Meluruskan Makna Hadis Kecintaan Rasulullah saw. terhadap Madinah sebagaimana Makkah

  • Hadis

Oleh: Siti Murlina

Suaramubalighah. Telaah Hadis – Allah SWT telah mengistimewakan dan mengaruniakan tanah Madinah dengan berbagai keutamaan dan kelebihan di bumi hingga hari kiamat. Madinah merupakan tanah haram kedua (haramain)  setelah Mekah. Disebut juga Madinatul Munawaroh atau Madinatur Rasul atau Madinatun Nabi.

Madinah juga adalah negeri yang dicintai oleh Rasulullah saw. setelah Mekah. Karena di antaranya, penduduknya telah memberi pertolongan dan tempat bernaung untuk beliau, sehingga beliau mencintai mereka dan mencintai kota ini. Diabadikan doa beliau saw. atas Madinah dan penduduknya, dalam sebuah hadis dari Aisyah ra, beliau bersabda:

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ، كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

Artinya:

Ya Allah, jadikanlah Madinah sebagai kota yang kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah atau bahkan lebih dari itu… (HR Bukhari no. 6372; Muslim no. 1376)

Hadis di atas menjelaskan bahwa mencintai tanah kelahiran, tanah air tempat kita hidup dan menghabiskan sisa usia  merupakan fitrah manusia. Maka hukumnya boleh. Sebagaimana Rasulullah saw. mengungkapkan perasaan beliau dalam bentuk doa. Karena Madinah dan Mekah adalah dua tempat yang sangat spesial dan momental dalam kehidupan beliau. Jadi suatu hal yang wajar.

Di antara hal yang melatarbelakangi cinta Rasul saw. kepada Madinah yang termaktub dalam doa beliau dari hadis di atas antara lain adalah, karena Madinah merupakan tempat tujuan hijrah beliau saw. bersama para sahabat ra. atas perintah Allah SWT  sebagaimana sabda beliau:

رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أُهَاجِرُ مِنْ مَكَّةَ إِلَى أَرْضٍ بِهَا نَخْلٌ فَذَهَبَ وَهَلِي إِلَى أَنَّهَا الْيَمَامَةُ أَوْ هَجَرُ فَإِذَا هِيَ الْمَدِينَةُ يَثْرِبُ

Artinya:

Aku melihat di dalam mimpi bahwa aku berhijrah dari Makkah ke sebuah daerah yang memiliki banyak pohon kurma maka aku menyangka bahwa tempat itu adalah Al-Yamamah atau Hajar ternyata dia adalah Al-Madinah yaitu Yatsrib.(HR Bukhari dan Muslim)

Lalu Rasul Saw beserta para sahabatnya hijrah dari Mekah ke Madinah. Hijrah yang dilakukan kali ini berbeda dengan hijrah yang dilakukan sebelumnya, yakni ke Habasyah. Hijrah dari Mekah ke Madinah merupakan proses perpindahan dari wilayah kufur (darul kufur) ke wilayah Islam (darul Islam) yang didirikan Rasul saw. di Madinah. Dan Madinah menjadi pusat Darul Islam pada saat itu.

Karena Madinah menjadi masa depan satu-satunya. Ketika hampir seluruh kabilah Arab menghindar dan memusuhi  Rasul saw. penduduk Madinah tampil sebagai tuan rumah terbaik untuk tamu teragung. Masyhur dalam sejarah mereka dipersaudarakan oleh Islam, dengan sebutan kaum Anshar. Dan para shahabat  yang pindah dari Mekah dengan sebutan Muhajirin. Suatu sikap yang wajar jika Rasul saw. memohon kepada Allah, karena penduduk Madinah telah memberi pertolongan dan tempat bernaung beliau setelah hijrah dari Mekah.

Allah SWT menyebut  kemuliaan diri mereka dan menjelaskan di dalam Al-Qur’an tentang kedudukan mereka. Allah dan Rasul-Nya rida kepada mereka dan mereka pun rida. Oleh karena itu Madinah, dengan kebaikan serta karunia Allah, menjadi bumi yang paling baik setelah Mekah yang dijaga oleh Allah.

Selain itu Madinah adalah tempat yang aman, damai, baik untuk kehidupan, nyaman untuk ditempati. Ia adalah tempat hijrah dan negeri pemerintahan Rasulullah saw. Dari sanalah cahaya kebenaran memancar dan meliputi dunia hingga ke sudut-sudutnya. Madinah adalah tempat yang dicintai oleh Nabi saw. dan dicintai oleh para sahabat beliau, baik kaum Muhajirin maupun Anshar. Tak lain kecintaan mereka terhadap tempat ini karena dilandasi keimanan dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya semata.

Demikian pula dengan kecintaan Rasul saw. kepada Mekah, karena ia merupakan tanah kelahiran beliau dan tanah yang dicintai oleh Allah SWT. Pada bulan Rabiul Awal, tahun 13 kenabian, Rasul saw. hijrah ke Madinah. Sebelum meninggalkan kota Mekah, Rasul saw. berhenti di Hazwarah lalu berkata:

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلاَ أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

Artinya:

Demi Allah, sesungguhnya kamu (kota Makkah) adalah sebaik-baik tanah Allah, dan tanah yang paling dicintai oleh Allah, seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan keluar (darimu). (HR Tirmidzi no. 3925 dan Ibnu Majah no. 3108)

Jadi kesimpulannya, berdasarkan kandungan beberapa hadis tadi bahwa cinta pada tanah kelahiran dan tempat menetap diperbolehkan, karena sesuai dengan fitrah manusia. Adapun ketika Rasul saw. sangat mencintai Mekah karena merupakan tempat kelahiran beliau dan ada rumah terbaik yakni Ka’bah dan Masjidil haram. Sedangkan Madinah merupakan tempat tujuan hijrah beliau, penduduknya memberikan pertolongan dakwah dan tempat menetap beliau, bukan karena ‘ashabiyyah.

