Oleh: Kartinah Taheer
Suaramubalighah.com, Al-Qur’an — Allah Swt. berfirman,
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS At-Taubah: 71)
Terkait dengan ayat ini, Ibnu Jarir ath-Thabari (w. 310 H) dalam Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an atau lebih dikenal dengan Tafsir ath-Thabari menjelaskan,
قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره: وأما “المؤمنون والمؤمنات”، وهم المصدقون بالله ورسوله وآيات كتابه، فإن صفتهم: أن بعضهم أنصارُ بعض وأعوانهم
Abu Ja’far berkata, “Allah berfirman, ‘Adapun orang-orang mukmin dan mukminat, mereka adalah orang-orang yang membenarkan keesaan Allah, kerasulan utusan-Nya, dan ayat-ayat-Nya. Salah satu sifat mereka adalah saling menolong dan menopang.’”
Sedangkan Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menyatakan bahwa setelah Allah Swt. menyebutkan sifat-sifat orang munafik yang tercela pada ayat sebelumnya, lalu hal itu diiringi dengan penyebutan sifat-sifat orang mukmin yang terpuji. Untuk itu, Allah Swt. berfirman:
{بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ}
“Sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain.” (QS At-Taubah: 71)
أَيْ: يَتَنَاصَرُونَ وَيَتَعَاضَدُونَ
Maksudnya, sebagian dari mereka saling membantu dan saling mendukung satu sama lain.
كَمَا جَاءَ فِي الصحيح: “المؤمن للمؤمن كالبنان يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا” وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ
Kemudian disebutkan dalam hadis, “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” Lalu Rasulullah saw. merangkupkan jari-jemari kedua telapak tangannya.
وَفِي الصَّحِيحِ أَيْضًا: “مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ، كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سائر الجسد بالحمى والسهر”
Di dalam hadis sahih yang lain disebutkan pula, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam keakraban dan kasih sayangnya sama seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasakan demam dan tidak dapat tidur.”
Asy-Syaukani (w. 1250 H) dalam kitab Fath al-Qadir menjelaskan makna:
بَعْضُهم أوْلِياءُ بَعْضٍ
“Sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain.” (QS At-Taubah: 71)
أيْ قُلُوبُهم مُتَّحِدَةٌ في التَّوادُدِ، والتَّحابُبِ، والتَّعاطُفِ بِسَبَبِ ما جَمَعَهم مِن أمْرِ الدِّينِ وضَمَّهم مِنَ الإيمانِ بِاللَّهِ، ثُمَّ بَيَّنَ أوْصافَهُمُ الحَمِيدَةَ كَما بَيَّنَ أوْصافَ مَن قَبْلَهم مِنَ المُنافِقِينَ
Hati mereka dipersatukan dalam kasih sayang, cinta, dan kepedulian karena apa yang menyatukan mereka dalam agama dan mempersatukan mereka dalam iman kepada Allah. Kemudian, Dia menjelaskan sifat-sifat terpuji mereka sebagaimana Dia menjelaskan sifat-sifat orang sebelum mereka dari kalangan orang-orang munafik.
Adapun kelanjutan ayat tersebut, Ibnu Katsir menjelaskan:
وَقَوْلُهُ: يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَر
“Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS At-Taubah: 71)
كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
Sama maknanya dengan firman Allah Swt. dalam ayat lain, “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.” (QS Ali Imran: 104)
Adapun firman Allah Swt.:
{وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ}
“Dan mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat.” (QS At-Taubah: 71)
أَيْ: يُطِيعُونَ اللَّهَ وَيُحْسِنُونَ إِلَى خَلْقِهِ
Maksudnya, taat kepada Allah dan berbuat baik kepada makhluk-Nya.
{وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ}
“Dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS At-Taubah: 71)
أَيْ: فِيمَا أَمَرَ، وَتَرْكِ مَا عَنْهُ زَجَرَ
Yakni dalam semua yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya.
{أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ}
“Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah.” (QS At-Taubah: 71)
أَيْ: سَيَرْحَمُ اللَّهُ مَنِ اتَّصَفَ بِهَذِهِ الصِّفَاتِ
Allah akan merahmati orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut.
{إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ}
“Sesungguhnya Allah Mahaperkasa.” (QS At-Taubah: 71)
أَيْ: عَزِيزٌ، مَنْ أَطَاعَهُ أَعَزَّهُ، فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ
Artinya, Dia memuliakan orang yang taat kepada-Nya, karena sesungguhnya kemuliaan itu milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.
{حَكِيمٌ}
“Lagi Mahabijaksana.” (QS At-Taubah: 71)
فِي قِسْمَتِهِ هَذِهِ الصِّفَاتِ لِهَؤُلَاءِ، وَتَخْصِيصِهِ الْمُنَافِقِينَ بِصِفَاتِهِمُ الْمُتَقَدِّمَةِ، فَإِنَّ لَهُ الْحِكْمَةَ فِي جَمِيعِ مَا يَفْعَلُهُ، تَبَارَكَ وَتَعَالَى.
