Keluarga Penting, tetapi Bukan Penopang Utama Kemajuan Bangsa

Oleh: Bunda Nurul Husna

Suaramubalighah.com, Muslimah dan Keluarga _ Negeri ini tampaknya terus berbenah untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Dirjen Bimas Kemenag RI, Abu Rokhmad Musaki dalam satu tulisannya di web resmi Kemenag menyatakan bahwa keluarga menjadi starting point untuk mewujudkan Indonesia emas 2045. Karenanya perlu mengubah paradigma dan reorientasi kebijakan tentang keluarga dan sekaligus menjadikannya sebagai program prioritas. Menurutnya, jika keluarga tumbuh dengan baik, maka lingkungan, masyarakat, bahkan negara juga akan berkembang dan tumbuh dengan baik pula. Sebaliknya jika banyak keluarga mengalami turbulensi, maka bisa dibayangkan nasib lingkungan dan masyarakatnya. Oleh karena keluarga sangat bisa diandalkan sebagai pendorong dan kunci kemajuan bangsa. (Kemenag.go.id).

Di artikel tersebut juga ditegaskan, bahwa yang dimaksud dengan keluarga di sini bukanlah keluarga yang ideal yang samara yang mencerminkan keluarga yang diimpikan. Sebab menurutnya, idealitas itu hampir tidak mungkin ditemukan di dunia ini. Namun yang wujud adalah keluarga tangguh. Meski didera dengan berbagai persoalan, ia tetap utuh dan membesarkan anak-anaknya menjadi orang yang sukses. Bahkan diyakini bahwa kunci penyelesaian problem seperti rendahnya angka pernikahan dan tingginya angka perceraian, isu KDRT dan stunting, ada pada perbaikan kualitas keluarga. Benarkah demikian? Mari kita telaah bersama.

Untuk menyongsong usia emas 2045, pemerintah Indonesia memang telah menetapkan sebuah mimpi besar menjadi bangsa yang maju, berdaulat dan makmur. Seperti yang tertuang dalam Ringkasan Eksekutif Visi Indonesia Emas 2045 yang dirilis Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional dan Bappenas sejak tahun 2019, berisi mimpi Indonesia tahun 2015-2045. Pada bagian sambutannya, Presiden Jokowi menyebutkan, “Indonesia di tahun 2045 bukan hanya harus menjadi negara maju, tapi juga harus menjadi satu dari lima kekuatan ekonomi dunia”, yaitu dengan SDM unggul dan menguasai iptek, serta kesejahteraan rakyat yang jauh lebih baik dan merata melalui pembangunan ekonomi berkelanjutan, Juga ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan yang kuat dan berwibawa.

Negara yang ingin maju dan berpengaruh memang harus punya visi. Karena visi itulah yang akan membuat sebuah negara eksis, bergerak dinamis dan terus melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan visinya secara nyata. Namun visi yang ditetapkan haruslah bertolak dari kondisi yang ada sekarang. Yakni dengan menghitung potensi kekuatan dan kelemahan bangsanya, mencermati tantangan yang ada, memprediksi berbagai hambatan yang harus dihadapi, serta merumuskan langkah-langkah strategis guna mencapai visinya secara nyata. Ini semua demi memastikan visi besar yang ditetapkan tidak hanya sekedar mimpi. Namun apakah tepat memosisikan keluarga sebagai penopang utama kemajuan bangsa?

Peran Strategis Keluarga

Bagi bangsa yang ingin maju sekaligus berpengaruh secara internasional, keluarga adalah salah satu elemen penting yang butuh diperhatikan. Karena realitasnya, keluarga adalah unsur masyarakat terkecil suatu bangsa, namun punya peran strategis. Keluarga adalah madrasah pertama dan utama bagi setiap anak generasi bangsa. Tempat untuk mengenalkan nilai-nilai keimanan, pembiasaan ibadah dan ketaatan pada syariat agama, pembinaan dan pengembangan kecerdasan serta kepribadian, penguasaan tsaqofah dan ilmu pengetahuan, penanaman nilai-nilai kehidupan dan akhlak, pembekalan life skill, dan sebagainya yang sangat berpengaruh pada terwujudnya generasi tangguh calon pemimpin bangsa di masa depan.

Oleh karenanya, keluarga memiliki peran penting dan strategis yang dapat memengaruhi jati diri masyarakat bahkan kemajuan dan eksistensi sebuah bangsa. Dari keluarga berkualitas yang tangguh, bervisi kuat dan benar akan membentuk masyarakat yang mulia, bahkan bangsa yang maju, kuat, mandiri, berpengaruh dan siap memimpin. Maka ketahanan keluarga pun menjadi perkara yang harus diwujudkan, demi menopang kemajuan bangsa.

Bukan Penopang Utama               

Meski demikian, menjadikan keluarga sebagai penopang utama kemajuan bangsa, adalah sebuah paradigma terbalik yang butuh diluruskan. Karena sesungguhnya ketangguhan dan ketahanan keluarga sangat tergantung pada sistem, bahkan supra sistem yang dijalankan oleh negara. Ketika sistem yang melingkupinya baik, maka keluarga akan baik dan seluruh anggota keluarganya pun mampu menjalankan semua perannya dengan baik dan optimal.

