DNA Pejuang Muslim: Membangun Spiritualitas Ideologis

  • Opini

Oleh: Idea Suciati

Suara Mubalighah, Opini — Dalam tulisannya yang berjudul “DNA Pejuang: Menagih Spiritualitas, Karakter, dan Tanggung Jawab Kemerdekaan”, KH. Ahmad Jamil, M.A., Ph.D., mengajak pembaca merenungkan makna perjuangan dan tanggung jawab kemerdekaan generasi hari ini.

Menurutnya, DNA historis Indonesia dibentuk oleh daya tahan terhadap penindasan, kemampuan menyerap perbedaan, spiritualitas, tradisi gotong royong, serta kecakapan menghubungkan perlawanan fisik dengan pendidikan dan diplomasi.

Refleksi di atas menarik untuk dikembangkan lebih jauh. Sebab, bagi seorang muslim, perjuangan tidak cukup hanya membutuhkan karakter berani, tangguh, disiplin, atau rela berkorban. Semua karakter tersebut membutuhkan landasan dan arah. Dari mana seorang muslim mengambil landasan perjuangannya? Untuk siapa ia berjuang? Dan perubahan seperti apa yang hendak diwujudkan?

Pejuang Berlandaskan Mabda

Spiritualitas Islam sering dipahami sebagai kedekatan personal seorang hamba kepada Allah Swt. Seseorang yang memiliki spiritualitas tinggi dianggap sebagai orang yang saleh. Hal itu ditandai dengan sifat rajin salat, berzikir, membaca Al-Qur’an, memperbanyak ibadah, dan menjaga akhlak. Namun, spiritualitas Islam tidak berhenti pada kesalehan personal.

Islam adalah agama sekaligus mabda (ideologi) yang memberikan arah pandang hidup dan aturan bagi seluruh aspek kehidupan manusia. Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah, meliputi akidah dan ibadah. Islam juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, seperti akhlak, makanan, dan pakaian. Sekaligus, Islam mengatur hubungan manusia dengan manusia lain dan berbagai urusan kehidupan, mulai dari keluarga, pendidikan, dan ekonomi hingga politik pemerintahan.

Allah Swt. berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah)…” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Karena itu, spiritualitas seorang muslim semestinya membentuk pola pikir dan pola sikap yang bersumber dari akidah Islam serta mengarahkan seluruh aktivitas kehidupan kepada ketaatan kepada Allah Swt.

Inilah yang dimaksud dengan spiritualitas ideologis, yaitu spiritualitas yang tidak berhenti pada kesalehan individual, tetapi menjadikan Islam sebagai landasan dalam memahami dan menjalani seluruh kehidupan.

Dalam konteks perjuangan, karakter seperti keberanian, kedisiplinan, pantang menyerah, dan rela berkorban memang penting. Namun, karakter membutuhkan landasan dan arah yang benar. Seseorang bisa saja memiliki keberanian dan semangat pengorbanan yang besar, tetapi digunakan untuk memperjuangkan sesuatu yang salah.

Dengan demikian, DNA pejuang muslim seyogianya dibangun di atas tiga hal: akidah Islam sebagai landasan, syariat sebagai standar pola pikir dan pola sikap, serta rida Allah Swt. sebagai tujuan perjuangan.

Karena itu, perjuangan seorang muslim tidak semestinya berdiri di atas fanatisme kebangsaan atau ‘aṣabiyyah. Ikatan yang paling mendasar bagi seorang muslim adalah ikatan akidah.

Rasulullah saw. memperingatkan:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada ‘aṣabiyyah.”

Dengan demikian, kecintaan terhadap tanah air tidak boleh berubah menjadi ikatan yang mengalahkan akidah dan persatuan umat Islam.

Memperjuangkan Kemerdekaan Hakiki

DNA pejuang yang diwariskan generasi pendahulu tidak boleh berakhir hanya sebagai klaim kebanggaan sejarah semata, tetapi harus dibuktikan dengan keberanian menghadapi penjajahan yang kini hadir dengan wajah berbeda.

Hari ini, Indonesia memang telah merdeka dari penjajahan fisik. Namun, bentuk dominasi dapat hadir melalui ketergantungan ekonomi, tekanan politik, dan penguasaan sumber daya. Indonesia kini terjerat dalam penjajahan gaya baru, neoimperialisme, melalui ekonomi dan politik.

Di bidang ekonomi, Indonesia masih menghadapi persoalan utang, ketergantungan modal, perdagangan global, serta pengelolaan sumber daya alam. Posisi utang luar negeri Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai US$433,4 miliar (detikFinance, 19-5-2026).

Di sisi lain, persoalan kemiskinan masih menjadi pekerjaan besar. Pada Maret 2026, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 22,93 juta orang atau 8,07 persen dari total penduduk (Kompas.com, 6-8-2026). Kemiskinan di wilayah perdesaan bahkan mencapai 10,67 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesejahteraan masih menjadi pekerjaan besar di tengah kekayaan sumber daya alam yang dimiliki negeri ini. Kekayaan alam yang melimpah belum sepenuhnya mampu menghadirkan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat.

