Oleh: Kartinah Taheer
Suara Mubalighah, Al-Qur’an — Al-Qur’an menegaskan bahwa rasa takut yang paling tinggi kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah ulama. Al-khasyyah (الخشية) atau rasa takut yang lahir dari pengetahuan dan pengenalan yang benar terhadap Allah. Allah ﷻ berfirman dalam QS Fāṭir ayat 28,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama”
Ibnu Jarir ath-Thabari (w. 310 H), dalam Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl Āy al-Qur’ān, atau lebih dikenal dengan Tafsir ath-Thabari, menyatakan,
إنما يخاف الله فيتقي عقابه بطاعته العلماء، بقدرته على ما يشاء من شيء، وأنه يفعل ما يريد لأن من علم ذلك أيقن بعقابه على معصيته؛ فخافه ورهبه خشية منه أن يعاقبه.
“Mereka yang takut kepada Allah sehingga menjaga diri dari azab dengan taat kepada-Nya adalah ulama, yaitu orang-orang yang mengetahui kekuasaan Allah atas segala sesuatu dan bahwa Allah bisa melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Itu karena barang siapa mengetahui hal ini, ia meyakini azab-Nya atas maksiat yang dilakukannya sehingga ia takut kepada Allah sekiranya Dia menghukumnya.”
Penegasan ini diperdalam oleh Imam Fakhruddin ar-Rāzī (w. 606 H) dalam Mafātīḥ al-Ghayb, yang menyatakan bahwa kadar khasyyah seseorang sebanding dengan kadar pengenalannya terhadap zat yang ditakuti.
لخَشْيَةُ بِقَدْرِ مَعْرِفَةِ المَخْشِيِّ، والعالِمُ يَعْرِفُ اللَّهَ فَيَخافُهُ ويَرْجُوهُ. وهَذا دَلِيلٌ عَلى أنَّ العالِمَ أعْلى دَرَجَةً مِنَ العابِدِ، لِأنَّ اللَّهَ تَعالى قالَ: ﴿إنَّ أكْرَمَكم عِنْدَ اللَّهِ أتْقاكُمْ﴾ الحُجُراتِ: ١٣
فَبَيَّنَ أنَّ الكَرامَةَ بِقَدْرِ التَّقْوى، والتَّقْوى بِقَدْرِ العِلْمِ.
“Kadar rasa takut seseorang sebanding dengan sejauh mana pengetahuannya tentang zat yang ditakuti. Orang yang alim (ulama) mengenal Allah sehingga ia memiliki rasa takut dan harapan kepada-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa seorang ulama memiliki kedudukan lebih tinggi daripada ahli ibadah, sebab Allah telah berfirman, ‘Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa’ (QS Al-Hujurat: 13). Maka, jelaslah bahwa kemuliaan itu sejalan dengan ketakwaan, dan ketakwaan sejalan dengan ilmu.”
Senada dengan mufasir lain, Ibnu Katsir (w. 774 H), dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm menyatakan,
إِنَّمَا يَخْشَاهُ حَقَّ خَشْيَتِهِ الْعُلَمَاءُ الْعَارِفُونَ بِهِ؛ لِأَنَّهُ كُلَّمَا كَانَتِ الْمَعْرِفَةُ لِلْعَظِيمِ الْقَدِيرِ الْعَلِيمِ الْمَوْصُوفِ بِصِفَاتِ الْكَمَالِ الْمَنْعُوتِ بِالْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى -كُلَّمَا كَانَتِ الْمَعْرِفَةُ بِهِ أَتَمُّ وَالْعِلْمُ بِهِ أَكْمَلَ، كَانَتِ الْخَشْيَةُ لَهُ أَعْظَمَ وَأَكْثَرَ.
“Sesungguhnya, yang benar-benar takut kepada Allah ﷻ dari kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama yang mengetahui tentang Allah ﷻ. Sesungguhnya, makin sempurna pengetahuan seseorang tentang Allah ﷻ Yang Mahabesar, Mahakuasa, Maha Mengetahui, serta menyandang semua sifat sempurna dan memiliki nama-nama yang terbaik, makin sempurna pula ketakutannya kepada Allah ﷻ.”
Dari penjelasan para mufasir di atas maka ayat yang mulia ini menunjukkan sesungguhnya para ulama itu pemilik rasa takut tertinggi kepada Allah. Ketakutan ini dilandasi karena ilmu mereka yakni pengetahuan dan makrifat yang benar terhadap Allah. Memahami kekuasaan dan kebesaran Allah. Pemahaman inilah yang melahirkan rasa takut dan taat. Taat akan segala perintah dan larangan-Nya tanpa memilah-milah dan takut akan murka-Nya.
