Islam Kafah Menyelamatkan Santri dari Kerusakan Kapitalisme di Ruang Digital

  • Opini

Oleh: Isnaini Isamsaro

Dunia Santri Community bersama Humas Biro ADPIM Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Halaqah Santri Digital 2025 selama dua hari di Surabaya, Jumat (12/11/2025). Acara ini diikuti ratusan perwakilan pesantren se-Jawa Timur dengan tujuan meningkatkan literasi media dan komunikasi publik di kalangan santri, serta membekali santri dengan kemampuan komunikasi publik yang efektif. Dengan demikian, pesantren di masa mendatang diharapkan dapat lebih optimal dalam menyampaikan pesan-pesan positif kepada masyarakat luas sekaligus menjawab tantangan era digital.

Santri dan Kemajuan Teknologi

Kemajuan teknologi saat ini membuat orang yang berbeda benua dan terpisah jarak yang jauh seolah menjadi tetangga sebelah rumah. Informasi di belahan dunia utara dapat langsung terhubung dan diterima di belahan dunia lainnya. Teknologi adalah milik siapa pun, dapat diambil dari mana pun dan dari siapa pun. Seperti mata uang, teknologi juga memiliki dua sisi, yaitu baik dan buruk. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan, karena di dunia ini tidak ada yang sempurna.

Dunia digital adalah dunia yang terbentuk dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Segala sesuatu dijalankan dan diakses melalui sistem digital berbasis data dan internet, seperti dunia maya atau siber, termasuk di dalamnya media sosial, hiburan digital, aplikasi seluler, hingga teknologi canggih yang mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, berbelanja, dan mendapatkan informasi secara daring (dikutip dari berbagai sumber). Intinya, dunia digital adalah dunia yang dihidupkan oleh internet dan teknologi, yang memungkinkan interaksi, transaksi, serta akses informasi secara virtual, baik menggantikan maupun melengkapi cara-cara konvensional.

Apa yang dimunculkan dalam dunia digital sangat bergantung pada perilaku pengguna. Inilah yang disebut algoritma. Algoritma akan merekomendasikan teman atau konten baru agar pengguna bertahan lebih lama di dalam aplikasi. Riwayat pencarian di Google, misalnya, akan menampilkan hasil yang paling relevan berdasarkan kata kunci yang digunakan.

Kemudahan dan kecanggihan teknologi digital memang menarik dalam banyak hal. Namun, ruang digital bukanlah ruang kosong yang netral. Pemilik platform digital terbesar berasal dari negara-negara Barat yang identik dengan ideologi kapitalisme, yaitu ideologi yang menjadikan manfaat materi sebagai tolok ukur dan meminggirkan nilai-nilai agama. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika konten pornografi, judi daring, dan pinjaman daring ilegal dengan berbagai bentuk dan tampilan mudah muncul di ruang digital dan dapat diakses oleh siapa saja. Dalam kondisi seperti ini, pengguna harus dibekali standar dan pemahaman yang benar agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang merugikan dan membahayakan.

Pengguna dunia digital berasal dari berbagai kalangan dan rentang usia, termasuk santri. Oleh sebab itu, pembekalan santri untuk menjawab tantangan era digital tidak cukup hanya sebatas aspek teknis dan praktis. Di pesantren, santri harus dibekali ideologi Islam yang kafah dan berpegang teguh padanya melalui pembelajaran berbagai kitab turats yang kelak harus disampaikan kepada umat dalam bingkai Islam. Hal ini penting karena santri memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Pembekalan tersebut menjadi keharusan agar potensi santri dan pesantren tidak dibajak oleh ideologi sekuler kapitalisme.

Generasi Muda Harapan Umat

Generasi muda, termasuk santri, adalah calon pemimpin masa depan dan harapan umat untuk kehidupan yang lebih baik. Namun, persoalan yang dihadapi generasi muda saat ini ibarat benang kusut yang sulit diurai. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari solusi, tetapi permasalahan yang muncul justru semakin beragam dan kian di luar nalar.

Perundungan semakin marak dan brutal hingga menyebabkan hilangnya nyawa secara sia-sia. Pergaulan bebas terjadi pada usia yang semakin muda. Banyak generasi muda mudah putus asa dan menyerah dalam menghadapi persoalan hidup hingga memilih jalan pintas berupa bunuh diri. Mirisnya, sebagian besar fenomena tersebut terinspirasi dari apa yang dilihat dan ditonton di ruang digital.