Berbagai persoalan tersebut tidak dapat dilepaskan dari paradigma sekuler-kapitalistik yang menjadikan pemisahan agama dari kehidupan sebagai asas pengaturan.

Karena itu, kemerdekaan hakiki dalam perspektif Islam bukan sekadar terbebas dari penjajahan manusia, tetapi juga terbebas dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah Swt.

Inilah perjuangan yang seharusnya terus dihidupkan oleh generasi muslim hari ini.

Teladan Rasulullah Membentuk Generasi Pejuang

Rasulullah saw. adalah teladan terbaik dalam membentuk generasi pejuang Islam. Beliau membina para sahabat hingga terbentuk syakhṣiyyah Islāmiyyah, dengan menanamkan akidah, membentuk pola pikir dan pola sikap berdasarkan Islam, membangun kesadaran terhadap persoalan umat, serta mengarahkan mereka dalam perjuangan dakwah.

Dari proses pembinaan tersebut lahirlah generasi yang memiliki ketangguhan luar biasa. Mereka berani menentang kekufuran dan menyuarakan yang hak di hadapan kebatilan, walaupun risikonya adalah mengalami penyiksaan, tekanan, dan pemboikotan. Mereka rela mengorbankan harta, meninggalkan kampung halaman, bahkan mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan keimanan dan menyampaikan risalah Islam.

Rasulullah saw. mencontohkan bahwa perjuangan dan dakwah tidak berhenti pada perubahan individu. Beliau membangun kesadaran masyarakat dan melakukan perubahan hingga terwujud kehidupan masyarakat yang diatur dengan Islam.

Maka, DNA pejuang bukan hanya klaim warisan, melainkan sesuatu yang harus dibentuk dengan sungguh-sungguh dan terorganisasi dengan penuh keteguhan, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw..

Rasulullah saw. membina para sahabat secara intensif pada fase awal dakwah, salah satunya melalui pertemuan di rumah al-Arqam bin Abī al-Arqam. Dari proses pembinaan tersebut terbentuk individu-individu yang memiliki kekuatan akidah dan kesadaran terhadap risalah Islam.

Hari ini, pembinaan umat dapat dilakukan melalui berbagai sarana, termasuk di pesantren dan majelis-majelis taklim.

Di sinilah peran mubalighah sangat strategis. Mubalighah bukan sekadar menyampaikan nasihat tentang ibadah dan akhlak, tetapi juga berperan membangun akidah yang kokoh, membentuk syakhṣiyyah Islāmiyyah, dan menumbuhkan kesadaran umat terhadap persoalan yang dihadapi.

Majelis taklim semestinya menjadi ruang pembinaan yang menghubungkan ilmu dengan amal, akidah dengan kehidupan, serta kesalehan personal dengan tanggung jawab terhadap umat. Dengan demikian, spiritualitas personal dapat berkembang menjadi spiritualitas ideologis yang menjadikan Islam sebagai landasan dalam berpikir dan bersikap.

Khatimah

DNA pejuang tidak cukup diwarisi sebagai kebanggaan sejarah. Bagi seorang muslim, DNA tersebut harus dibentuk di atas mabdaʾ Islam, dengan akidah sebagai landasan, syariat sebagai standar, dan keridaan Allah Swt. sebagai tujuan.

Menghidupkan DNA pejuang muslim berarti membangun generasi dengan spiritualitas ideologis: generasi yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi memahami untuk apa ia hidup, untuk apa ia berjuang, dan perubahan seperti apa yang harus diwujudkan berdasarkan Islam.

Rasulullah saw. telah memberikan teladan melalui pembinaan para sahabat, pembentukan syakhṣiyyah Islāmiyyah, pembangunan kesadaran umat, amar makruf nahi mungkar, dan dakwah yang membawa perubahan hingga terwujud kehidupan Islam.

Maka, jika hari ini kita menghidupkan DNA pejuang muslim, jalan yang harus ditempuh adalah membangun generasi dengan akidah Islam dan meneladani metode dakwah Rasulullah saw., yakni dakwah yang tidak berhenti pada pembentukan individu, tetapi juga membangun kesadaran umat terhadap kewajiban menerapkan Islam secara kaffah.

Dalam perspektif politik Islam, penerapan syariat secara menyeluruh membutuhkan institusi yang menjalankannya. Khilafah dipandang sebagai institusi kepemimpinan Islam yang bertugas menerapkan hukum-hukum syariat dan mengemban dakwah Islam.

Dengan demikian, mari kita bersama-sama mewujudkan generasi pejuang muslim yang ideologis untuk menyambut janji Allah Swt. dan bisyārah Rasulullah saw. tentang tegaknya Khilafah Islamiyyah.

Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu….” (QS. Al-Anfal [8]: 24)

Wallāhu aʿlam biṣ-ṣawāb. [SM/Ah]