Spirit Maulid Nabi ﷺ: Dari Majelis Taklim Menuju Peradaban Islam

  • Opini

Oleh: Mahganipatra

Suara Mubalighah, Opini — “Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan kewajiban mencintai Rasulullah ﷺ. Kecintaan kepada beliau tidak cukup diwujudkan dengan kekaguman, pujian, atau sekadar mengenang sejarah kelahiran beliau. Kecintaan yang benar menuntut ittibā‘, yakni mengikuti petunjuk dan risalah yang beliau bawa.

Kecintaan ini pula yang direfleksikan umat Islam pada setiap bulan Rabiulawal melalui berbagai kegiatan Maulid Nabi ﷺ. Setiap tahun, berbagai komunitas muslim, seperti majelis taklim dan majelis zikir, berbondong-bondong memperingatinya dengan pengajian, shalawat, zikir, santunan, dan tausiyah.

Salah satunya di Ternate, peringatan Maulid diselenggarakan oleh Majelis Zikir Nurul Hikmah bersama BKMT Maluku Utara. Acara tersebut menjadi ruang untuk mengingat perjalanan dan keteladanan Rasulullah ﷺ sebagai pembawa risalah yang mengubah peradaban (Spektroom, 19-8-2026). Hal senada disampaikan dalam Maulid Majelis Taklim An-Nisa Depok. Penceramah mengingatkan bahwa Maulid tidak boleh berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi momentum untuk mengukur sejauh mana umat meneladani Rasulullah ﷺ dalam kehidupan (Depok Pembaharuan, 13-8-2026).

Namun, faktanya, acap kali peringatan Maulid hanya menjadi ajang narasi yang berulang setiap tahun. Mencintai Rasul kerap dipahami sebatas mengenang kemuliaan akhlak beliau dan keteladanan dalam ibadah ritual serta akhlak personal. Akibatnya, peringatan Maulid terkadang hanya diukur dari kemeriahan acara, sementara perubahan pemikiran dan kehidupan umat belum menjadi perhatian utama.

Padahal, setelah mengenal perjuangan dan keteladanan beliau, semestinya muncul pertanyaan mendasar dalam diri setiap muslim: Apa yang berubah dalam cara berpikir dan sikap kita sebagai umat Islam selepas acara Maulid?

Jangan sampai Maulid hanya mampu menghidupkan ingatan kita tentang Rasulullah ﷺ, tetapi tidak mampu membangun kesadaran sebagai umat yang harus meneruskan risalah yang beliau bawa.

Spirit Maulid Nabi: Kewajiban Meneladani Rasulullah dan Realitas Umat Hari Ini

Peringatan Maulid Nabi ﷺ semestinya bukan sekadar manifestasi kecintaan yang bersandar pada kekaguman terhadap kepribadian dan akhlak beliau. Wujud kecintaan tersebut harus melahirkan ittibā‘ secara sungguh-sungguh.

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Āli ‘Imrān: 31)

Karena itu, keteladanan kepada Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada bagaimana beliau beribadah atau berakhlak sebagai pribadi. Rasulullah ﷺ adalah pembawa risalah Islam yang sempurna. Beliau membina umat, membangun kesadaran masyarakat, melakukan interaksi dengan masyarakat, dan memperjuangkan tegaknya kehidupan yang diatur dengan Islam hingga berdirinya Daulah Islam di Madinah.

Inilah spirit Maulid yang perlu dikembalikan. Mengenang Rasulullah ﷺ berarti mengingat risalah yang beliau bawa dan perjuangan beliau dalam mewujudkannya. Beliau tidak hanya mengajarkan ibadah individual, tetapi membawa sistem kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dirinya sendiri, dan sesamanya.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiyā’: 107)

Islam yang dibawa Rasulullah ﷺ merupakan risalah untuk seluruh manusia. Karena itu, tugas umat bukan sekadar menjaga kesalehan pribadi, tetapi juga mengemban risalah Islam agar menjadi rahmat dalam kehidupan masyarakat.

Meneladani Metode Perubahan Rasulullah ﷺ

Mengenal perjuangan Rasulullah ﷺ berarti mengambil pelajaran dari metode beliau dalam membina umat agar tumbuh menjadi muslim yang memiliki keimanan kokoh, kepribadian Islam, serta kepedulian terhadap persoalan umat.

Rasulullah ﷺ membina para sahabat dengan akidah Islam. Dari pembinaan tersebut terbentuk syakhṣiyyah Islāmiyyah yang menjadikan akidah sebagai dasar berpikir dan Islam sebagai standar dalam menentukan sikap.

Pembinaan itu kemudian berkembang menjadi aktivitas dakwah di tengah masyarakat. Rasulullah ﷺ menyerukan pemikiran-pemikiran Islam, menjelaskan kebatilan pemikiran jahiliah, serta membangun kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan perubahan berdasarkan Islam.

Dengan demikian, perjuangan Rasulullah ﷺ memiliki fikrah dan ṭarīqah yang jelas. Perubahan yang beliau perjuangkan bukan sekadar perubahan moral individu, tetapi perubahan masyarakat hingga terwujud kehidupan yang diatur dengan syariat Allah ﷻ.

Karena itu, perjuangan dakwah umat Islam hari ini pun harus bertolak dari teladan aktivitas dakwah Rasulullah ﷺ. Umat perlu dibangkitkan dengan pemikiran Islam, disadarkan terhadap berbagai persoalan kehidupan, serta diarahkan untuk memahami bahwa berbagai kerusakan tidak dapat diselesaikan hanya dengan tambal sulam kebijakan, melainkan membutuhkan perubahan mendasar terhadap sistem kehidupan.

