Mubalighah: Kitab Turats Perlu Diterapkan, Tidak Cukup Sekadar Dilombakan

Suaramubalighah.com, Mubalighah Bicara— Aula kantor salah satu partai politik di Tangerang menjadi saksi diselenggarakannya Lomba Baca Kitab Kuning, pada Sabtu (25-11-2023). Peserta lomba berasal dari lulusan pondok pesantren di Kabupaten Tangerang dan sekitarnya.

Kitab turats adalah kitab warisan ulama-ulama salaf. Dikenal juga sebagai kitab kuning karena kertas yang digunakan untuk menulis berwarna kuning. Disebut juga kitab gundul karena ditulis dalam bahasa Arab yang tidak ber-syakal/ harakat (damah, fathah, kasrah, dan sebagainya).

Untuk menggali kemampuan para santri atau mahasantri dalam membaca, menerjemahkan, dan memahami isi kitab kuning, sering kali diadakan lomba qira’atul kutub (membaca kitab-kitab). Bahkan Kemenag menjadikan lomba qira’atul kutub sebagai agenda tahunan (tahun 2023 di selenggarakan pada bulan Juli di Lamongan, Jawa Timur).

Pesantren pun banyak yang menyelenggarakan lomba ini. Di antaranya lomba yang akan diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang pada 8—9 Pebruari 2024 mendatang dengan tajuk Islamic Turats Competition se-Jawa dan Madura.

Tidak Cukup Dilombakan

Mubalighah nasional Ustazah Kholishoh Dzikri menilai, lomba-lomba semacam ini menurutnya baik karena memberi dorongan generasi muda khususnya dari kalangan santri dan mahasantri agar memiliki kemampuan membaca dan memahami isi kitab turats yang dilombakan.

“Namun, lomba saja tidak cukup sebab ilmu yang tertulis dalam kitab-kitab turats tersebut dipelajari untuk diamalkan, tidak sekadar dibaca dan dihafalkan,” tuturnya kepada MNews, Kamis (14-12-2023).

Ia beralasan, kitab–kitab turats mengajarkan tsaqafah Islamiyah mulai dari tata bahasa Arab (ilmu nahwu dan ilmu sharaf), hadis, tafsir, ulumul Qur’an, akidah, akhlak, fikih ubudiah, fikih muamalah, dan fikih siyasah syar’iyah.

“Di antaranya kitab Al-Ahkam As-Sulthaniyyah karya Al-Imam Al-Mawardi rahimahullah, Ath-Thuruq Al-Hukmiyyah karya Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, hingga hudud dan jinayat. Kitab-kitab tersebut pada umumnya diajarkan di pesantren pada lembaga pendidikan keagamaan lainnya,” ucapnya mencontohkan.

Tidak Berpengaruh

Menurutnya, ketika kitab-kitab turats hanya dibaca, dihafal, dan dipahami, tetapi tidak diterapkan atau diamalkan, maka tidak akan memberi atsar (pengaruh) dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.

“Ia hanya akan menjadi pemikiran cemerlang yang tertulis dalam kitab-kitab semata, sedangkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, justru diatur dengan sekularisme yang tidak diajarkan dalam kitab-kitab turats. Padahal, kitab-kitab turats mengajarkan berbagai macam fikih untuk mengatur kehidupan dunia ini,” urainya.

Demikian juga, ia melanjutkan, sistem pemerintahan saat ini menganut sistem demokrasi yang berasal dari Barat yang kafir, padahal kitab turats mengajarkan sistem Khilafah Islamiyah sebagai bentuk pemerintahan yang baku.

“Oleh karena itu, seharusnya isi kitab-kitab turats yang diajarkan di pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan lainnya diadopsi oleh negara,” ungkapnya.

Ia berargumen, negaralah yang memiliki kewenangan untuk menerapkan syariat Islam kaffah dalam pengaturan kehidupan.

“Dengan penerapan oleh negara, pemikiran Islam yang diajarkan dalam kitab-kitab turats tergambar dalam benak dan terealisasi dalam kehidupan sehingga keberkahan akan menyelimuti seluruh alam,” tutupnya seaya membacakan firman Allah surah Al-A’raf ayat 96,

 وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” [SM/Ah]