Cinta beliau kepada dua tempat ini (haramain) melebihi tempat lain dibumi adalah suatu hal yang wajar (mahabatuth thabi’i) dan juga disandarkan cinta kepada Allah SWT (mahabbatusy syar’i), sudah mafhum bahwa kecintaan Rasûl saw. mengikuti kecintaan Allâh SWT. Mencintai kedua tempat tersebut (Mekah dan Madinah) memang harus lebih berdasarkan nash karena memiliki keutamaan. Maka mencintai kedua tempat tersebut merupakan bagian dari keimanan, yang juga harus ditanam pada setiap diri muslim sebagaimana Rasul saw.

Namun saat ini, seiring arus sekularisme dan liberalisasi yang sangat masif makna hadis di atas sudah mengalami distorsi dan disorientasi. Pemahaman yang tidak mengacu pada ijtihad dan pemahaman para ulama muktabar. Kaum sekuler nasionalis telah menggiring maknanya pada pada gerakan ‘ashabiyyah dan fanatisme kesukuan.

Kaum kafir penjajah (para kapitalis) demi kepentingannya mengeruk dan mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia, telah menjadikan nasionalisme alat penjajahannya. Atas nama cinta tanah air (dengan dalih hadis di atas) berupaya memecah belah kaum muslimin dengan berbagai cara dan sarana untuk memudahkan penjajahannya.  Mereka tidak rela umat Islam dibawah satu komando kepemimpinan. Mereka berusaha  menanam paham pemecah belah persatuan umat Islam sedunia, yakni nasionalisme, patriotisme dan fanatisme mazhab yang berlebihan dan lain sebagainya.

Di antaranya adalah lewat proyek moderasi beragama, penguatan nasionalisme dan kebangsaan yang terus-menerus mereka gencarkan di seluruh lini kehidupan. Sehingga proyek ini telah melahirkan generasi ‘ashabiyyah yang mementingkan bangsa dan negara sendiri diatas cintanya pada Allah SWT dan Rasulullah saw. (syariat-Nya).

Bukti nyata, sekat nasionalisme telah mematikan rasa persaudaraan dan persatuan sesama muslim, tatkala muslimin di Palestina dijajah, bombardir dan dibunuh oleh Yahudi laknatullah, muslimin yang ada di Mesir Arab Saudi, Yordania dan negara Timur Tengah lainnya merasa tidak berkewajiban untuk membantu muslimin Palestina, dengan alasan masalah internal Palestina, bukan masalah bagi Mesir, Saudi dan negeri-negeri muslim lainnya.

Maka siapa yang menyatakan membela dan mempertahankan negara bangsa yang berbasis demokrasi sekuler yang menaungi seluruh negeri-negeri muslim saat ini, jelas-jelas merupakan bagian dari kemaksiatan nyata dan termasuk perbuatan yang dilarang serta diharamkan dalam Islam. Cukuplah firman Allah SWT menjadi pengingat bagi kita yang berbunyi:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَاَنۡـتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ١٠٢ وَاعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰهِ جَمِيۡعًا وَّلَا تَفَرَّقُوۡا​ وَاذۡكُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰهِ عَلَيۡكُمۡ اِذۡ كُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَ لَّفَ بَيۡنَ قُلُوۡبِكُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِهٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَكُنۡتُمۡ عَلٰى شَفَا حُفۡرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَكُمۡ مِّنۡهَا ​ؕ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمۡ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُوۡنَ‏

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan beragama Islam. Dan berpegangteguhlah kamu semuanya dengan tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (QS Ali Imran (3):102-103)

Rasulullah saw. telah mengharamkan ashabiyah. Sebab persaudaraan dan persatuan umat Islam tanpa batas teritorial, ras, suku, dan bahasa. Abu Hurairah ra. meriwayatkan sebuah hadis dari Rasulullah saw.

مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلَا يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلَا يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ

Barangsiapa keluar dari ketaatan serta memisahkan diri dari jama’ah lalu mati, maka kematiannya adalah kematian secara jahiliyah. Barangsiapa berperang di bawah panji ashabiyah, emosi karena ashabiyah lalu terbunuh, maka mayatnya adalah mayat jahiliyah. Barangsiapa memisahkan diri dari umatku (kaum muslimin) lalu membunuhi mereka, baik yang shalih maupun yang fajir dan tidak menahan tangan mereka terhadap kaum mukminin serta tidak menyempurnakan perjanjian mereka kepada orang lain, maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan golongannya” [Hadits Riwayat Muslim]

Setiap muslim adalah saudara dan disatukan dalam naungan satu kepemimpinan tanpa sekat nation state (negara bangsa) . Pemersatu itu adalah sistem khilafah.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS Al-Hujurat :10)

Wallahu a’lam bishshawab. [SM/Ln]