Ketika ketangguhan dan ketahanan keluarga dimaknai sebagai kemampuan menghadapi dan mengelola masalah dalam situasi sulit agar fungsi keluarga tetap berjalan harmonis, untuk meraih kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin. Maka dapat dipahami bahwa untuk meraih itu semua, keluarga sangat membutuhkan support system. Karena realitasnya, ketahanan keluarga merupakan cerminan dari sebuah peradaban yang dibangun, berdasarkan sistem ideologi tertentu.

Jika peradaban yang ada dibangun di atas asas sekularisme seperti saat ini, maka wajar jika ketahanan keluarganya rapuh. Karena sekularisme telah mengarahkan keluarga dan masyarakat berpikir dan hidup secara liberal, serta melemahkan fungsi agama (Islam) sebagai pemecah berbagai persoalan hidup (mualajah musykilah). Sehingga kehidupan keluarga pun jauh dari ketaatan, lemah dalam menghadapi persoalan, dan jauh dari kehidupan harmonis yang penuh ketenangan dan kebahagiaan.

Walhasil, dalam masyarakat yang sekuler seperti saat ini, berbagai problem keluarga muncul. Tingginya angka perceraian, maraknya perselingkuhan, KDRT, kekerasan pada anak, anak durhaka bahkan membunuh orang tuanya, abainya orang tua pada pengasuhan dan pendidikan anaknya, serta berbagai akibat lain dari perceraian dan disharmoni keluarga, adalah contoh dari lemahnya ketahanan keluarga yang ada. Meski masyarakat negeri ini mayoritasnya muslim, namun ironisnya Islam kaffah tidak bisa eksis sebagai solusi bagi persoalan hidup mereka. Tergeser oleh sistem hidup liberal yang sekularistik.

Jadi, yang paling menentukan kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat serta kemajuan bangsa, adalah sistem yang diterapkan oleh bangsa tersebut. Keluarga memang penting dan punya peran strategis, namun bukan penopang utama bagi kemajuan bangsa dan negara. Tapi negaralah yang semestinya menempati posisi sebagai penopang utama kemajuan bangsa. Karena sistem aturan kehidupan yang diterapkan oleh negara, akan menjadi penentu bagi kemajuan bangsa serta kesiapannya memimpin dunia.

Maju dan Berpengaruh dengan Islam

Sebagai negeri dengan mayoritas penduduk muslim, dalam penetapan visinya menjadi negara yang maju, berdaulat dan makmur serta menjadi lima besar kekuatan ekonomi dunia di era Indonesia emas 2045, sangat pantas jika negeri ini kembali pada tuntunan Islam dalam bernegara. Karena Islam bukan sekedar akidah ruhiyah semata, namun Islam adalah satu-satunya ideologi yang sahih yang akan mampu membawa bangsa dan umat ini maju. Bahkan mampu membangun peradaban unggul yang cemerlang di masa depan.

Untuk itu, negara harus membangun visinya dengan landasan akidah Islam, sebagai khairu ummah (umat terbaik), untuk menjadi negara adidaya yang berpengaruh dan memimpin dunia, independen dan kuat, maju, berdaulat dan tidak lemah terhadap tekanan asing, makmur, serta dapat mewarnai corak kehidupan dunia yang rahmatan lil alamin.

Sementara di dalam negeri, negara harus benar-benar hadir menjalankan fungsi strategisnya sebagai raa’in dan junnah, menyiapkan generasi, keluarga serta seluruh rakyatnya menuju Indonesia emas 2045. Dengan cara menerapkan sistem Islam kaffah di seluruh aspek kehidupan. Karena menyiapkan bangsa untuk menghadapi tantangan Indonesia emas, tidak cukup dengan menyiapkan SDM yang unggul lewat pendidikan saja, tapi harus ditopang oleh pembenahan sistem-sistem lainnya seperti ekonomi, sosial, kesehatan, media dan penerangan, hukum dan sistem sanksi, sistem pemerintahan, politik dalam dan luar negeri dan sebagainya. Dan semua itu hendaknya ditata secara sempurna dengan panduan syariat Islam kaffah.

Maka saat Ideologi Islam dijadikan asas bagi seluruh sistem hidup masyarakat, akan lahirlah SDM tangguh yang berkepribadian Islam kuat dan bertakwa, taat syariah, pantang menyerah, menguasai ilmu dan teknologi, memiliki skill memadai, pembelajar tangguh, bermental pemimpin dan problem solver, cerdas dan memiliki visi keumatan berbasis ideologi Islam. Dalam kehidupan keluarga pun, mereka mampu menjalankan perannya masing-masing didasari oleh pemahaman benar tentang hak dan kewajibannya. Sehingga terwujudlah keluarga yang tangguh dan harmonis. Masyarakat yang terbentuk pun berjalan dengan interaksi yang baik, bersih, mulia, penuh maslahat, saling tolong-menolong, dan bermuamalah dengan panduan syariat Islam. Ini semua akan terwujud jika ada support system Islam kaffah yang unggul dan istimewa dalam bingkai negara Khilafah.

Oleh karenanya, para mubalighah hendaknya terus mendidik umat dengan Islam kaffah, agar umat makin paham berbagai mekanisme Islam dalam mengatur kehidupan individu rakyat, keluarga, masyarakat dan negara. Mubalighah juga wajib segera mengambil posisi dalam barisan perjuangan Islam bersama jamaah dakwah Islam ideologis, yang secara lantang terus menyuarakan Islam kaffah hingga terwujudnya kembali kehidupan masyarakat Islam yang adil, sejahtera, dan barakah dalam naungan Khilafah. [SM/Ln]