Dalam memberikan sifat-sifat terpuji bagi orang-orang mukmin dan mengkhususkan orang-orang munafik dengan sifat-sifat tercela tersebut, sesungguhnya Allah memiliki hikmah dalam semua yang dilakukan-Nya.
Sedangkan dalam Tafsir ath-Thabari:
{أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ}
“Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah.” (QS At-Taubah: 71)
يقول: هؤلاء الذين هذه صفتهم، الذين سيرحمهم الله، فينقذهم من عذابه، ويدخلهم جنته، لا أهل النفاق والتكذيب بالله ورسوله، الناهون عن المعروف، الآمرون بالمنكر، القابضون أيديهم عن أداء حقّ الله من أموالهم
Ia berkata, “Mereka yang memiliki sifat-sifat ini akan dirahmati Allah. Allah akan menyelamatkan mereka dari azab-Nya dan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. Rahmat itu tidak diberikan kepada orang-orang munafik yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, melarang orang berbuat kebajikan, serta memerintahkan orang berbuat kemungkaran. Bahkan, mereka menahan diri untuk tidak mengeluarkan zakat hartanya kepada yang berhak.”
إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS At-Taubah: 71)
يقول: إن الله ذو عزة في انتقامه ممن انتقم من خلقه على معصيته وكفره به، لا يمنعه من الانتقام منه مانع، ولا ينصره منه ناصر
Sesungguhnya Allah Mahakuasa untuk menyiksa siapa saja yang pantas disiksa dari makhluk-Nya yang bermaksiat serta kafir kepada-Nya. Tidak ada seorang pun yang dapat menghentikan ataupun menolongnya dari azab dan siksa-Nya. Sesungguhnya Dia Mahabijaksana ketika mengazab mereka.
Dari penjelasan para mufasir, ayat ini menegaskan bahwa orang mukmin yang terpuji, baik laki-laki maupun perempuan, adalah pelindung atau penolong satu sama lain (auliya’). Hubungan mereka bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan dalam keimanan dan saling terkait satu sama lain. Persaudaraan mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah satu dari mereka tersakiti, maka yang lain juga akan merasakan hal yang sama. Inilah yang dikehendaki Allah atas umat Islam.
Karena itu, ketika hari ini kita melihat realitas kaum muslim yang terpecah belah dalam nation state, sungguh sangat memilukan. Persoalan Palestina tak kunjung selesai. Mereka tetap terbelenggu dalam penjajahan Zionis, sementara negeri-negeri muslim lain sibuk dengan kepentingan masing-masing. Parahnya lagi, justru bersekutu dengan para penjajah yang berlumuran darah saudara mereka sendiri. Sungguh, sikap mereka tidak mencerminkan seorang mukmin, melainkan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Dalam ayat ini juga dijelaskan bahwa ciri utama mukmin adalah saling menyuruh berbuat makruf (kebaikan dan ketaatan) serta mencegah kemungkaran, menegakkan salat, menunaikan zakat, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan terhadap segala yang diperintahkan dan meninggalkan semua larangan-Nya bersifat totalitas atau secara kaffah. Tidak boleh seorang mukmin memilih sebagian hukum dan meninggalkan hukum yang lain, misalnya hanya mengutamakan persoalan ibadah dan akhlak, sementara hukum-hukum terkait politik, ekonomi, dan sosial justru ditinggalkan. Termasuk kewajiban jihad untuk mengusir penjajah Zionis dari bumi Palestina merupakan bagian dari syariat yang diperintahkan. Sebaliknya, mendukung kezaliman Zionis dan Amerika adalah sesuatu yang dilarang. Namun, begitulah realitas yang kita saksikan hari ini: mendukung kemungkaran dan mencegah kemakrufan. Sungguh bertolak belakang dengan karakter mukmin sebagaimana dijelaskan dalam ayat ini.
Ayat ini juga menegaskan bahwa Allah menjanjikan rahmat-Nya kepada mukmin yang memiliki sifat-sifat tersebut, yakni menjadi penolong bagi yang lain, saling menguatkan dalam kebaikan, beramar makruf nahi mungkar, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara totalitas. Allah menyelamatkan mereka dari azab-Nya dan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. Rahmat itu tidak diberikan kepada orang-orang munafik yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, mendukung kezaliman, dan mencegah kemakrufan. Allah Mahakuasa untuk menimpakan azab kepada siapa saja yang bermaksiat serta mengingkari kebenaran-Nya, dan tidak ada seorang pun yang dapat menghentikan ataupun menolongnya dari azab dan siksa-Nya.
Wallahu a‘lam. [SM/Ah]

