Ummu Umarah, Mujahidah yang Melindungi Rasulullah ﷺ dalam Perang Uhud

Penulis: Ai Kholidah

Suara Mubalighah, Muslimah Inspiratif —

Mengenal Ummu Umarah dan Awal Perjalanan Keislamannya

Nusaibah binti Ka’ab al-Anshariyah, yang dikenal dengan nama Ummu Umarah, adalah seorang wanita dari suku Khazraj di Yatsrib (Madinah). Beliau dikenal sebagai sosok yang tegas, kuat, dan cerdas.

Ketika Islam mulai menyebar di Madinah melalui dakwah Mush’ab bin Umair, Ummu Umarah termasuk orang yang menyambut seruan Islam. Sejak memeluk Islam, beliau memiliki keyakinan yang kuat dan berusaha mengabdikan hidupnya untuk membela agama Allah ﷻ.

Mendakwahi Keluarga dan Membentuk Visi Rumah Tangga

Setelah masuk Islam, Ummu Umarah tidak hanya berusaha memperbaiki dirinya, tetapi juga mulai mendakwahi orang-orang terdekatnya, yaitu keluarganya sendiri. Dengan kelembutan, ketegasan, dan memberikan teladan yang baik, beliau mengajak suaminya, Ghaziyah bin Amr, serta kedua putranya, Abdullah dan Habib, untuk memahami dan memperjuangkan Islam.

Beliau menanamkan keyakinan bahwa hidup bukan sekadar menjalani keseharian, tetapi juga menjadi kesempatan untuk berjuang meraih rida Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Dari sinilah keluarganya tumbuh menjadi keluarga yang kuat dalam keimanan dan siap berjuang bersama.

Kesungguhan dakwahnya terlihat dalam peristiwa Baiat Aqabah II. Pada malam itu, Ummu Umarah menjadi salah satu dari dua wanita yang ikut berbaiat kepada Rasulullah ﷺ, bersama Asma binti Amr. Beliau tidak datang sendirian, tetapi bersama suami dan kedua putranya. Mereka menyatakan kesediaan untuk membela Rasulullah ﷺ dan memperjuangkan Islam.

Keahlian Perang Ummu Umarah

Sebagai wanita Anshar yang hidup di Madinah, Ummu Umarah memiliki keberanian dan ketangkasan yang luar biasa. Keberaniannya di medan perang menunjukkan bahwa beliau mampu menggunakan senjata dan melindungi diri ketika menghadapi musuh.

Beliau mampu menggunakan pedang dan perisai dalam pertempuran. Keberanian dan keteguhannya menjadi bekal penting ketika keadaan menuntutnya untuk turun langsung membela Rasulullah ﷺ.

Membela Rasulullah ﷺ dalam Perang Uhud

Keberanian Ummu Umarah terlihat jelas dalam Perang Uhud yang terjadi pada tahun ketiga Hijriah. Awalnya, beliau datang bersama para wanita lainnya untuk membantu pasukan muslimin, membawa air bagi para pejuang dan merawat mereka yang terluka.

Namun, keadaan berubah ketika sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka di bukit. Pasukan Quraisy kemudian melakukan serangan balik hingga barisan kaum muslimin tercerai-berai. Rasulullah ﷺ pun berada dalam keadaan berbahaya bersama sejumlah kecil sahabat.

Melihat keadaan tersebut, Ummu Umarah tidak tinggal diam. Beliau segera meninggalkan tugasnya membawa air dan bergerak menuju tempat Rasulullah ﷺ berada. Saat itu, beliau belum memegang senjata. Rasulullah ﷺ kemudian meminta seorang prajurit yang mundur agar memberikan senjatanya kepada orang yang sedang berjuang membela beliau. Ummu Umarah mengambil senjata tersebut, lalu ikut bertempur melindungi Rasulullah ﷺ bersama suami dan kedua putranya.

Beliau berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menghalau musuh yang mendekat. Dalam pertempuran itu, Ummu Umarah mengalami luka serius akibat sabetan pedang. Namun, luka tersebut tidak membuatnya mundur. Beliau tetap bertahan demi melindungi Rasulullah ﷺ.

Keberanian Ummu Umarah membuat Rasulullah ﷺ memberikan kesaksian atas perjuangannya. Beliau bersabda bahwa setiap kali menoleh ke kanan dan ke kiri pada Perang Uhud, beliau melihat Ummu Umarah sedang berperang membelanya.