Karena itu ukuran utama seorang ulama bukanlah seberapa banyak hafalan ayat dan hadis, bukan pula gelar atau popularitasnya, melainkan tingkat kedekatan dan rasa takut (khasyyah) kepada Allah. Makin tinggi ilmunya tentang agama dan keagungan Allah, makin besar pula rasa takutnya kepada Allah.
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: لَيْسَ الْعِلْمُ عَنْ كَثْرَةِ الْحَدِيثِ، وَلَكِنَّ الْعِلْمَ عَنْ كَثْرَةِ الْخَشْيَةِ.
“Dari Ibnu Mas‘ud r.a., bahwa orang yang alim itu bukanlah orang yang banyak hafal hadis, melainkan orang yang banyak takutnya kepada Allah ﷻ.”
Karena itu sungguh aneh jika ada ulama yang menentang hukum Allah, atau menyatakan bahwa aturan Islam sudah tidak cocok lagi diterapkan. Ini menunjukkan bahwa ilmunya tidak membawa khasyyah dan amal. Imam ar-Rāzī memberikan catatan penting bahwa ilmu harus diwujudkan dalam amal.
فالكَرامَةُ بِقَدْرِ العِلْمِ لا بِقَدْرِ العَمَلِ، نَعَمِ العالِمُ إذا تَرَكَ العَمَلَ قَدَحَ ذَلِكَ في عِلْمِهِ، فَإنَّ مَن يَراهُ يَقُولُ: لَوْ عَلِمَ لَعَمِلَ.
“Derajat kemuliaan seseorang sebanding dengan ilmunya, bukan dengan amalnya. Memang benar, jika seseorang yang berilmu meninggalkan amal, hal itu menimbulkan keraguan terhadap ilmu tersebut sebab orang yang melihatnya akan berkata, ‘Seandainya ia benar-benar berilmu, niscaya ia akan beramal atau berbuat.’”
Karena itu, ilmu yang tidak melahirkan ketaatan justru mencederai hakikat ilmu itu sendiri. Ilmu dan amal adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan.
Sufyan ats-Tsauri telah menggolongkan ulama menjadi tiga:
قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنْ أَبِي حَيَّانَ التَّمِيمِيِّ، عَنْ رَجُلٍ قَالَ: كَانَ يُقَالُ: الْعُلَمَاءُ ثَلَاثَةٌ: عَالِمٌ بِاللَّهِ عَالِمٌ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَعَالِمٌ بِاللَّهِ لَيْسَ بِعَالِمٍ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَعَالِمٍ بِأَمْرِ اللَّهِ لَيْسَ بِعَالِمٍ بِاللَّهِ. فَالْعَالِمُ بِاللَّهِ وَبِأَمْرِ اللَّهِ: الَّذِي يَخْشَى اللَّهَ وَيَعْلَمُ الْحُدُودَ وَالْفَرَائِضَ. وَالْعَالِمُ بِاللَّهِ لَيْسَ بِعَالِمٍ بِأَمْرِ اللَّهِ: الَّذِي يَخْشَى اللَّهَ وَلَا يَعْلَمُ الْحُدُودَ وَلَا الْفَرَائِضَ. وَالْعَالِمُ بِأَمْرِ اللَّهِ لَيْسَ بِعَالِمٍ بِاللَّهِ: الَّذِي يَعْلَمُ الْحُدُودَ وَالْفَرَائِضَ، وَلَا يَخْشَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
“Sufyan ats-Tsauri telah meriwayatkan dari Abu Hayyan at-Tamimi, dari seorang lelaki yang mengatakan bahwa ulama itu ada tiga macam, yaitu ulama yang mengetahui tentang Allah ﷻ dan mengetahui tentang perintah Allah ﷻ; ulama yang mengetahui tentang Allah ﷻ, tetapi tidak mengetahui tentang perintah Allah ﷻ; dan ulama yang mengetahui tentang perintah Allah ﷻ, tetapi tidak mengetahui tentang Allah ﷻ. Orang alim (ulama) yang mengetahui tentang Allah ﷻ dan mengetahui tentang perintah Allah ﷻ ialah orang yang takut kepada Allah ﷻ serta mengetahui batasan-batasan dan fardu-fardu yang telah ditetapkan-Nya. Orang alim yang mengetahui tentang Allah ﷻ, tetapi tidak mengetahui tentang perintah Allah ﷻ ialah orang yang takut kepada Allah ﷻ, tetapi tidak mengetahui batasan-batasan dan fardu-fardu yang ditetapkan-Nya. Adapun orang alim yang mengetahui tentang perintah Allah ﷻ, tetapi tidak mengetahui tentang Allah ﷻ adalah orang yang mengetahui batasan-batasan dan fardu-fardu yang ditetapkan-Nya, tetapi tidak takut kepada Allah ﷻ.”
