Ulama Sejati Tidak Boleh Tertipu dengan Moderasi Beragama

Oleh: Mahganipatra

Suaramubalighah.com, Opini — Dalam acara Istighasah Hari Santri bertajuk “Doa Santri untuk Negeri” di Masjid Istiqlal, Jakarta, Menteri Agama Nasaruddin Umar (di hadapan ribuan santri, kiai, dan pimpinan lintas agama) menyampaikan bahwa pesantren bukan hanya milik umat Islam, melainkan rumah kebangsaan bagi seluruh anak bangsa. Pesantren menjadi laboratorium peradaban publik yang akan melahirkan para santri sebagai bagian dari wajah baru Indonesia yang religius, moderat, dan beradab (Kemenag.go.id, 23-10-2025).

Jika kita perhatikan dengan saksama, posisi pesantren dan santri hari ini telah diarahkan menjadi corong dan agen moderasi beragama. Padahal moderasi beragama sejatinya merupakan proyek global untuk menundukkan ide Islam di bawah hegemoni sekularisme global, agar Islam tidak lagi tampil sebagai kekuatan ideologis yang menyaingi sistem kapitalisme-demokrasi.

Melalui moderasi beragama, rezim sekuler mengklaim bahwa Indonesia akan mampu menciptakan peradaban yang sejajar dengan peradaban global. Namun, benarkah moderasi beragama merupakan peta jalan bagi ulama dan santri untuk mewujudkan harmoni sosial demi peradaban Islam yang mulia dan berdaulat?

Moderasi Beragama Proyek Global Moderasi Islam

Gagasan moderasi beragama bukan lahir dari ruang kosong. Ia merupakan proyek global yang dikembangkan oleh RAND Corporation dan The Brookings Institution di Amerika Serikat. Lembaga ini merupakan salah satu think tank Amerika yang fokus mengembangkan counter-radicalism pasca peristiwa 11 September 2001. Tujuannya jelas, menetralkan potensi politik Islam dan menggeser orientasi umat dari perjuangan menegakkan syariat menuju Islam yang “ramah terhadap sekularisme dan demokrasi liberal”.

Demikian pula program moderasi beragama di Indonesia. Program ini bukan inisiatif lokal, melainkan bagian dari peta jalan geopolitik Amerika Serikat melalui strategi The Global War on Terrorism. Setelah gagal menundukkan dunia Islam dengan kekuatan militer, Barat kini menempuh jalur soft power dengan mengubah wajah Islam dari ide perjuangan menjadi sekadar ajaran moral dan ritual.

Melalui beragam skema dan program pelatihan, riset, serta pendanaan, ide ini disusupkan ke dalam lembaga pendidikan Islam, termasuk pesantren, dalam bentuk kurikulum moderasi beragama. Artinya, melalui kurikulum tersebut, peran pesantren telah digerus dan dimasukkan ke dalam pusaran globalisasi dan sekularisasi yang terus berkembang sesuai arahan program Barat.

Jika ulama lengah, maka pesantren yang semula menjadi benteng akidah umat justru akan berubah menjadi corong propaganda “Islam moderat”, yaitu Islam yang jinak dan merupakan hasil rekayasa sekuler.

Ulama Jangan Tertipu oleh Moderasi Beragama

Ulama tidak boleh tertipu oleh moderasi beragama. Di balik istilahnya yang manis, terkandung racun yang sangat mematikan. Narasi indah moderasi beragama yang penuh perdamaian, yang selalu berbicara tentang toleransi dan wacana kebangsaan, sejatinya bagian dari proyek penjinakan ulama yang bertujuan melakukan deislamisasi pemikiran umat.

Oleh karena itu, ulama harus berani menolak setiap upaya yang menggiring pemikiran umat dan menolak setiap ide turunan dari sistem kapitalisme dan sekuler-liberal yang memaksa agar Islam sesuai dengan arahan Barat. Apalagi jika moderasi dijadikan alat legitimasi kekuasaan untuk menolak penerapan syariat Allah sebagai sistem kehidupan.

Karena itu, tugas ulama hari ini adalah menjadi benteng terakhir umat yang memastikan bahwa setiap kurikulum ataupun program yang masuk ke sistem pendidikan pesantren di negeri ini tetap berporos pada nilai-nilai tauhid dan syariah, bukan nilai-nilai sekuler seperti moderasi beragama, pluralisme, atau relativisme kebenaran.