Di sinilah pentingnya membongkar ideologi sekularisme-kapitalisme yang menjadikan agama terpisah dari pengaturan kehidupan. Ketika ekonomi, politik, hukum, pendidikan, dan pengelolaan masyarakat tidak menjadikan wahyu sebagai sumber utama, berbagai persoalan akan terus muncul secara sistemik.

Peran Majelis Taklim Menuju Kebangkitan Umat

Demikianlah, aktivitas dakwah Rasulullah ﷺ merupakan perjuangan untuk menumbuhkan kesadaran umum di tengah masyarakat tentang kerusakan tatanan jahiliah sekaligus menghadirkan Islam sebagai solusi. Hal yang sama harus dilakukan oleh para dai dan mubalighah hari ini.

Mereka harus ittibā‘ kepada perjuangan Rasulullah ﷺ dengan mengambil peran di tengah umat sebagai pembina yang menjaga kejernihan akidah dan pemikiran Islam. Para mubaligah harus bergerak di tengah umat untuk memberikan solusi Islam terhadap berbagai persoalan kehidupan sekaligus membangun kesadaran politik Islam.

Di sinilah urgensi peran majelis taklim (MT), termasuk dalam setiap peringatan Maulid Nabi ﷺ. Momentum Maulid dapat dioptimalkan sebagai ruang pembinaan umat, memperkuat ukhuwah berdasarkan akidah Islam, serta menyampaikan risalah Islam agar menjadi mafāhīm, maqāyīs, dan qanā‘āt dalam kehidupan.

Majelis taklim tidak cukup hanya menjadi tempat berkumpul untuk mendengarkan tausiyah. Ia dapat menjadi ruang pembinaan yang menumbuhkan kesadaran umat terhadap persoalan kehidupan, termasuk persoalan politik, ekonomi, hukum, pendidikan, dan berbagai kebijakan yang memengaruhi kehidupan kaum Muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa pada pagi hari tidak memperhatikan urusan kaum Muslim, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. al-Hakim dan al-Khatib)

Hadis ini menunjukkan pentingnya kepedulian terhadap urusan umat. Dengan demikian, melalui majelis taklim, umat perlu dipahamkan bahwa persoalan kemiskinan, ketimpangan, kerusakan moral, ketidakadilan, maupun berbagai problem sosial bukan sekadar persoalan individu. Semua itu harus dilihat dengan pandangan Islam dan dikaji akar penyebabnya.

Persoalan umat hari ini sangat genting. Kesempitan hidup yang mencengkeram masyarakat tidak cukup dijawab dengan bantuan sosial atau nasihat moral. Ketika sistem sekular-kapitalisme terus menjadi landasan pengaturan kehidupan, berbagai persoalan akan berulang dalam bentuk yang berbeda.

Sekularisme memisahkan aturan agama dari pengaturan kehidupan. Islam akhirnya hanya ditempatkan dalam ruang ibadah dan moral pribadi, sedangkan ekonomi, politik, hukum, dan pengelolaan masyarakat diserahkan kepada aturan yang bersumber dari manusia.

Padahal, Allah ﷻ memerintahkan kaum Muslim untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS. al-Baqarah: 208)

Karena itu, perjuangan majelis taklim tidak boleh berhenti pada pembentukan kesalehan individual. Majelis taklim harus menjadi bagian dari pembinaan umat yang membentuk pola pikir dan pola sikap Islam serta menumbuhkan kesadaran untuk memperjuangkan kehidupan Islam secara kaffah.

Dari Majelis Taklim Menuju Peradaban Islam

Kehadiran MT tidak cukup hanya menyampaikan pengetahuan keislaman. MT harus mampu membangun pandangan hidup masyarakat berdasarkan akidah Islam. Dengan pandangan Islam, umat akan memiliki standar yang benar dalam memahami berbagai persoalan kehidupan.

Tugas MT adalah menanamkan akidah Islam yang sahih secara terus-menerus, membentuk pemikiran Islam, serta menumbuhkan kesadaran bahwa dakwah merupakan kewajiban setiap Muslim. Dari sinilah lahir aktivitas mengajak kepada kebaikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat.

Majelis taklim juga dapat menjadi ruang pembinaan yang menghubungkan kesalehan personal dengan kepedulian terhadap kehidupan umat. Dengan demikian, umat tidak hanya memahami Islam sebagai ajaran ibadah, tetapi sebagai mabda‘ yang memiliki aturan menyeluruh bagi kehidupan.

Perjuangan MT adalah perjuangan membina individu dan masyarakat dengan tujuan yang jelas, yakni melanjutkan kembali kehidupan Islam (isti’nāf al-ḥayāh al-Islāmiyyah) dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah.

Penerapan syariat secara menyeluruh membutuhkan institusi yang mampu menjalankan seluruh hukum Islam dalam kehidupan. Dalam perspektif politik Islam, institusi tersebut adalah Khilafah, sebagaimana pembahasan para ulama mengenai kewajiban adanya kepemimpinan umum bagi kaum Muslim untuk menerapkan hukum-hukum syariat dan mengurus kemaslahatan umat.

Dengan demikian, spirit Maulid tidak berhenti pada perayaan, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran umat terhadap risalah Rasulullah ﷺ. Majelis taklim pun tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, melainkan menjadi bagian dari pembinaan umat menuju kebangkitan Islam.

Dari majelis-majelis taklim itulah diharapkan lahir generasi yang memahami Islam secara utuh, memiliki kepedulian terhadap persoalan umat, berani menyampaikan kebenaran, serta bersungguh-sungguh mengemban dakwah Islam.

Inilah kecintaan kepada Rasulullah ﷺ yang perlu diwujudkan: bukan hanya memperbanyak shalawat dan mengenang perjuangan beliau, tetapi juga mengikuti risalah dan metode dakwah beliau hingga terwujud kehidupan Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb. [SM/Ah]