يُّقۡبَلَ مِنۡهُ‌ ۚ وَهُوَ فِى الۡاٰخِرَةِ مِنَ الۡخٰسِرِيۡنَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran: 85)

Allah SWT memerintahkan kita untuk mengamalkan Islam secara kaffah, ajaran Islam yang dicontohkan dan dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw., bukan Islam moderat, baik menyangkut kehidupan pribadi, keluarga, maupun ketika bermasyarakat dan bernegara.

  Dengan kata lain, kita diminta untuk mengatur seluruh urusan kehidupan dengan Islam. Sebagaimana firman-Nya,

  • يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

 “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208).

Hari Anti Islamofobia sejatinya, hanya lips service Barat untuk menutupi ketidakmampuan nya menciptakan kerukunan dan perdamaian akibat perpecahan , peperangan dan kerusuhan yang disebabkan oleh kerakusan para kapitalis dan kebobrokan sistem demokrasi sekuler.

Umat Islam butuh khilafah yang mampu menyatukan keberagaman, menjujung tinggi toleransi dan mewujudkan perdamaian dunia, tidak akan terjadi Islamofobia. Jihad yang dilaksanakan oleh khalifah bertujuan untuk menebar rahmat bagi seluruh alam dengan penerapan syariat Islam secara kaffah, terbukti berabad abad lamanya. Wallahu a’lam bishshawwab. [SM/Stm]