Bagi umat Islam, agama bukan sekadar keyakinan pribadi, tetapi sistem hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan, dari akidah, ibadah, muamalah, hingga politik dan peradaban. Ketika istilah “moderasi” dipahami secara liberal sebagai usaha menyesuaikan Islam dengan nilai-nilai Barat, di sanalah bahaya terbesar mengintai. Islam tidak butuh dimoderatkan, karena Islam pada hakikatnya sudah wasathan (tengah, adil, seimbang) sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 143.

Allah Swt. berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ

Artinya: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘umat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143).

Peran Ulama sebagai Episentrum Peradaban Islam

Para ulama wajib menjalankan perannya sebagai pewaris para nabi (waratsatul anbiya) yang bertanggung jawab meneguhkan akidah perjuangan dan arah politik umat, sekaligus menjadi maraji’ dan filter ideologis bagi umat agar paradigma berpikir tetap berada pada standar kebenaran Islam. Tugas ulama adalah menundukkan dunia kepada aturan Islam.

Ulama tidak cukup menjadi penjaga nilai moral di tengah kerusakan. Mereka harus menjadi motor perubahan yang menggiring umat untuk menolak sistem kufur kapitalisme dan memperjuangkan tegaknya sistem Islam sebagai solusi total. Diamnya ulama terhadap proyek moderasi beragama sama saja dengan memberikan legitimasi terhadap penjinakan Islam.

Peran ini telah termaktub dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang besar.”

Agar peran ini terealisasi, ulama hari ini harus menjadi episentrum peradaban. Tugas mereka adalah meyakinkan umat bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dan mampu membangun peradaban Islam yang mulia dan berdaulat. Kemudian menjelaskan kedudukan dan makna peradaban tersebut dalam perspektif Islam kaffah, yaitu peradaban yang mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin bagi seluruh alam semesta.

Sistem Islam harus dijadikan peta jalan kehidupan umat manusia, sehingga tegak secara sempurna penerapan seluruh syariat Islam secara kaffah dalam institusi negara Khilafah Islamiyah. Dengan sistem kehidupan ini, tegaklah peradaban Islam yang hanya tunduk kepada Allah, yang adil, dan bermoral.

Sementara dalam perspektif moderasi beragama, yang dimaksud peradaban Islam yang mulia dan berdaulat adalah menciptakan toleransi sosial dan harmoni antaragama dengan menekan seluruh aspek ideologis Islam agar tidak bertentangan dengan sistem global sekuler.

Islam kemudian hanya diposisikan sebagai agama spiritual, bukan sistem politik yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Bahkan solusi Islam dalam politik, hukum, ekonomi, sistem sosial, dan pemerintahan ditolak. Akibatnya, umat Islam kehilangan jati diri dan arah perjuangannya.

Demikian pula ketika ulama meninggalkan aktivitas amar makruf nahi mungkar serta absen dari aktivitas politik untuk menyadarkan umat dari berbagai penyimpangan makna Islam sebagai ideologi, umat Islam akan berada dalam kebingungan ideologis yang membawa pada kehancuran peradaban.

Moderasi Beragama Bukan Jalan Kebangkitan Peradaban Islam

Membangun peradaban global dan menciptakan perdamaian tidak membutuhkan moderasi beragama, karena moderasi beragama berakar dari sistem kapitalisme sekuler. Sistem ini sudah nyata kerusakannya, terbukti baik secara asas maupun empiris-historis. Ia gagal menjamin kehidupan dunia yang adil dan penuh kebaikan.

Sementara sistem Islam, selain memiliki kebenaran karena bersandar pada wahyu Ilahi, juga terbukti secara empiris dan historis berhasil mewujudkan peradaban manusia yang mulia dan berdaulat. Dengan konsepnya yang istimewa, sistem Islam mampu menjamin kehidupan dunia yang tunduk kepada aturan Allah dan penuh kedamaian.

Khatimah

Ulama sejati tidak boleh tertipu oleh manisnya narasi moderasi. Sebab di baliknya terdapat proyek besar yang ingin memisahkan Islam dari kekuatan politiknya. Kini saatnya ulama dan umat kembali menegakkan Islam sebagai ideologi kehidupan, bukan hanya akidah spiritual. Di tangan ulama yang berani, umat akan bangkit. Dan dari pesantren yang bebas dari moderasi akan lahir generasi mujahid peradaban yang memimpin dunia dengan cahaya Islam.

Wallahu a‘lam bish-shawab. [SM/Ah]