Oleh : ustazah Eulis Siti Munaesih
Suaramubalighah.com, Mubalighah Bicara— Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, Media/Hubungan Masyarakat, dan Pengembangan SDM Ismail Cawidu menyatakan bahwa seluruh rangkaian Hari Santri 2025 disiapkan secara terpadu untuk menggambarkan tiga peran utama santri masa kini, yaitu sebagai duta budaya, agen perubahan sosial, dan motor kemandirian ekonomi.
Beberapa program diluncurkan dalam rangka Hari Santri. Pertama, Gerakan Ekoteologi “Satu Santri Satu Pohon” yang akan diikuti jutaan santri secara serentak di 34 provinsi. Program ini menjadi pesan dari pesantren bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman.
Kedua, Gerakan Nasional Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan digelar di ratusan pesantren seluruh Indonesia untuk melayani masyarakat sekitar, terutama anak-anak dan lansia. Adapun kegiatan berskala internasional adalah Musabaqah Tilawatil Kutub, yaitu membaca kitab turats yang diikuti oleh berbagai negara se-Asia Tenggara.
Diadakan pula Expo Kemandirian Pesantren. Ratusan pesantren akan memamerkan produk unggulan hasil inovasi santri, mulai dari produk pangan, kerajinan, hingga teknologi tepat guna.
Pandangan Barat
Namun, mubaligah Ustazah Eulis Siti Murnaesih menyesalkan, pernyataan yang dilontarkan untuk para santri, seperti menjadi duta budaya, duta perubahan sosial, duta moderasi, motor kemajuan ekonomi, dan sebagainya, masih sarat dengan pandangan Barat.
“Kacamatanya adalah kacamata dunia Barat yang saat ini sedang memimpin dunia. Kering dari ajakan memperkuat akidah, memperbagus akhlak, meningkatkan kualitas dan kuantitas ilmu untuk memecahkan berbagai problem kehidupan. Juga kering dari ajakan untuk menjadi juru dakwah yang andal menegakkan agama Allah SWT sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw.,” paparnya kepada MNews, Senin (27-10-2025).
Padahal, urainya, para ulama dahulu memberikan penanaman kepada para santri agar siap memimpin dan menjadi rujukan umat dalam menyelesaikan berbagai persoalan dengan Islam sebagai problem solver. “Karena seperti itulah sosok Rasulullah saw. dahulu di tengah umat,” ucapnya.
Ia menyatakan, dunia Barat memang selalu menawarkan konsep hidup dan kehidupan dengan landasan materi. “Mengapa demikian? Karena cara pandang kehidupan mereka berlandaskan pada sekularisme, yakni melepaskan konteks agama dalam kehidupan di luar ibadah ritual keagamaan,” ungkapnya.
Peradaban Islam
Selain itu, jelasnya, dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia” pada Hari Santri tahun ini, ada harapan besar bahwa santri mampu membangun peradaban dunia. “Dalam referensi umum, istilah peradaban sering digunakan untuk merujuk pada suatu periode dalam sejarah manusia saat mereka telah mencapai tingkat kemajuan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan mereka,” tuturnya.
Peradaban ini, lanjutnya, dibedakan oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizham al-Islam, yaitu peradaban Barat dan peradaban Islam. “Peradaban Islam, asas pembangunnya adalah akidah Islam. Allah SWT adalah segalanya. Kehidupan dunia adalah fana dan sebagai ladang mencari bekal untuk dibawa ke kehidupan kekal kelak di akhirat sebagai pertanggungjawaban di hadapan sang Pencipta,” ujarnya mengutip pandangan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani.
Hal ini, paparnya, sangat berbeda dengan peradaban Barat yang dibangun atas asas sekularisme yang tidak memberi peran kepada Tuhan dalam kehidupan. “Kehidupan dunia bagi mereka adalah meraih kesenangan atau merai materi sebanyak banyaknya. Standar kebahagiaannya adalah mendapatkan materi dan kesenangan semata,” paparnya.
Dengan demikian, ia menyimpulkan, ciri khas yang kental ada di dalam peradaban Islam tidak terasa dalam Hari Santri kali ini.
Sumber: Muslimahnews.net
[SM/Ln]