Realitas sejarah menunjukkan bahwa banyak ulama memiliki rasa takut yang begitu besar kepada Allah ﷻ. Di antaranya adalah Abu Sa‘id al-Hasan bin Abil-Hasan Yasar al-Bashri, atau lebih dikenal sebagai Hasan al-Bashri, seorang ulama besar dari kalangan tabiin. Hasan al-Bashri sering menangis karena takut kepada Allah ﷻ dan khawatir amalnya tidak diterima.
Beliau pernah berkata, “Seorang mukmin adalah orang yang selalu merasa takut terhadap dosanya, seakan-akan ia duduk di bawah gunung yang siap menimpanya.”
Sufyan ats-Tsauri adalah seorang ulama besar ahli hadis dari generasi tābi‘ut tābi‘īn. Ketika beliau sedang sakit keras, sahabatnya, Hammad bin Salamah, datang menjenguknya. Sufyan ats-Tsauri menangis dan menyampaikan kekhawatirannya yang mendalam mengenai keselamatan dirinya di akhirat kelak, meskipun sepanjang hidupnya telah dihabiskan untuk beramal saleh.
Ketakutan ulama kepada Allah ﷻ membuat mereka tidak takut kepada manusia, meskipun manusia itu seorang penguasa. Hasan al-Bashri pernah mengirimkan nasihat tegas kepada Ibnu Hubairah, gubernur Irak yang diangkat oleh Khalifah Yazid bin Muawiyah.
Hasan al-Bashri berkata, “Wahai Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah ketika engkau menaati Yazid dan jangan takut kepada Yazid ketika engkau menaati Allah. Ketahuilah, Allah membelamu dari Yazid, dan Yazid tidak mampu membelamu dari siksa Allah. Wahai Ibnu Hubairah, jika engkau menaati Allah, Allah akan memeliharamu dari siksaan Yazid di dunia. Akan tetapi, jika engkau menaati Yazid, ia tidak akan memeliharamu dari siksa Allah di dunia dan akhirat. Ketahuilah, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah, siapa pun orangnya.”
Hasan al-Bashri juga pernah mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dalam surat itu, beliau mengingatkan hakikat dunia, yaitu bahwa dunia adalah tempat persinggahan dan perpindahan, bukan tempat tinggal selama-lamanya. Nasihat ini juga membuat sang khalifah menangis.
Begitulah banyak kisah teladan ulama yang menunjukkan bahwa ilmu mereka melahirkan rasa takut hanya kepada Allah ﷻ dan keberanian untuk melakukan muhasabah terhadap penguasa.
Hari ini, ketika kemaksiatan merajalela karena syariat Allah ﷻ tidak diterapkan dalam kehidupan, ulama seharusnya berada di garda terdepan untuk berjuang menegakkannya. Ulama, termasuk mubalighah, bertugas membina umat dan mengangkat mereka dari kebodohan serta mengajak mereka untuk taat. Ulama, termasuk mubalighah, juga harus berada di barisan terdepan dalam aktivitas amar makruf nahi mungkar dan muhasabah terhadap penguasa. Semua itu dilakukan semata-mata untuk mencari rida Allah ﷻ, bukan demi kepentingan duniawi.
Kehidupan umat ini menjadi terang atau gelap sangat bergantung pada peran ulamanya. Penguasa menjadi rusak atau lurus juga tidak lepas dari tanggung jawab ulama. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin,
فَفَسَادُ الرَّعِيَّةِ بِفَسَادِ المُلُوكِ، وَفَسَادُ المُلُوكِ بِفَسَادِ العُلَمَاءِ، وَفَسَادُ العُلَمَاءِ بِحُبِّ المَالِ وَالجَاهِ
“Sesungguhnya, rusaknya rakyat adalah karena rusaknya para penguasa (raja/pemimpin), rusaknya penguasa adalah karena rusaknya para ulama, dan rusaknya ulama adalah karena kecintaan terhadap harta dan kedudukan.”
Harapan besar disematkan kepada ulama dan mubaligah untuk memberikan pencerahan di tengah kebingungan umat dalam menghadapi berbagai persoalan hari ini, dengan menggambarkan Islam secara kafah serta kewajiban menerapkannya dalam daulah Khilafah ‘alā minhāj an-nubuwwah. Wallāhu a‘lam. [SM/AH]