Di tengah pertempuran itu, Rasulullah ﷺ juga mendoakan agar Ummu Umarah dan keluarganya menjadi pendamping beliau di surga. Mendengar doa tersebut, Ummu Umarah berkata bahwa dirinya tidak lagi memedulikan apa yang menimpanya di dunia.

Bagi Ummu Umarah, keselamatan Rasulullah ﷺ dan perjuangan Islam jauh lebih penting daripada keselamatan dirinya sendiri.

Ketabahan Menghadapi Syahidnya Sang Putra

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, perjuangan kaum muslimin menghadapi ujian yang berbeda. Pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, muncul gerakan murtad dan nabi palsu, termasuk Musailamah al-Kadzdzab di Yamamah.

Putra Ummu Umarah, Habib bin Zaid, diutus untuk menemui Musailamah. Namun, Habib justru ditangkap dan disiksa karena tetap teguh mempertahankan keimanannya serta menolak mengakui kenabian palsu Musailamah. Hingga akhirnya, Habib gugur sebagai syahid.

Kabar kematian putranya tentu menjadi ujian yang sangat berat bagi Ummu Umarah. Namun, beliau menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa. Beliau menerima takdir Allah ﷻ dan tidak menjadikan kepergian putranya sebagai alasan untuk berhenti berjuang.

Sebaliknya, Ummu Umarah semakin menguatkan tekadnya. Beliau juga menguatkan putranya yang lain, Abdullah, dan bersumpah akan ikut berjuang untuk menumpas Musailamah al-Kadzdzab.

Perang Yamamah

Kesempatan itu akhirnya datang dalam Perang Yamamah. Meski usianya sudah tidak muda lagi dan tubuhnya masih menyimpan bekas luka dari peperangan sebelumnya, Ummu Umarah tidak memilih untuk berdiam diri di rumah. Beliau kembali turun ke medan perang bersama putranya, Abdullah, dalam pasukan muslimin yang dipimpin Khalid bin Walid.

Di medan perang, Ummu Umarah kembali menunjukkan keberanian yang luar biasa. Beliau berjuang di tengah pertempuran sengit dan mengalami sebelas luka baru. Bahkan, tangan kanannya tertebas hingga putus. Namun, semua itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang.

Dalam pertempuran tersebut, putranya, Abdullah bin Zaid, bersama Wahsyi bin Harb, berhasil menewaskan Musailamah al-Kadzdzab. Dengan demikian, perjuangan Ummu Umarah untuk menuntaskan tekadnya dalam menghadapi nabi palsu itu mencapai hasil.

Ummu Umarah kembali ke Madinah dengan tubuh penuh luka dan kehilangan satu tangan. Namun, semua itu menjadi saksi atas besarnya pengorbanan beliau dalam membela Islam.

Pada masa tuanya, beliau tetap dihormati oleh para sahabat. Khalifah Umar bin al-Khattab pun menghargai kedudukan beliau dan memperhatikan kebutuhan hidupnya.

Khatimah

Kisah Ummu Umarah meninggalkan teladan yang sangat berharga. Beliau menunjukkan bahwa dakwah tidak cukup hanya dilakukan melalui ucapan, tetapi juga harus disertai keteladanan dan kesungguhan. Beliau memulai perjuangannya dari keluarga sendiri, mendidik anak-anaknya dengan iman, hingga keluarganya tumbuh menjadi bagian dari perjuangan Islam.

Ummu Umarah mengajarkan kepada kita bahwa keluarga dapat menjadi mitra pertama untuk berdakwah, tempat tumbuhnya generasi yang kuat imannya, teguh pendiriannya, dan siap berkorban demi agama Allah ﷻ.

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa keluarga harus dipersiapkan menjadi mitra dakwah. Karena itu, pengemban dakwah perlu membangun visi dan pemahaman Islam yang sama di dalam keluarga sehingga tumbuh keluarga yang kuat imannya dan memiliki kepedulian terhadap umat.

Generasi penerus dakwah juga perlu disiapkan sejak dini melalui keteladanan dan pembinaan yang berkelanjutan. Anak-anak tidak hanya dibekali pendidikan untuk meraih keberhasilan dunia, tetapi juga ditanamkan kepribadian Islam dan tanggung jawab terhadap umat.

Selain itu, dakwah membutuhkan persiapan yang matang. Pengemban dakwah perlu membekali diri dengan ilmu dan keterampilan serta menyiapkan sarana dan prasarana yang menunjang perjuangan. Dengan demikian, dakwah tidak hanya mengandalkan semangat, tetapi ditopang oleh kesiapan diri, keluarga, dan bekal yang memadai agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

Wallāhu a’lam. [SM/AH]