Dalam kondisi demikian, persoalan generasi tidak cukup diselesaikan hanya dengan edukasi digital. Akar masalah sesungguhnya terletak pada pola pandang hidup generasi yang semakin sekuler dan kapitalistik.

Berbagai kemudahan informasi dapat diakses dengan cepat melalui kata kunci pencarian. Namun, apa pun yang disajikan sebagai jawaban akan mengarah pada kepentingan pembuat platform yang berlandaskan ideologi sekuler kapitalisme. Oleh karena itu, generasi membutuhkan sosok guru yang dapat menjadi teman berdiskusi sekaligus mengarahkan mereka kepada apa yang diperintahkan oleh Allah Swt.

Sebagai negeri dengan penduduk mayoritas Muslim, sudah seharusnya umat Islam meneladani Rasulullah Saw. dalam membina generasi, termasuk santri. Rasulullah Saw. membina para sahabat secara intensif di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Para sahabat belajar Islam secara mendalam, mendiskusikannya, lalu mengamalkannya dalam kehidupan. Dengan kata lain, mereka terus belajar dan bergerak.

Pembinaan Rasulullah Saw. berhasil membentuk pola pikir dan pola sikap Islam. Inilah metode pendidikan yang diajarkan Rasulullah Saw., yaitu talqiyan fikriyan muatsiran. Para sahabat menjadikan Islam sebagai standar dalam berpikir dan bersikap. Pembinaan intensif dengan Islam kafah inilah yang melahirkan kader dakwah yang tangguh dan siap berjuang bersama Rasulullah Saw.

Dengan meneladani metode pendidikan Rasulullah Saw., perubahan niscaya akan terjadi. Sudah menjadi keharusan bagi generasi muda, khususnya santri, untuk mampu membentengi diri dari kerusakan di ruang digital. Santri tidak boleh terpalingkan potensinya, apalagi terlena dan larut dalam dunia digital. Seharusnya, berbagai kemudahan teknologi digital dimanfaatkan untuk kemuliaan dan kebangkitan Islam.

Islam Kafah dalam Naungan Khilafah

Ketika generasi muda, termasuk santri, telah dibina dengan metode Rasulullah Saw., muncul pertanyaan berikutnya: apakah pembinaan tersebut cukup untuk menyelesaikan persoalan generasi?

Fakta menunjukkan bahwa tidak sedikit santri yang telah menyelesaikan pendidikan pesantren justru mengalami kebingungan ketika berhadapan langsung dengan umat. Apa yang dipelajari dalam kitab-kitab turats sering kali tidak sejalan dengan realitas yang dihadapi di masyarakat. Misalnya, menutup aurat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, meskipun dengan batasan yang berbeda. Namun, dalam praktiknya, kewajiban tersebut sering dipandang sebagai pilihan. Demikian pula dengan zina yang secara tegas dilarang dalam Al-Qur’an, tetapi justru dilegalkan melalui lokalisasi oleh penguasa. Masih banyak contoh lain yang secara nyata memengaruhi pola pikir dan perilaku generasi muda, termasuk santri.

Oleh karena itu, pembinaan saja tidaklah cukup. Apa yang telah dipelajari harus diamalkan secara menyeluruh. Tidak cukup hanya mempelajari komunikasi efektif untuk menjembatani hubungan antara pesantren dan dunia luar. Santri harus menyampaikan ajaran Islam sebagaimana yang dipahami dari kitab-kitab turats dalam bingkai Islam kafah, sementara realitas di luar pesantren masih diatur oleh sistem sekuler kapitalisme yang menjadikan nilai agama sekadar pilihan.

Di sinilah dibutuhkan sosok pemimpin yang memastikan seluruh aturan Allah Swt. diterapkan dalam kehidupan, termasuk di ruang digital. Pemimpin yang menjaga dan mengawal penerapan syariat Islam secara kafah inilah yang disebut Khalifah. Dan seseorang tidak disebut Khalifah kecuali berada di bawah naungan Khilafah.

Hanya Islam kafah yang mampu menyelamatkan generasi muda, termasuk santri, dari kerusakan sistem kapitalisme di ruang digital. Penerapan Islam kafah harus diperjuangkan, bukan ditunggu, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Ar-Ra‘d ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.