Oleh: Ai Kholidah
Suara Mubalighah, Muslimah Inspiratif — Ummu Ma’bad Al-Khuza’iyyah merupakan salah seorang shahabiyah yang namanya dikenang dalam perjalanan hijrah Rasulullah ﷺ. Ia tinggal bersama suaminya, Abu Ma’bad, di sebuah tempat persinggahan yang biasa dilewati para musafir.
Ketika itu, kondisi sedang sulit. Musim paceklik membuat persediaan makanan semakin sedikit. Hewan-hewan ternak pun kurus dan tidak banyak menghasilkan susu.
Suatu hari, Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. dan rombongan melewati tempat Ummu Ma’bad. Mereka bermaksud membeli makanan atau minuman untuk bekal perjalanan.
Namun, Ummu Ma’bad tidak memiliki sesuatu yang dapat diberikan. Ia hanya mempunyai seekor kambing yang berada di belakang rombongan ternaknya. Kambing itu kurus dan tidak menghasilkan susu.
Kambing yang Mengeluarkan Susu
Rasulullah ﷺ melihat kambing tersebut. Beliau kemudian bertanya kepada Ummu Ma’bad apakah kambing itu memiliki susu.
“Bagaimana mungkin? Kambing itu kurus dan tidak memiliki susu,” jawab Ummu Ma’bad.
Rasulullah ﷺ kemudian meminta izin untuk memerahnya. Setelah mendapatkan izin, beliau menyebut nama Allah dan memerah kambing tersebut.
Atas izin Allah ﷻ, kambing yang sebelumnya tidak menghasilkan susu tiba-tiba mengeluarkan susu. Rasulullah ﷺ memerahnya hingga memenuhi sebuah wadah.
Beliau kemudian mempersilakan Ummu Ma’bad untuk minum terlebih dahulu. Setelah Ummu Ma’bad merasa kenyang, para sahabat yang bersama beliau pun minum. Rasulullah ﷺ juga minum setelah mereka.
Setelah itu, Rasulullah ﷺ kembali memerah susu kambing tersebut dan meninggalkan susu yang penuh untuk Ummu Ma’bad sebelum melanjutkan perjalanan.
Peristiwa itu tentu membuat Ummu Ma’bad terheran-heran.
Kesaksian Ummu Ma’bad
Tidak lama kemudian, Abu Ma’bad pulang. Ia melihat wadah yang penuh dengan susu. Padahal, ia mengetahui keadaan kambing-kambing mereka yang kurus dan tidak menghasilkan susu.
Abu Ma’bad bertanya kepada istrinya dari mana susu tersebut diperoleh.
Ummu Ma’bad kemudian menceritakan kedatangan seorang laki-laki yang baru saja singgah di tempat mereka.
Ketika diminta menggambarkan laki-laki tersebut, Ummu Ma’bad mengatakan bahwa ia memiliki wajah yang berseri, perawakan yang bagus, tidak terlalu kurus dan tidak pula gemuk. Matanya indah, bulu matanya panjang, suaranya terdengar jelas, dan perkataannya teratur. Ia juga memiliki kewibawaan yang membuat orang-orang di sekelilingnya menghormati dan menaatinya.
Ia kemudian menggambarkan para sahabat yang menyertainya. Mereka selalu siap menjalankan apa yang diperintahkannya.
Mendengar gambaran tersebut, Abu Ma’bad segera mengetahui siapa laki-laki yang baru saja singgah di tempat mereka.
Itulah Muhammad ﷺ.
Pertemuan Ummu Ma’bad dengan Rasulullah ﷺ berlangsung singkat. Namun, pertemuan itu menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Ummu Ma’bad dan suaminya kemudian memeluk Islam. Sejak itu, ia dikenal sebagai perempuan yang tekun beribadah dan memiliki kecintaan kepada Rasulullah ﷺ serta kaum muslimin.
Ia ikut bergembira ketika mendengar kemenangan kaum Muslimin. Sebaliknya, ketika mendengar kabar yang menyedihkan tentang kaum Muslimin, ia pun turut berduka.
Kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ semakin tampak ketika mendengar berita wafatnya beliau. Ummu Ma’bad sangat sedih. Ia kembali mengingat pertemuan singkat di kemahnya, ketika Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar ra. sedang dalam perjalanan hijrah.
Namun, ia tidak larut dalam kesedihan. Ummu Ma’bad tetap bersabar dan menerima ketetapan Allah ﷻ.
Khatimah
Kisah Ummu Ma’bad bukan sekadar kisah tentang seekor kambing yang mengeluarkan susu. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang bagaimana seorang Muslim mengambil bagian dalam perjalanan perjuangan Islam.
Ummu Ma’bad bukan tokoh besar. Ia tidak memiliki pasukan, kekuasaan, atau harta berlimpah. Namun, ketika Rasulullah ﷺ singgah di tempatnya dalam perjalanan hijrah, ia memberikan apa yang dimilikinya.
Tampak sederhana. Namun, dalam perjalanan dakwah, tidak ada kontribusi yang sia-sia ketika diberikan untuk Islam.
Hijrah Rasulullah pun bukan sekadar perpindahan dari Makkah ke Madinah. Hijrah merupakan bagian dari perjalanan dakwah menuju terbentuknya masyarakat yang menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan.
Karena itu, mempelajari sirah tidak cukup hanya untuk menumbuhkan rasa haru atau mengambil pelajaran akhlak secara individual. Sirah semestinya juga membangkitkan kesadaran tentang bagaimana Rasulullah membina umat dan melakukan perubahan di tengah kehidupan masyarakat.
Rasulullah telah mencontohkan bahwa tegaknya aturan Islam dalam kehidupan membutuhkan keterikatan individu kepada syariat, kontrol masyarakat, dan penerapan aturan Islam dalam kehidupan bernegara.
Hari ini, umat Islam pun menghadapi berbagai persoalan yang tidak cukup diselesaikan dengan ketakwaan individual saja. Karena itu, selain mengokohkan ketakwaan diri, kita pun harus mengambil bagian dalam perjuangan dakwah. Mengajak umat berpikir, memahami persoalan di tengah-tengah masyarakat dengan perspektif Islam, dan menyadarkan umat tentang pentingnya penerapan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan.
Di sinilah setiap muslim memiliki peran.
Sebagaimana Ummu Ma’bad memberikan apa yang ia miliki, kita pun dapat mengambil bagian dalam perjuangan dakwah ini. Karena perubahan membutuhkan orang-orang yang bersedia mengambil bagian di dalamnya.
Jangan sampai kita hanya mengenang hijrah Rasulullah sebagai sebuah peristiwa sejarah, tetapi tidak menangkap misi perubahan yang dibawanya.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita bukan sekadar orang yang mengagumi perjalanan Rasulullah, tetapi juga orang-orang yang bersungguh-sungguh mengikuti jejak perjuangan beliau dalam mendakwahkan Islam. [SM/AH]

